Virgil van Dijk Liverpool 2019-20Getty Images

Keraguan, Kepercayaan, Hingga Prestasi - Bagaimana Jurgen Klopp Membangun Mesin Liverpool

Untuk menceritakan kisahnya dengan runtut, kita harus memulainya dari kekalahan memalukan dari Stoke City dengan skor 6-1 pada pekan pamungkas musim 2014/15.

Memori utama sore itu bukanlah Steven Gerrard yang memainkan laga terakhirnya bersama Liverpool, atau melihat lima gol dalam jangka 23 menit di babak pertama melayang melewati Simon Mignolet yang kebingungan.

Bahkan bukan skuad 11 pertama, yang menunjukkan Emre Can ditempatkan sebagai bek kanan dengan duet dua pemain depan Adam Lallana dan Philippe Coutinho.

Atau fakta bahwa Jordon Ibe adalah pemain yang dipaksa untuk berbicara di kanal resmi klub setelah pertandingan. Ibe kala itu berusia 19 tahun, dan hanya diturunkan sebagai pemain pengganti pada tengah pertandingan saat timnya sudah tertinggal 5-0. Bukan itu.

Amarahlah yang melekat. Suporter Liverpool yang hadir dan menunggu di dekat lorong pemain untuk mencaci maki manajer atau pemain mereka sendiri.

Banyak yang pulang sejak babak pertama, tetapi tidak sedikit dari mereka yang menunggu hingga peluit akhir dibunyikan wasit Anthony Taylor.

Terpuruk.

“Kekalahan berpotensi pemecatan,” begitu ditulis Liverpool Echo. Tidak tahu lagi bagaimana manajer Brendan Rodgers bakal selamat setelah genosida tersebut.

Pada hari itulah segalanya berubah. Jalan awal Liverpool hingga menjadi Liverpool saat ini, yaitu dimulai di Stadion Britannia, markas Stoke.

‘Woooooowww!’

Pada Kamis, 8 Oktober 2015, Jurgen Klopp diumumkan sebagai manajer baru Liverpool. Empat hari sebelumnya, Rodgers dipanggil oleh CEO Ian Ayre dalam sebuah pertemuan di Melwood. Dia tahu apa yang akan terjadi.

Jurgen Klopp Liverpool

Liverpool tidak hanya baru ditahan imbang Everton 1-1 pada musim baru, tetapi mereka dalam periode hanya meraih satu kemenangan dalam sembulan laga di semua ajang.

The Reds berada di urutan kesepuluh klasemen Liga Primer Inggris, bermain tanpa kepercayaan diri, dan tidak tahu arah. Klub mengubah komposisi staf kepelatihan dan mendatangkan pemain baru, sayang, bekas luka musim sebelumnya masih basah.

Waktu Telah Tiba

Dalam rilis yang mengonfirmasi pemecatan Rodgers, Liverpool menyatakan bahwa mereka masih dalam tahap pencarian manajer baru dan menegaskan bahwa mereka akan mendatangkan nakhoda anyar tepat waktu. Padahal sebetulnya, mereka sudah “mengunci” Klopp.

Klopp telah bertemu dengan Fenway Sports Group (FSG), grup pemilik Liverpool, di kantor hukum Shearman & Sterling di Lexington Avenue, New York, Amerika Serikat pada 1 Oktober atau tiga hari sebelum pemecatan Rodgers.

Di sana, Klopp dikontrak. Meskipun sebelumnya pelatih asal Jerman itu menyatakan keinginannya untuk cuti dari dunia kepelatihan selama setahun. Ia mengatakan hal itu sejak masih melatih Borussia Dortmund pada lima bulan sebelumnya.

Namun, Klopp rupanya tergoda untuk kembali menukangi klub dalam waktu dekat yang sekaligus menggugurkan sumpahnya.

FSG yang diwakili oleh John Henry, Tom Werner, dan Mike Gordon telah menuntaskan pekerjaan rumah mereka. Pemantauan mereka tentang Klopp berisi 60 halaman, yang mencakup semuanya. Mulai dari sesi pelatihan hingga latar belakang pribadi sang pelatih. Keesokan harinya, pertemuan kedua di Plaza Hotel di Fifth Avenue menghasilkan tawaran yang tegas.

Ketika Marc Kosicke, agennya melakukan negosiasi, Klopp memilih jalan-jalan di sekitar Central Park, sendirian. Sepekan kemudian, dia berdiri di depan Kop, dengan baju merah di tangan, dan mata dunia yang tertuju kepadanya. Dia adalah kunci Anfield.

"Kata-kata pun tidak bisa mengungkapkan betapa senangnya kami,” ucap Gordon, dalam pesan singkatnya kepada Klopp setelah pertemuan di New York itu.

Jawaban Klopp singkat dan langsung ke pokok permasalahan. "Woooooooww!”, tulis Klopp. Dia sudah siap.

‘Tidak ada yang menyukai tim ini’

"Ketika saya datang, saya mengatakan bahwa tidak ada yang menyukai tim ini, bahkan skuad yang ada pun tidak!" kata Klopp kepada Goal, tahun lalu.

“Itu benar. Mereka pikir mereka tidak cukup baik bermain di Liverpool karena semua orang membebani mereka perasaan itu,” tambahnya.

LiverpoolLiverpool

Dalam wawancara pertama sebagai menajer, Klopp berbicara tentang soal mengubah “yang ragu menjadi optimistis”, membuat fans berinvestasi lagi di tim ini secara emosional.

“Kami harus memulai kembali. Kami harus membuatnya [titel EPL] lebih dekat. Kami harus membuat sejarah,” tutur Klopp.

Di ruang ganti, kalimat-kalimat tersebut diulangi kepada para pemainnya.

"Satu-satunya kritik yang sangat penting adalah kritik saya," kata Klopp kepada pemainnya. "Sisanya? Abaikan saja, tidak penting!”.

Satu demi Satu

Pada musim pertama di Liverpool, Klopp nyaris menyumbangkan dua trofi. Apes, mereka kalah di final Piala Liga Inggris dari Manchester City dan di partai puncak Liga Europa dari Sevilla. Di EPL, The Reds cuma finis di urutan kedelapan.

Kehadiran Joel Matip dari Schalke secara gratis menambah solid jantung pertahanan, tetapi mendatangkan Sadio Mane dan Gini Wijnaldum lah yang benar-benar membuat The Reds berkembang. Mane direkrut senilai £30 juta dari Southampton. Sementara £25 juta untuk mengangkut Wijnaldum dari Newcastle United yang terdegradasi.

Liverpool Salah Wijnaldum Keita Mane 16122018

Klopp awalnya menginginkan Mario Gotze, mantan anak asuhnya di Borussia Dortmund, tetapi klub memilih mundur setelah negosiasi dengan sang pemain mentok.

Yang terpenting, Klopp tidak seperti pendahulunya. Dia mampu menjalin hubungan kerja yang baik dengan staf rekrutmen klub, khususnya Michael Edwards, yang pada November 2016 dipercaya sebagai direktur olahraga Liverpool.

"Salah satu kekuatan terbesar Jurgen adalah kemampuannya dan kemauannya untuk mempercayai orang-orang di sekitarnya," kata sumber dalam Anfield.

"Apakah itu tim medis, analis data, ahli gizi atau staf rekrutmen, ia percaya pada keahlian mereka masing-masing.”

“Tentu, dia tetap akan menantang mereka jika dirasa perlu, tetapi sikap utamanya adalah 'mereka ada di sini karena mereka ahli, dan saya harus mendengarkan apa yang mereka katakan'."

Keberhasilan pendekatan itu jelas untuk dilihat semua orang. Edwards dan timnya yang mendesak, misalnya, untuk mendatangkan Mohamed Salah dari Roma pada 2017. Sementara di saat yang sama, Klopp memilih Julian Brandt dari Bayer Leverkusen.

“Dia [Salah] akan mencetak gol, percayalah. Dia tidak akan mengecewakan Anda,” ucap Edwars yang kemudian direstui Klopp.

Apa yang terjadi? Salah mencetak 91 dari 144 penampilan bersama Liverpool sejauh ini.

Klopp tidak selalu menjadi pilihan pertama atau bahkan yang kedua. Ia kehilangan sejumlah pemain incaran, antara lain: Gotze, Ben Chilwell, Christian Pulisic, Julian Draxler, Alex Teixeira, Piotr Zielinski, dan Mahmoud Dahoud. Tetapi, ia dan Edwards selalu seperti itu, mampu membuat rencana yang tepat pada waktu yang tepat.

Pada 2016 ada Matip, Mane dan Wijnaldum. Musim panas berikutnya ada Salah, Andy Robertson, dan Alex Oxlade-Chamberlain.

Sementara itu pundi-pundi The Reds bertambah berkat penjualan pemain seperti Ibe, Christian Benteke, Mamadou Sakho, dan Joe Allen.

Tetapi untuk mencapai level berikutnya, dua hal harus diterima. Pertama, Liverpool harus menjual aset penting, Philippe Coutinho. Kedua, mereka harus menghabiskan uang itu untuk setidaknya dua pilar penting lainnya.

Beberapa hari sebelum Cou menyelesaikan kepindahan ke Barcelona, Liverpool mengumumkan penandatanganan Virgil van Dijk senilai £75 juta dari Southampton. Pertahanan The Reds mulai dibangun dengan bek termahal dunia saat itu.

Virgil van Dijk Liverpool 2019-20Getty Images

Musim panas itu, potongan puzzle terakhir dilengkapi. Fabinho tiba kurang dari 48 jam setelah kekalahan di final Liga Champions dari Real Madrid di Kiev, sementara kedatangan Naby Keita dari RB Leipzig telah disetujui sejak musim sebelumnya. Kemudian datang penjaga gawang Alisson Becker dari Roma senilai £65 juta.

Klopp telah meminta maaf setelah final Liga Champions. “Saya melakukan yang terbaik dan itu tidak cukup baik," katanya kepada wartawan.

"Kami masih level Rocky Balboa, bukan Ivan Drago," tutur Klopp kala membandingkan timnya dengan Manchester City pada awal musim tersebut. Artinya, ia tahu bahwa timnya menyimpan pukulan KO.

Coutinho telah pergi, Kiev terluka, tetapi bangunan mulai terbentuk. Waktu Liverpool adalah sekarang.

‘Mentalitas raksasa yang luar biasa’

Sejak kekalahan itu di Kiev, Liverpool telah memainkan 67 pertandingan di liga dan hanya kalah dua kali. Meraih 57 kemenangan, The Reds mengoleksi 182 dari 204 poin maksimal.

Piala telah tiba, skuad arahan Klopp mengalahkan Tottenham Hotspur untuk memenangkan gelar Liga Champions keenam mereka di Madrid pada Juni lalu, yang dilanjutkan dengan raihan Piala Super UEFA dan Piala Dunia Klub pada akhir 2019.

Jurgen Klopp Liverpool Champions League 2018-19Getty

Hanya krisis virus corona yang menunda mereka untuk mengamankan mahkota EPL untuk kali pertama. Liverpool berada di puncak klasemen dengan keunggulan 25 poin di atas Manchester City saat kompetisi ditangguhkan per awal Maret lalu.

“Mentalitas yang luar biasa,” kata Klopp, timnya mampu menghadapi tantangan apapun; lapar, memiliki determinasi, kompak.

Tidak kenal lelah secara fisik, taktis, menakutkan lawan, tim ini yang diinginkan sang manajer ketika ia berjalan melewati lorong pada 2015.

Kualitas merata. Dari Salah, yang telah menyabet dua gelar Sepatu Emas EPL berturut-turut, hingga Van Dijk, yang terpilih sebagai pemain terbaik PFA. Seandainya musim tidak terganggu, kemungkinan Jordan Henderson, Mane atau Trent Alexander-Arnold akan meneruskan pencapaian bek asal Belanda itu.

Mungkin yang paling mengesankan adalah kenyataan bahwa kesuksesan Liverpool tidak dapat diraih oleh satu individu. Semua orang berkontribusi. Ketika daftar 30 pemain kandidat peraih Ballon d’ diumumkan pada Oktober lalu, tujuh pemain The Reds masuk nomine.

"Saya suka gambar yang kami lukis untuk dunia," kata Klopp kepada Goal pada Agustus lalu.

“Tim ini sensasional dengan kebesaran hati yang berdebar kencang! Semua orang menuju ke arah yang benar,” tambahnya.

Jurgen Klopp, Premier League trophyGetty composite

Belum lima tahun, tetapi kenangan yang telah ditinggalkan, pencapaian besar, dan kontribusinya terbilang heroik.

Dejan Lovren melawan Dortmund, Mane dan Origi melawan Everton, kemenangan atas Manchester City dan Roma, tendangan roket Oxlade-Chamberlain, sepakan sudut Alexander-Arnold melawan Barcelona, ​​penebusan Salah di Madrid.

Memikirkan perkembangan pemain. Dari Robertson dan Henderson, Wijnaldum dan Bobby Firmino. Standar tanpa henti dari James Milner, perkembangan Joe Gomez dan, mungkin saja, kedatangan generasi berikutnya dalam diri Curtis Jones dan Harvey Elliott.

Di luar lapangan, klub pun terus berkembang. Kamp latihan baru akan segera jadi, lalu stan Anfield Road yang baru sedang direncanakan. Pendapatan melonjak, kesepakatan baru dengan Nike juga dipastikan akan membawa The Reds ke lapisan baru dari sisi komersial.

Tokoh kunci mereka ada di sini untuk jangka panjang. Pada bulan Desember, Klopp meneken kontrak yang membuatnya tetap di Merseyside setidaknya hingga 2024.

"Saya tidak bisa berpikir untuk pergi," ucap Klopp.

Bagaimana dia bisa? Inilah klub yang tengah berada di puncak permainannya, dipimpin oleh seorang manajer di juga sedang di puncak kariernya. Dari yang ragu-ragu sampai yang mulai percaya, hingga berprestasi.

Itulah Jurgen Norbert Klopp. Hasil kerjanya enggak buruk, kan?

Iklan
0