Andrea Pirlo Andrea Agnelli JuventusGetty

Karier Pelik Andrea Pirlo: Bijak Turun Kasta Ke U-23 Daripada Ke Liga Primer Inggris!

Siapa yang tidak tahu kejahatan Juventus? Si Nyonya Besar mencoreng kehormatannya sendiri dengan terbukti bersalah dalam kasus Calciopoli, membuat mereka mesti menanggung malu dihukum degradasi ke Serie B 2006/2007 dan kehilangan gelar Serie A 2004/2005.

Meski langsung kembali ke kasta tertinggi, Juve yang dulu tidak seperti yang kita tahu sekarang. Hingga musim 2010/2011, mereka harus gigit jari melihat musuh bebuyutannya dari kota Milan, Internazionale dan AC Milan, meraih titel Raja Italia, bahkan menyaksikan Inter meraih cawan suci treble bersama Jose Mourinho di 2009/2010.

Barulah saat musim 2011/2012, Serie A kembali ke kota Turin. Antonio Conte menjadi pionir yang berhasil mengembalikan martabat Bianconeri di jajaran klub elite Italia, ia bertanggung jawab membangun pondasi tirani Juve di Italia.

Namun, ini bukan kisah tentang pria kharismatik itu. Ini kisah tentang seorang pria kharismatik yang lain, yang dikenal dengan gaya bermain yang megah.

Adalah Andrea Pirlo, mantan gelandang yang dengan penuh elegansi menjangkari dinasti Juventus agar tak terbendung di Italia. Pirlo menjadi pilar penting skuad Conte untuk meraih titel di musim 2011/2012. Sepanjang masa baktinya bersama Juve, ia membangun reputasi sebagai deep-lying playmaker yang berumur layaknya anggur mahal: makin tua makin jadi.

Andrea Pirlo Cristiano RonaldoGetty

Ia menetap di Juve hingga 2015, meraih empat gelar Serie A, dan membuka jalan bagi dinasti Bianconeri. Bagaimana tidak, Juve telah memenangkan semua gelar liga sejak 2011/2012 hingga musim lalu, sembilan kali beruntun! Sebuah rekor yang kini disamai oleh Bayern Munich di Jerman.

Memang kisah yang ironis. Bersama Pirlo Juve meroket, bersama Pirlo juga dinasti Juventus runtuh. Lebih pedihnya lagi, Conte, pria yang turut bertanggung jawab melanggengkan tirani Bianconeri, menjadi algojo pemenggal kedigdayaan Juve. Menukangi Inter, Conte merenggut Serie A dari tangan Pirlo dan Juve musim ini.

Tak hanya kehilangan gelar juara, di bawah asuhan Pirlo, Juve tidak bisa melewati Porto di perdelapan-final Liga Champions. Terparah, mereka terancam tidak lolos ke Liga Champions musim depan. 

Itu semua terjadi sementara mereka memiliki mantan pemain termahal di dunia, Cristiano Ronaldo, di skuadnya dan pemain-pemain hebat lainnya seperti Paulo Dybala dan Matthijs De Ligt. Jika bukan runtuh, maka entah apalagi kata yang cocok disematkan kepada Juve musim ini.

Gagal mempertahankan titel Serie A dan memanfaatkan Ronaldo dengan baik, ancaman kapak pemecatan tentu tidak terhindarkan bagi Pirlo. Namun, kabar beredar bahwa Pirlo bisa saja tidak diberhentikan dengan tidak hormat. Alih-alih, ia bisa saja 'hanya' ditendang untuk kembali melatih tim U-23 Juve musim depan. 

Sebagai catatan, Pirlo telah menukangi Juventus U-23 terlebih dahulu sebelum ia ditunjuk sebagai pengganti Maurizio Sarri. Jadi tindakan ini memang hanya sebentuk penurunan pangkat. Mengingat bagaimana Bianconeri memecat Sarri yang bisa mempersembahkan gelar Serie A ke-36, rasa-rasanya Pirlo harus bersyukur.

Kabar penurunan pangkat ini mungkin saja diperkuat setelah Pirlo berhasil mengantarkan Juve memenangkan laga krusial kontra Inter 3-2 Sabtu (15/5) tadi. Kemenangan itu menjaga asa Si Nyonya Besar untuk tetap bergabung di kompetisi Eropa nomor wahid, sehingga kian mereduksi ancaman pemecatan bagi Pirlo dan hanya akan turun kasta.

Di tengah ketidakjelasan nasibnya, Pirlo justru dikabarkan "tertarik" mencicipi kerasnya kompetisi di Liga Primer Inggris.

Crystal Palace celebrating Christian Benteke 2020-21Getty Images

Huru-hara pergantian pelatih di Liga Primer menarik diikuti musim panas ini, lantaran kursi kepelatihan Tottenham Hotspur masih kosong setelah mereka menendang Jose Mourinho. Roy Hodgson juga dikabarkan akan meninggalkan jabatannya sebagai pelatih Crystal Palace, membuka kesempatan bagi Pirlo untuk melatih tim yang tidak terlalu menuntut, hitung-hitung membangun pengalaman dan curriculum vitae.

Ke mana Pirlo akhirnya akan berlabuh bakal terjawab di akhir musim nanti. Ia masih punya kesempatan memenangkan Piala Italia melawan Atalanta di final 20 Mei besok untuk mungkin menebus dosanya. Namun entah apakah seongok trofi domestik cukup meyakinkan bagi dewan direksi Juve, apalagi jika mereka benar-benar gagal berpartisipasi di Liga Champions musim depan.

Pilihannya mulai terlihat di depan mata, turun pangkat jadi pelatih tim junior, atau melatih tim senior semenjana di Liga Primer. Maka kini tanya harus dilayangkan kepada Andrea, quo vadis, Pirlo?

Iklan
0