Jurgen Klopp Liverpool 2021-22Getty Images

Jurgen Klopp Berhak Marah - Wasit Liverpool Vs Tottenham Hotspur Dinilai Tak Konsisten Dalam Memberi Keputusan

Jurgen Klopp secara mengejutkan bisa tetap tenang, mengingat situasi yang dihadapi timnya.

Konferensi pers usai pertandingan bisa menjadi tempat yang emosional, terutama setelah pertandingan yang menegangkan dan kontroversi seperti Lvierpool kontra Tottenham Hotspur, Minggu (19/12) WIB

Dan seandainya bos The Reds tersebut mengoceh, tentu saja banyak yang akan mengerti maksudnya.

Bagaimanapun, timnya telah kehilangan dua poin yang berpotensi penting dalam perburuan gelar Liga Primer, bermain imbang 2-2 setelah memimpin sampai 20 menit tersisa. Dengan kemenangan Manchester City di pertandingan lain - yang jelas tidak membuat mereka senang - itu akan terasa seperti kekalahan.

Liverpool telah berjuang dengan gagah berani, meskipun melihat persiapan mereka yang kurang maksimal karena dilanda wabah virus corona di dalam skuad. Empat pemain senior abse, dan bahkan salah satu dari mereka yang kembali dengan tes negatif pada hari Minggu, Jordan Henderson, masih belum fit untuk tampil di London utara.

Dan kemudian ada persoalan dengan wasit.

Itu sungguh menjadi tema pembicaraan Klopp di hari Minggu. Performa Paul Tierney, dan tidak konsistennya VAR, Chris Kavanagh, membuatnya garuk-garuk kepala, memberikan bahasa tubuh yang 'tampak sarkas', dan memberi senyuman - sebuah senyum yang menunjukkan bahwa dia sangat ingin mencekik wasit tersebut dengan peluit di mulutnya.

The Reds tentu punya alasan untuk merasa dirugikan. Tidak dengan kartu merah yang diberikan kepada Andy Robertson setelah tindakannya yang salah kepada Emerson Royal - "bukan keputusan pintar yang pernah dia buat," Klopp mengakui itu, sementara bek kiri itu kemudian meminta maaf melalui media sosial - tetapi tentu saja dengan dua keputusan penting lainnya dalam permainan yang, menurut mereka, bukan pilihan bijak.

Jurgen Klopp Liverpool quote GFXGetty/GOAL

Misalnya, bagaimana Harry Kane tak mendapatkan kartu merah untuk tekel kerasnya pada Robertson di babak pertama, apakah orang-orang bisa menduga kenapa? Hak istimewa kapten tim nasional Inggris, mungkin?

"Saya pikir saya memenangkan bola," kata striker Spurs itu, entah bagaimana berhasil menjaga wajahnya tetap santai. Sementara itu, Klopp menunjukkan bahwa jika kaki Robertson menapak di tanah - untungnya tidak - maka dia mungkin mengalami cedera serius.

"Itu [seharusnya] 100 persen dikartu merah," tambahnya, dan dia tepat sasaran.

VAR tidak campur tangan dalam insiden itu, meskpun Tierney menganggap tekel itu pantas mendapatkan kartu kuning di lapangan - mengapa hanya kuning? - dan itu terjadi lagi di babak kedua ketika Emerson menerjan Diogo Jota di kotak penalti, tepat saat penyerang The Reds itu bersiap mengambil ancang-ancang untuk melakukan tembakan.

Itu terlihat sangat mencolok bahwa pelanggaran, dan jika Liverpool dihadiahi penalti, maka Emerson juga mendapatkan kartu kuning keduanya. Sebaliknya, Tierney tidak memberikan apa-apa dan VAR kembali diam saja.

"Kami pikir dia mungkin tidak ada di kantornya," canda Klopp.

Tierney nyaris mengeluarkan kartu kesepuluhnya di laga tersebut, setelah dia tampak akan mengusir Klopp menuju tribun penonton karena reaksi berlebihan sang manajer.

Jurgen Klopp Liverpool GFXGetty/GOAL

"[Dengan] situasi di kotak penalti, Tuan Tierney mengatakan kepada saya bahwa dia pikir Diogo Jota sengaja berhentei [karena] dia ingin ditabrak," kata Klopp.

"Jika Anda melihat situasi ini kembali, itu adalah pandangan yang sangat eksklusif. Itu jelas penalti, tapi dia pikir itu bukan penalti. Wow."

"Saya akan mengatakan bahwa itu jelas dua keputusan yang salah darinya dan satu benar - ketiganya merugikan kami."

Pada peluit akhir, Klopp tertangkap oleh kamera Sky Sports dalam diskusi dengan Tierney.

"Saya tidak punya masalah dengan wasit lain, hanya Anda," katanya. Orang membayangkan beberapa perangkat pertandingan mungkin tidak setuju dengan pernyataan itu.

Ofisial keempat Andre Marrinier salah satunya; Klopp pernah berselisih dengannya di masa lalu, dan dia kini tidak sendirian.

Tentu saja, beberapa manajer elite adalah 'pecundang yang baik', dan Klopp berbicara dengan rasa frustrasi karena tekanan yang dia dan timnya alami di musim ini, baik secara fisik dan mental, dengan mereka berusaha untuk mempertahankan kans untuk meraih gelar sambil berjuang di tengah musim pandemi ini.

Hari Minggu itu memang tidak menjadi pukulan besar, tetapi Liverpool tahu bahwa mereka harus lebih berjuang lagi, dengan City terlihat kuat dan kejam sekarang seperti yang mereka tunjukkan dalam beberapa pertandingan. Selisih tiga poin itu masih bisa dikejar, tapi di mata The Reds, pertandingan-pertandingan berikutnya akan terlihat lebih menakutkan.

Masih harus dilihat bagaimana Liga Primer akan mengelola pertandingan memasuki Natal. Tampaknya tidak masuk akal bahwa tiga matchday yang dijadwalkan antara 26 Desember dan 3 Januari akan berjalan sesuai rencana.

Ada enam pertandingan yang ditunda akhir pekan lalu, dan lebih banyak lagi pasti yang akan menyusul.

Liverpool juga akan memainkan laga perempat-final Piala Liga melawan Leicester, Kamis (23/12) dini hari WIB, dan hanya Tuhan yang tahu tim seperti apa yang akan ditunjukkan oleh mereka.

The Reds menurunkan tim U-23 pada tahap ini di kompetisi yang sama dua tahun lalu, dan tidak akan menjadi kejutan besar jika mereka melakukan hal serupa kali ini.

"Kami bermain sepakbola selama orang menyuruh kami melakukannya," ungkap Klopp, meskipun dia mengakui bahwa ketidakpastian seputar penundaan dan kasus positif Covid-19 membuat pertandingan berjalan sesuai rencana adalah hal mustahil.

"Ini sulit, benar-benar sulit," tambahnya.

Terlebih lagi, dengan keputusan yang dibuat oleh Tierney dkk, di Tottenham.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0