Juventus memastikan akan melayangkan banding menyusul hukuman pengurangan 15 poin yang dijatuhi Jaksa Federasi Sepak Bola Italia (FIGC).
Juve disanksi pengurangan 15 poin setelah didakwa menggelembungkan nilai transfer dan memalsukan laporan keuangan pada periode pandemi.
Selain hukuman pengurangan poin, direktur klub Federico Cherubini turut disanksi larangan aktif di lingkungan FIGC selama 16 bulan.
"Juventus Football Club menginformasikan bahwa Pengadilan Banding Federal, dengan mempertimbangkan banding untuk pencabutan berdasarkan Pasal 63 Kode Keadilan Olahraga yang diajukan oleh Kantor Kejaksaan Federal, menyatakan banding untuk pencabutan dapat diterima, dan dengan demikian mencabut keputusan Pengadilan Banding Federal, Bagian Terpadu, No. 0089/CFA2021-2022 tanggal 27 Mei 2022 dan, sebagai hasilnya, memerintahkan pengurangan 15 poin di klasemen untuk Juventus pada musim ini dan larangan sementara bagi Direktur Olahraga, Federico Cherubini, untuk melakukan aktivitas dalam lingkup FIGC selama 16 bulan, dengan permintaan perpanjangan ke ranah UEFA dan FIFA," begitu bunyi pernyataan Juventus.
"Berdasarkan keputusan yang dicabut, Pengadilan Banding Federal telah menolak banding yang diajukan oleh Kantor Kejaksaan Federal terhadap keputusan Pengadilan Federal Nasional, yang hasilnya, telah membebaskan Juventus dan pihak lain yang didakwa, karena tidak adanya pelanggaran disiplin sehubungan dengan evaluasi transfer pemain pada laporan keuangan dan laporan keuntungan modal."
"Klub menunggu publikasi alasan keputusan tersebut dan saat ini mengumumkan pengajuan banding ke Collegio di Garanzia dello Sport sesuai dengan ketentuan Kode Peradilan Olahraga," begitu selanjutnya.
Sebelumnya, beberapa investigasi digencarkan untuk menyelidiki Juventus.
Sekitar dua tahun lalu, COVISOC, badan pengawas untuk Serie A, membuka investigasi terhadap "lusinan" kesepakatan yang melibatkan nilai transfer pemain.
Temuan tersebut diteruskan kepada Jaksa Penuntut Umum Turin, yang lantas membuka penyelidikan kriminal pada Mei 2021 dengan nama 'Investigasi Prisma'.
Menurut investigasi tersebut, sebanyak 14.000 halaman dokumen hasil penyadapan dan dokumen elektronik berisikan bukti beberapa kasus pemalsuan laporan tahun finansial 2018/19 sampai 2020/21. Dipalsukan lewat keuntungan modal fiktif dari transfer dan peminjaman pemain serta penghematan fiktif hasil pemotongan gaji pemain.
Juventus dan 12 pejabat tertinggi mereka, termasuk bekas direktur sepakbola Fabio Paratici (kini di Tottenham) dan penasehat hukum Cesare Gabasio, telah didakwa. Mereka semua dituduh melakukan semua atau sebagian dari empat dakwaan berikut: manipulasi pasar, faktur palsu, pemalsuan pengungkapan perusahaan, serta mencegah otoritas pengawas melakukan tugasnya.


