Manajer Liverpool, Jurgen Klopp, tidak dapat menghadiri pemakaman ibunya, Elisabeth, pada Selasa (9/2) lantaran larangan perjalanan terkait pandemi virus corona.
Elisabeth meninggal dunia pada usia 81 tahun. Seperti diwartakan surat kabar Jerman, Schwarzwalder Bote, ibunda Klopp itu wafat sejak 19 Januari lalu.
Jerman membatasi penerbangan dari Inggris setidaknya hingga 16 Februari mendatang. Hal itu yang menyebabkan Klopp tidak bisa melepas sang ibu ke peristirahatan terakhir secara langsung.
“Dia sangat berarti bagi saya. Dia benar-benar ibu sejati dalam arti terbaik,” ucap Klopp kepada Schwarzwalder Bote, Rabu (10/2).
“Sebagai Kristen yang taat, saya tahu dia berada di tempat yang lebih baik sekarang.”
“Fakta bahwa saya tidak bisa menghadiri pemakamannya adalah karena kita sedang tidak berada di waktu tepat.”
“Begitu keadaan memungkinkan, kami akan mengadakan peringatan yang indah,” pungkasnya.
Bersama putranya Jurgen, Elisabeth meninggalkan dua putri: Stefanie dan Isolde, bersama enam cucunya: Simone, Dennis, Marc, Benny, Franziska dan Andre, serta empat cicit: Milane, Tom, Erik dan Linus.
Suaminya, Norbert, meninggal dunia pada usia 66 tahun pada tahun 2000. Pasangan itu menetap di kota Glatten, tempat Klopp dan saudara perempuannya dibesarkan.
Meskipun bukan hal yang simpatik mengasosiasikan kematian ibu Klopp dengan penurunan performa Liverpool belakangan ini, tapi fakta itu mungkin menjelaskan perubahan nada bicara dalam wawancara sang manajer pada sesi konferensi pers akhir-akhir ini.
Sejak kematian ibu Klopp, Liverpool telah menjalani enam laga di lintas ajang dengan rincian empat kekalahan dan dua kemenangan.
Tapi dengan informasi yang baru dirilis yang menyebut sang ibu berpulang sejak pertengahan Januari lalu, itu sekaligus menjadi penanda integritas dan komitmen Klopp bersama Liverpool bahwa ia bisa menjalani tugasnya seperti biasa, seperti tidak ada apa-apa.
Simpati kami untuk keluarga Klopp. Istirahat dalam damai, Elisabeth.


