Fans Liga Primer Inggris yang menyaksikan kemenangan 1-0 Chelsea atas Atletico Madrid pada bulan lalu boleh saja berpendapat tidak ada perubahan berarti di Wanda Metropolitano.
Ketika itu pasukan Diego Simeone bermain seperti yang biasa kita kenal; bertahan total! Mereka lebih senang mematahkan ketimbang menciptakan. Tetapi pada laga itu hasilnya sungguh berbeda: Atleti mengecewakan diri sendiri.
Di sebuah musim di mana tercipta sebuah perombakan sistem gaya bermain klub menjadi lebih progresif dan berdasar pada penguasaan bola, Atleti seharusnya lebih bersemangat di Liga Champions.
Tetapi apa yang terjadi, melawan Chelsea di leg pertama babak 16 besar, mereka malah kembali ke taktik enam pemain sejajar di lini belakang. Ini gaya Cholismo, tetapi tidak dalam penampilan terbaik.
Atletico sekarang bukan yang dulu, bahkan di laga besar sekalipun dan itu telah terbukti. Permainan menekan di semua lini milik Chelsea telah membuyarkan serangan balik Rojiblancos.
Thomas Tuchel jitu dengan mematikan playmaker Joao Felix hingga suplai kepada Luis Suarez terbatas. Atletico langsung terlihat statis, sama sekali tidak meyakinkan. Mereka tumbang.
Jelas Simeone tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Dini hari nanti mungkin dia akan kembali ke sistem baru yang telah mengangkat Atleti ke puncak klasemen LaLiga Spanyol.
Nasib mereka ada di strategi baru seiring ambisi klub menjaga peluang merajai Liga Champions.
Sejumlah pihak mungkin terkejut melihat performa kaku, bertahan dan direct yang disodorkan Atletico pada bulan lalu karena itu adalah pengkhianatan terhadap nilai klub: 2020/21 adalah musimnya bagi tim untuk membuang status underdog, ke sikap yang lebih bersahabat dengan sepakbola modern dan sumber-sumber finansial.
Getty/GoalPembelian Joao Felix pada musim panas 2019 seharga €126 juta seharusnya menjadi simbol perubahan tersebut, tetapi di musim 2019/20, mereka tetap terlihat layaknya Atletico yang kita kenal.
Mereka kesulitan mendorng pemain ke depan atau menguasai bola, dan ketika situasi memburuk, Simeone mencoba hal-hal lainnya.
Setelah satu tahun adaptasi, Atletico mulai memperlihatkan hasil. Simeone berhasil dengan gaya yang lebih menekan, para pemain lebih naik ke depan, penguasaan bola yang cantik di formasi 3-4-1-2.
Bek sayap Kieran Trippier dan Yannick Carrasco adalah komponen krusial dalam memberikan dimensi yang lebih lebar ditambah penetrasi, sementara tiga bek sejajar seperti menghadirkan ketenangan dan keseimbangan saat bola bergulir ke area lawan.
Di sektor gelandang, peran Koke menjadi lebih bebas sehingga bisa menyusun serangan dengan beragam cara, sementara Luis Suarez yang mendapat dukungan total dari Felix dapat bergerak di antara ruang.
Felix dan Thomas Lemar sekarang tampak lebih gemilang, ketimbang terjebak di gaya bermain bertahan. Begitulah sistem dan gaya menyerang yang kali ini menjadi identitas Atleti.
Namun, sejak sanksi 10 pertandingan yang diterima Trippier pada Desember lalu, ditambah cedera Carrasco, Atleti mulai goyah.
Kehilangan dua wing-back benar-benar menampar klub, karena komponen vital formasi 3-4-12 tak lagi tersedia yang menjadikan taktik penguasaan bola tak lagi efektif.
Atleti hanya menang tiga dari sembilan pertandingan terakhir di semua kompetisi, mereka membuang 11 poin dari delapan pertandingan LaLiga terakhir - ini hampir dua kali lipat dari jumlah total poin yang hilang di paruh pertama kompetisi.
Sistem yang dikembangkan Simeone menjadi rapuh.
Getty/GoalKembali ke sistem 4-1-4-1 ditambah beragam rotasi di posisi bek kanan, musim Atletico mulai membaik saat menjamu Chelsea.
Pada situasi itu juga keputusan Simeone untuk kembali ke taktik lama di leg pertama menjadi lebih mudah untuk dipahami. Namun jelas, leg kedua ceritanya akan berbeda.
Tripppier dan Carrasco telah kembali ke tim dan pastinya Simeone bakal tergoda untuk memasang lagi formasi 3-4-1-2 demi memburu performa impresif seperti di paruh pertama musim.
Sejak kalah dari Chelsea, Atleti menang di dua pertandingan dengan sistem 3-4-1-2 dan gagal menang di dua laga lainnya dengan skema 4-1-4-1.
Simeone sekarang menyadari pentingnya formasi 3-4-1-2 di laga lawan Chelsea. Trippier dan Carrasco bakal terbang di sayap, ditambah ketajaman lini depan. Atletico membidik lolos di Stamford Bridge.
Di luar hasil yang ditentukan oleh pilihan, ditambah fakta jika strategi konservatif Rojiblancos mampu didinginkan the Blues di leg pertama, maka menjadi masuk akal jika Simeone harus mengeluarkan senjata terbarunya dini hari nanti.
Lima tahun sudah berlalu semenjak laga terakhir Atleti di final, ada keyakinan jika Cholismo Simeone tidak akan sanggup merajai Liga Champions.
Jadi sangat penting bagi klub untuk mempertahankan gaya bermain yang jauh dari identitas mereka selama ini. Atleti harus keluar dari bayang-bayang Real Madrid dan mengukuhkan diri sebagai salah satu pasukan elit di Eropa dengan Simeone sebagai komandan.
Kebanyakan tim super Eropa keteteran di tengah-tengah pandemi Covid-19, tetapi Atleti justru mampu bangkit dengan perubahan taktik sehingga sekarang berstatus sebagai kandidat terkuat merajai LaLiga.
Sekarang momen Atleti membuktikan diri. Sekarang waktu tepat bagi Atleti dan Simeone untuk mengatakan, Atleti sudah berubah.




