Berita Live Scores
Juventus

Mungkinkah Juventus Terdegradasi Lagi Karena Kasus Laporan Keuangan Palsu?

17.43 WIB 06/12/21
Agnelli Nedved Juventus
Pihak berwenang Italia sedang menyelidiki potensi penyimpangan keuangan terkait dengan 62 transfer, 42 di antaranya melibatkan Bianconeri.

Kemenangan sepekan terakhir atas Salernitana dan Genoa mungkin memberikan angin segar bagi Juventus, meski cuma di atas lapangan.

Di luar lapangan, Bianconeri tetap masih dalam belenggu negatif, karena tengah diselidiki atas dugaan laporan keuangan palsu, yang kini menjadi kisah kontroversi besar lainnya di sepakbola Italia setelah Calciopoli.

Kembali pada 2006 silam, Juventus terdegradasi ke Serie B dan kehilangan dua Scudetto Serie A mereka karena terlibat dalam skandal wasit yang juga mengakibatkan denda dan pengurangan poin untuk AC Milan, Fiorentina, Lazio dan Reggina.

Kali ini, fokusnya adalah pada keuangan, dan plusvalenza (capital gain) secara khusus.

Jadi, apa sebenarnya potensi hukuman yang bisa diterima mereka? Mungkinkah Juve terdegradasi lagi ke kasta kedua? Dan, apa keterlibatan Cristiano Ronaldo dalam kasus ini?

GOAL menjelaskan semuanya di bawah, merinci semua yang kita ketahui sejauh ini, serta menguraikan apa yang mungkin terjadi selanjutnya...

Apa itu plusvalenza?

Dalam sepakbola, plusvalenza (capital gain) pada dasarnya adalah keuntungan yang diperoleh dari sebuah transfer.

Katakanlah, misalnya, Juventus merekrut pemain seharga €100 juta dengan kontrak lima tahun. Mereka akan mengamortisasi biaya hak pendaftaran pemain selama masa kontraknya, kemungkinan besar menyebarkan pembayaran secara merata selama lima tahun. Singkatnya, nilai amortisasi pemain adalah €20 juta per tahun (€100 juta dibagi lima).

Jadi, jika Juve kemudian menjual pemain itu setelah tiga tahun seharga €60 juta, mereka akan memperoleh keuntungan modal sebesar €20 juta atas hak pendaftarannya (€60 juta dikurangi sisa €40 juta dalam nilai amortisasi).

Mengapa capital gain penting dalam sepakbola?

Karena mereka menghitung langsung keuntungan tahunan klub, dan sekarang itu lebih penting daripada sebelumnya karena adanya regulasi Financial Fair Play (FFP) yang diterapkan lebih dari satu dekade lalu.

Seperti yang kita semua tahu, neraca klub berada di bawah pengawasan ketat akhir-akhir ini, dan mereka yang terbukti melanggar aturan dapat menghadapi hukuman berat.

Tekanan, kemudian, sangat banyak dialami oleh klub untuk menyeimbangkan pembukuan finansial mereka setiap tahunnya.

Beberapa klub dilaporkan terpaksa menggelembungkan nilai aset agar terlihat mendapat untung dari transfer tertentu.

Hal ini sering dilakukan dalam transfer para pemain muda. Para pemain akademi dihitung sebagai pemain lokal, mereka biasanya datang secara gratis, artinya jika mereka dijual, nilai penjualan mereka adalah keuntungan murni bagi klub.

Karena harga para pemain akademi yang kurang punya nama tidak terlalu tinggi, sulit untuk menilai nilai jual mereka yang sebenarnya.

Akibatnya, klub dapat memasukkan pemain dengan nilai jual yang meragukan ke dalam kesepakatan pertukaran atau transfer secara tunai untuk membantu menyeimbangkan pembukuan.

Apakah masalah ini cuma ada di Italia?

Seperti yang diuraikan Gazzetta dello Sport minggu lalu, praktik plusvalenza tidak dapat disangkal sangat penting di Italia.

Pada 2018/19, musim terakhir sebelum COVID-19 melanda, 20 klub Serie A menghasilkan total keuntungan modal €699 juta – lebih banyak daripada lima liga top Eropa lainnya.

Menariknya, angka itu juga lebih tinggi dari jumlah uang yang dihasilkan oleh klub-klub papan atas Italia dari kesepakatan komersial selama tahun keuangan yang sama (€647 juta), menggarisbawahi betapa ketergantungan klub-klub Serie A pada pasar transfer untuk menghasilkan keuntungan.

Klub-klub Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol dan Bundesliga Jerman, semuanya menghasilkan lebih banyak uang, secara kolektif, dari hak siar TV dan perjanjian sponsor ketimbang jual beli pemain.

Jelas, sama sekali tidak ada yang salah dengan menghasilkan keuntungan dari transfer. Masalah hanya muncul ketika klub menggelembungkan nilai pemain, dan perlu diingat bahwa ini tetap menjadi masalah di banyak liga domestik lainnya.

Bedanya, meski urusan ini melibatkan klub-klub di negara lain, namun fokusnya ke Italia, dan Juventus khususnya.

Mengapa Juventus jadi sorotan dalam skandal ini?

Musim panas lalu, Arthur Melo pindah dari Catalunya ke Turin, sementara Miralem Pjanic pergi ke arah yang berlawanan.

Secara resmi, kedua transfer ini dilakukan secara terpisah. Mereka tidak diumumkan sebagai bagian dari transfer yang sama.

Barcelona menyatakan bahwa Juve telah setuju untuk membayar €72 juta di awal untuk Arthur, sementara Pjanic diakuisisi seharga €60 juta.

Dengan demikian, kedua klub berada dalam posisi untuk membukukan keuntungan modal dari pemain yang mereka jual, sementara Juventus hanya perlu mengeluarkan biaya tunai €12 juta untuk menuntaskan transfer Arthur.

Itu adalah kesepakatan yang disetujui kedua pihak, terutama Barca yang dilanda masalah finansial karena berpacu dengan waktu untuk membukukan keuntungan sebelum akhir tahun keuangan.

Pertukaran ini lebih tentang aspek finansial ketimbang sepakbolanya, dan itu ditulis secara terbuka pada saat itu.

Tidak ada pemain yang tampak sepadan dengan nilai transfer mereka, terutama saat ini, di tengah iklim ekonomi yang terguncang akibat COVID-19, meski tidak banyak yang menganggapnya penting.

Tidak ada ancaman penyelidikan, apalagi hukuman. Sejauh ini...

Mengapa?

Sekarang diketahui bahwa tiga badan Italia yang berbeda telah meneliti transfer yang melibatkan Juventus dan klub lain, termasuk pertukaran Pjanic-Arthur, serta operasi serupa pada 2019 yang melihat Danilo (€37 juta) tiba di Turin dan Joao Cancelo (€65 juta) pindah ke Manchester City.

Lebih dari setahun yang lalu, COVISOC, komisi pengawas Serie A, mulai menyelidiki "puluhan" kesepakatan yang melibatkan penilaian harga jual pemain.

Temuan mereka diteruskan ke aksa Penuntut Umum Turin, yang membuka penyelidikan kriminal pada bulan Mei yang disebut 'Prisma'.

Pada 12 Juli, CONSOB, regulator keuangan yang bertanggung jawab untuk memantau transaksi klub dalam bursa saham (seperti Juventus), mulai melihat 62 transfer yang berkaitan dengan musim 2018/19, 2019/20 dan 2020/21, 42 di antaranya melibatkan Juve.

Menurut Sky Sport Italia dan ANSA, kesepakatan itu bernilai total €282 juta dalam capital gain.

Apakah Juventus satu-satunya klub besar yang terlibat?

Sama sekali tidak. Beberapa kesepakatan transfer yang menjadi sorotan melibatkan Sampdoria, AS Roma dan Atalanta, termasuk penjualan Cristian Romero ke Tottenham Hotspur.

Namun, kesepakatan terbesar yang sedang diselidiki adalah transfer Victor Osimhen, yang pindah dari Lille ke Napoli tahun lalu.

Biayanya, setidaknya di atas kertas, adalah €70 juta, tetapi disertakannya empat pemain Napoli menutup €20 juta dari biaya tersebut: penjaga gawang Orestis Karnezis dan tiga pemain Primavera (Claudio Manzi, Ciro Palmieri dan Luigi Liguori) yang diberikan cuma-cuma kepada Lille.

Ketika ditanya tentang penyelidikan keabsahan transfer itu, presiden Napoli Aurelio De Laurentiis mengatakan kepada New York Times, "Saya tidak khawatir karena saya seorang pejuang."

Investigasi, bagaimana pun, telah menjadi intens dalam sepekan terakhir, terutama dalam kaitannya dengan peran Juve atas semuanya.

Bukan hanya karena mereka terlibat dalam dua pertiga dari kesepakatan transfer yang dicurigai, ada juga fakta bahwa Juve terdaftar di bursa saham dan berada di bawah kewenangan polisi keuangan Italia, Guardia di Finanzia.

Dan merekalah yang muncul di markas klub di Continassa minggu lalu untuk menyita dokumen yang berkaitan dengan transfer tersebut.

Siapa sebenarnya yang sedang diselidiki?

Presiden klub Juventus Andrea Agnelli, wakil presiden Pavel Nedved, pimpinan perusahaan & keuangan Stefan Cerrato, mantan direktur pelaksana Fabio Paratici (sekarang di Tottenham), mantan pimpinan divisi keuangan Stefano Bertola dan pendahulunya Marco Re.

Kantor Kejaksaan Turin mengeluarkan pernyataan pada 27 November yang berbunyi: "Sejak sore ini, atas perintah Kantor Kejaksaan ini, tentara Guardia di Finanza telah melakukan penggeledahan lokal di kantor Juventus Football Club Spa. yang ada di Turin dan Milan."

"Pemodal dari Unit Polisi Ekonomi-Keuangan Turin, yang didelegasikan ke penyelidikan, diinstruksikan untuk menemukan dokumentasi dan elemen berguna lainnya yang berkaitan dengan laporan keuangan perusahaan yang disetujui pada tahun 2019 hingga 2021, dengan mengacu pada pembelian dan penjualan hak atas kinerja olahraga para pemain, dan pembentukan laporan keuangan secara teratur."

"Saat ini, kegiatan tersebut bertujuan untuk memastikan kejahatan komunikasi palsu dari perusahaan yang terdaftar dan menerbitkan faktur untuk transaksi yang tidak ada, terhadap manajemen puncak dan manajer bidang manajemen bisnis, keuangan dan olahraga."

"Dalam pertimbangan ada berbagai operasi transfer pemain profesional dan layanan yang diberikan oleh beberapa agen yang terlibat dalam perantara relatif."

Bagaimana tanggapan Juventus terhadap investigasi tersebut?

Juve langsung merilis respons mereka dalam sebuah pernyataan:

"Perusahaan bekerja sama dengan penyelidik dan dengan CONSOB, dan percaya bahwa itu akan mengklarifikasi setiap aspek kepentingannya karena diyakini telah bertindak sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang mengatur penyusunan laporan keuangan, sesuai dengan prinsip akuntansi dan sejalan dengan praktik internasional dalam industri sepakbola dan kondisi pasar."

"Sehubungan dengan penambahan modal yang telah diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 29 Oktober 2021, maka dengan ini perseroan menegaskan waktu yang diungkapkan dalam siaran pers tanggal 22 November 2021 dan dengan demikian jangka waktu pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu dan perdagangan hak tersebut akan dimulai pada tanggal 29 November 2021."

John Elkann, CEO EXOR, yang memegang saham pengendali di Juventus, membahas masalah ini pada 30 November.

"Klub telah mengomentari penyelidikan yang sedang berlangsung, itu bekerja sama dengan penyelidik dan yakin akan menjelaskan masalah ini," katanya kepada wartawan.

"Saya yakin dengan pekerjaan hakim Italia. Anda tahu bahwa Juventus memiliki dewan direksi baru, CEO baru, pelatih baru, yang bersama presiden dan wakil presiden, menghadapi saat-saat sulit ini."

"Saya yakin bahwa masa depan Juventus akan sama pentingnya dengan sejarahnya. Ini adalah klub yang hebat dan ada keinginan untuk tetap seperti itu."

Memang, Nedved menepis anggapan bahwa Bianconeri berada dalam masalah serius dan membantah rumor bahwa ia dan Agnelli bisa dipecat dari jabatan mereka masing-masing.

"Saya rasa tidak," kata mantan gelandang Juve itu kepada DAZN menjelang pertandingan lawan Salernitana pekan lalu. "Kami mengeluarkan pernyataan yang sangat jelas, presiden Andrea Agnelli juga menyatakan dirinya."

"Ia berbicara kepada tim, karyawan, dan juga kepada pemegang saham mayoritas John Elkann. Saya rasa tidak tepat jika saya menambahkan sesuatu untuk semua itu."

Nedved juga mengatakan: "Saya tidak berpikir akan ada masalah di dalam klub dan saya tentu tidak percaya itu akan mempengaruhi para pemain. Mereka berpengalaman dan fokus di lapangan."

"Selama bertahun-tahun ini, dan saya telah berada di luar lapangan selama 11 tahun sekarang, kami mengalami banyak kesulitan dan selalu berhasil melewatinya."

"Menyerang Juventus sekarang benar-benar menjadi sebuah olahraga nasional," katanya kepada notizie.com.

Mengapa nama Ronaldo dibawa-bawa?

Menurut Gazzetta, mantan penyerang Juventus itu dapat diinterogasi oleh penyelidik yang mencoba menemukan dugaan 'pembayaran rahasia' yang dilakukan kepada pemain Portugal itu.

Beberapa outlet berita Italia telah melaporkan bahwa selama percakapan antara pengacara Cesare Gabasio dan direktur Juventus Federico Cherubini direkam oleh penyadapan kawat, referensi dibuat untuk "dokumen terkenal yang secara teoritis seharusnya tidak ada".

Para penyelidik, sejauh ini, tidak menemukan catatan dokumen ini di mana pun dalam pembukuan Juve.

Sejauh ini, sama sekali tidak ada implikasi bahwa Ronaldo telah melakukan sesuatu yang salah, tetapi Gazzetta mengklaim bahwa Jaksa Penuntut Umum Turin dapat meminta klarifikasi tentang masalah ini dari sang penyerang Manchester United.

Corriere della Sera, bagaimana pun, mengatakan bahwa agen Ronaldo, Jorge Mendes, mungkin akan ditanyai, dan mungkin dipanggil setelah liburan Natal, mengingat dokumen misterius itu tidak terkait langsung dengan penyelidikan plusvalenza.

Selain itu, Juventus mengungkapkan pada Kamis (2/12), bahwa Jaksa Penuntut Umum Turin juga sedang menyelidiki kepindahan Ronaldo ke Old Trafford tepat sebelum penutupan jendela transfer musim panas.

"Seperti yang telah diumumkan, Juventus bekerja sama dengan penyelidik dan CONSOB," bunyi pernyataan mereka, "dan yakin bahwa itu akan mengklarifikasi setiap aspek penyelidikan, percaya bahwa itu telah beroperasi sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang mengatur persiapan laporan keuangan, sesuai dengan prinsip akuntansi, dan sejalan dengan praktik industri sepak bola internasional dan kondisi pasar."

Apa yang bisa terjadi pada mereka yang dinyatakan bersalah?

Menurut Marco Donzelli, presiden CODACONS, asosiasi Italia untuk perlindungan hak-hak konsumen, Juventus dapat sekali lagi terdegradasi dan menerima pencabutan gelar Serie A, 15 tahun setelah terlibat Calciopoli.

"Sistem tuduhan sangat serius dan menyoroti kejuaraan sepakbola terakhir, juga karena ada dominasi nyata Juventus dalam beberapa tahun terakhir, yang berakhir pada tahun lalu," kata Donzelli, menyinggung fakta bahwa Bianconeri menyinggung fakta bahwa Bianconeri memenangkan sembilan Scudetto beruntun antara 2012 dan 2020.

"Jika Juventus secara tidak sah memperoleh keuntungan atas klub saingan dengan operasi semacam ini, maka keteraturan kejuaraan sepakbola terakhir akan dianulir dan, sebagai akibatnya, Federasi dan Otoritas persaingan pasar harus campur tangan dan memberi sanksi kepada mereka yang bertanggung jawab."

"Di luar tanggung jawab individu, klub tidak akan dibebaskan dari hukuman."

"Untuk alasan ini dan untuk melindungi ribuan penggemar, kami akan mengajukan keluhan kepada Antitrust dan Kantor Kejaksaan Federal meminta degradasi ke Serie B untuk Juventus dan pencabutan gelar liga terakhir yang dimenangkan di bawah bayang-bayang operasi yang berpotensi ilegal ini."

Perlu dicatat bahwa kasus ini bukan tanpa preseden, dengan caram bentuk atau model apa pun.

AC Milan dan rival sekota mereka, Inter Milan, keduanya diselidiki atas dugaan penyimpangan keuangan terkait dengan keuntungan modal pada 2008 tapi keduanya tidak dikenai sanksi - lagi-lagi, karena adanya kesulitan dalam menentukan nilai pasar pemain yang sebenarnya.

Namun, pada 2018, Cesena dikurangi tiga poin karena pelanggaran berulang terhadap peraturan plusvalenza.

Jadi, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Pertama, jelas bahwa sistem ini sangat membutuhkan reformasi. Sebagai sumber COVISOC mengatakan kepada ANSA, "Fenomena akuntansi palsu dapat menempatkan klub dalam krisis serius dan mempengaruhi sistem sepakbola Italia."

Presiden FIGC, Gabriel Gravina telah lama menyadari masalah ini dan menyambut baik fakta bahwa sekarang sedang ditangani oleh beberapa otoritas, baik di dalam maupun di luar lapangan.

"Kami telah mengerjakan masalah ini selama dua hingga tiga tahun terakhir. Sekarang, kami harus menggabungkan masalah sipil dengan elemen olahraga, jadi kami mengikuti petunjuk hakim, yang memiliki lebih banyak alat yang efektif daripada peradilan olahraga."

"Juga, ada komisi khusus di UEFA yang sedang mengerjakan masalah ini yang akan segera mengambil beberapa tindakan pencegahan."

Menyelesaikan masalah capital gain tidak akan mudah. Sulit untuk menemukan metode yang sempurna untuk menentukan nilai sebenarnya dari seorang pemain.

"Saya melihat begitu banyak ilmuwan di sekitar tetapi sesuatu yang sangat subjektif tidak dapat diterjemahkan ke dalam algoritma," tambah Gravina.

Orang nomor satu FIGC itu juga dengan tepat menunjukkan bahwa akuntansi palsu adalah produk dari model keuangan sepakbola yang rusak, yang telah diekspos secara brutal oleh krisis ekonomi yang disebabkan oleh pandemi.

Pada dasarnya, dalam keputusasaan klub untuk menutupi biaya gaji pemain yang selangit, beberapa mengambil risiko, mengambil jalan pintas atau, lebih buruk lagi, melanggar aturan. Seperti yang dikatakan Gravina, "biaya tenaga kerja tidak lagi berkelanjutan."

Kapan penyelidikan akan selesai?

Di Juventus, direktur Cerrato dan U-23, Giovanni Manna telah diwawancarai oleh kantor Jaksa Penuntut Umum Turin, sementara Cherubini dan Maurizio Arrivabene diinterogasi sebagai orang yang 'diinformasikan tentang fakta'.

Re dan Bertola juga dipanggil tetapi, menurut Corriere della Sera, keduanya menolak menjawab pertanyaan apa pun.

Belum diketahui apakah Agnelli, Paratici, dan Nedved akan dimintai keterangan. Namun, diyakini bahwa penyelidikan bisa selesai dalam dua minggu ke depan.

Selanjutnya tergantung pada otoritas terkait untuk menentukan apakah ada peraturan keuangan atau olahraga yang telah dilanggar, dan apakah ada hukuman yang perlu dijatuhkan.

Menurut dua direktur Juventus yang direkam oleh penyadapan, "hanya Calciopoli yang lebih buruk dari kasus ini."

Kita akan mengetahui lebih lanjut tentang perkembangan kasus ini.