Pep Guardiola mempertahankan kebijakan rotasi pemain di tengah upaya Manchester City untuk memenangkan quadruple, sembari mengatakan bahwa "UEFA dan FIFA membunuh para pemain" dengan pilihan jadwal mereka.
Guardiola melakukan enam perubahan pada starting XI-nya ketika The Citizens kian mendekati gelar Liga Primer Inggris dengan mengalahkan Leicester City 2-0 di King Power Stadium, Sabtu (3/4).
Jelang leg pertama perempat-final Liga Champions lawan Borussia Dortmund, Rabu (7/4) dini hari WIB, pelatih asal Spanyol itu bersikeras dengan kebijakan rotasinya karena para pemain tidak bisa diharapkan memainkan tiga pertandingan dalam sepekan tanpa istirahat yang layak.
"Mereka adalah manusia, mereka bukan mesin," ujar Guardiola kepada wartawan.
"Saya tahu para pemain, beberapa dari mereka kesal sepanjang waktu karena mereka ingin bermain setiap hari, tapi ini tidak mungkin."
"Untuk bermain di semua kompetisi pada tahun ini tanpa penonton, dalam kompetisi terpendek yang pernah ada, (jika) Anda tidak merotasi, Anda tidak bersaing di semua kompetisi dan Anda tidak akan berada di posisi kami sekarang."
"Tentu saja, mereka bisa bermain. Mereka memiliki mentalitas yang luar biasa, tapi mereka butuh istirahat. UEFA dan FIFA membunuh para pemain karena itu terlalu banyak. Kami belum pernah libur satu kali pun sejak kami memulai [kompetisi], tidak satu pun."
"Tidak ada pemain yang bisa mempertahankan (ini), tidak hanya secara fisik tapi secara mental siap setiap hari bersaing dengan lawan untuk memenangkan pertandingan. Itu tidak mungkin."
"Saya merotasi, saya jenius, 'bagus Pep' tapi ketika kami kalah dan saya merotasi orang-orang berkata 'mengapa merotasi? Anda harus memainkan para pemain seperti biasa'. Tapi, itu tidak berkelanjutan."
"Di pertandingan berikutnya, kami akan memainkan pertandingan baru dan lawan Leeds [United], lebih dari sebelumnya, pertandingan yang segar."


