Kegagalan Terbesar Abad Ini! Barcelona Permalukan Diri Sendiri Di Anfield

Komentar()
Getty
Barcelona secara luar biasa membuang keuntungan tiga gol dan harus menderita salah satu kekalahan terburuk dalam sejarah klub.


OLEH    RIK SHARMA   ALIH BAHASA  M. RHEZA PRADITA

Barcelona kembali melakukannya, sesuatu yang dianggap mustahil yaitu membuang keunggulan besar di leg pertama semi-final Liga Champions. Namun kali ini lebih buruk dari kekalahan melawan AS Roma tahun lalu.

Ketika datang ke Anfield, Barca sadar bahwa mereka tinggal selangkah lagi menuju final. Akan tetapi Blaugrana mengubah kemenangan 3-0 di Camp Nou menjadi debu, dan dengan begitu saja membiarkan Liverpool melenggang ke final.

Gol pamungkas The Reds dalam kemenangan 4-0 mereka, sudah cukup untuk merangkum kegagalan total Barcelona malam itu. Semua pemain Barca tidur lelap ketika Divock Origi dan Trent Alexander-Arnold dengan sederhana mencuri gol lewat sepak pojok.

Meski begitu, ini merupakan kekalahan kolektif dari seluruh punggawa Azulgrana, termasuk sang pelatih Ernesto Valverde. Pria kelahiran Viandar de la Vera tersebut tidak mampu berbuat banyak untuk meladeni strategi Jurgen Klopp.

Liverpool mengawali laga dengan meyakinkan, ketika Origi berhasil memanfaatkan kesalahan Jordi Alba untuk mencetak gol dari jarak dekat. Tetapi setelah itu Barca tampak mampu melewati badai serangan Liverpool dengan baik. Tekanan dan energi luar biasa Liverpool dalam setengah jam pertama hanya menghasilkan satu gol, dan tim asal Catalan tersebut mulai melawan balik.

Xherdan Shaqiri, Divock Origi, Liverpool

Georginio Wijnaldum Trent Alexander-Arnold Liverpool Barcelona Champions League

Barca mendapat peluang lewat Lionel Messi dan Philippe Coutinho, dan mereka mulai terlihat lebih percaya diri.  Babak pertama berakhir 1-0, dan Barca masih yakin mereka akan lolos ke final.

Yang harus mereka lakukan hanya keluar dari tekanan, karena Liverpool akan kembali tampil segar setelah 15 menit istirahat. Satu gol tandang sudah cukup untuk melakukannya, untuk menyegel tiket ke tanah yang dijanjikan, final di Madrid pada 1 Juni mendatang.

Memenangi Liga Champions di ibu kota Spanyol dan merebut gelar dari tangan Real Madrid, usai tiga tahun dominasi Los Blancos, akan menjadi akhir impian sekaligus treble ketiga bagi Barcelona.

Tetapi dua gol Georginio Wijnaldum dalam waktu kurang dari tiga menit, mengempaskan Barca kembali ke bumi. Membiarkan pertandingan mencapai posisi seperti ini sudah cukup memalukan bagi sang juara La Liga, yang telah bersumpah untuk membalas kekalahan dari Roma tahun lalu dengan berhati-hati menghindari kesalahan yang sama.

Tahun lalu mereka menang 4-1 di Camp Nou, tapi kemudian kekalahan 3-0 di Olimpico mengubur harapan untuk meraih gelar ganda.

Sama seperti tahun lalu, kali ini tidak ada yang berjalan sesuai dengan keinginan Messi.

Suarez Liverpool Barcelona

Kehadiran sang megabintang Argentina biasanya sangat menentukan, namun kali ini dia seolah ditelan oleh intensitas dan semangat juang tinggi dari Liverpool. Didorong oleh kerumunan Anfield yang menggema, skuat asuhan Jurgen Klopp tidak memberi ruang bagi Messi untuk bernapas, apalagi bergerak.

Usai imbang secara agregat, Valverde memasukkan Arthur untuk mencoba merebut kembali kendali pertandingan. Jika saja dia dimainkan lebih awal mungkin semuanya tidak akan seperti ini, sebelum Barca kehilangan keunggulan besar mereka.

Namun setelah itu pertahanan Barca justru melakukan kesalahan terburuk malam itu, sepenuhnya tidak berdaya dan kebobolan dari sepak pojok sederhana yang bahkan akan sangat memalukan jika terjadi di divisi kedua, apalagi semi-final Liga Champions.

Setelah gol keempat masuk, semua pemain tertegun, ini merupakan pengalaman yang sangat traumatis. Barcelonismo, klub dan segala di sekitarnya, terasa persis sama. Tanpa Mohamed Salah dan Roberto Firmino sepertinya tidak ada harapan bagi Liverpool, tapi entah bagaimana mereka berhasil unggul.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

“Mereka lebih baik daripada kami,” ujar Sergio Busquets yang sakit hati, kehilangan kata-kata. Dan tampaknya rasa malu itu akan mengikuti mereka di hari-hari, minggu, bulan, dan tahun yang akan datang. Rasa malu karena menjadi bagian dari salah satu momen paling gelap dalam sejarah klub. Sungguh kegagalan terbesar abad ini.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Goal Indonesia (@goalcomindonesia) on

 

ARTIKEL TOP PEKAN INI
1. Jamu Barcelona, Liverpool Tanpa Mohamed Salah?
2. Solskjaer Nilai Man United Memang Tidak Layak Ke Liga Champions
3. Jurgen Klopp: Gol Divock Origi Seperti Kisah Dongeng!
4. Rekor Pertahanan Terburuk Arsenal Dalam 35 Tahun
5. Stefano Cugurra Puji Kiper Persija Jakarta
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia

 

GFXID Banner Liga Champions 2018/19

Tutup