Berita Live Scores
Cult Hero

Julian Green: Wonderkid Bayern & USMNT, Memudar Sebelum Bersinar

21.37 WIB 24/01/22
Julian Green Bayern Munich
Green seperti pemain masa depan AS usai gol ikoniknya di Piala Dunia 2014. Kini, ia berpotensi bersama tim Bundesliga terburuk sepanjang sejarah.

Meski berakhir dengan kekalahan bagi tim nasional pria Amerika Serikat (USMNT), laga babak 16 besar Piala Dunia 2014 kontra Belgia merupakan momen penting dalam sejarah budaya tim belakangan ini.

Performa USMNT dalam kekalahan 2-1 pasca-perpanjangan waktu dipuji karena energi, keinginan, dan semangat pantang menyerah yang ditampilkan. Kiper Tim Howard langsung berseliweran menjadi ‘meme’ di media sosial karena jumlah penyelamatannya yang menakjubkan. Sementara ucapan selamat dari Presiden Barack Obama via telefon menyertai setelahnya.

Faktor penting lainnya adalah sanng pencetak gol untuk AS – Julian Green, yang mencetak gol dengan sentuhan pertamanya di seluruh turnamen, dan gol itu menjadikannya pemain termuda yang mencetak gol di Brasil 2014, atau di Piala Dunia manapun untuk USMNT.

Gol itu–tendangan voli tajam di menit ke-107 untuk menghidupkan kembali permainan setelah Belgia unggul dua gol–meninggikan nama Green kancah olahraga AS yang lebih luas, dan ada harapan besar menyoal apa yang bakal ia lakukan selanjutnya.

Baru berusia 19 tahun, dan berada di salah satu tim terbesar dunia, Bayern Munich, Green tampak siap menjadi megabintang sepakbola AS pertama di era media sosial.

Namun yang terjadi, Green yang kini berusia 26 tahun, terlupakan dari USMNT. Memang, ia masih bermain di Bundesliga, tapi bukan untuk Bayern, tapi untuk tim yang rekornya membuat Schalke musim lalu terlihat kompeten.

Lahir di Florida dari ayah Amerika dan ibu Jerman, Green pindah ke Jerman bersama keluarganya kala ia berusia dua tahun. Ia tetap melekat erat pada akar Floridiannya. Akun Twitter -nya menegaskan kecintaannya untuk klub NHL, Tampa Bay Lightning.

Karier internasional mudanya juga beragam. Ia mewakili Jerman di tim U-16, U-17, dan U-19, tapi juga USMNT dengan tim U-18 dan U-23.

Alhasil, Green menetap di AS, dan dipanggil untuk Piala Dunia 2014 setelah melakoni debut senior beberapa bulan sebelumnya, secara kontroversial dipanggil ketimbang pemain kawakan Landon Donovan.

“Saya berbicara dengan [manajer Bayern] Pep Guardiola tentang hal itu dan menanyakan pendapatnya,” kata Green kepada ESPN pada Januari lalu.

“Dia mengatakan kepada saya bahwa Anda harus mendengarkan hati Anda dan apa yang dikatakan hati Anda. Saya ingat kamp latihan pertama saya di Jerman, dan setelah dua menit di kamp ini, saya tahu saya ingin bermain untuk Amerika Serikat,” tutur dia.

"Saya ingat Clint Dempsey dan Michael Bradley, mereka semua sangat baik kepada saya, dan saya tahu persis bahwa saya ingin bermain untuk negara ini. Itu adalah keputusan yang mudah pada akhirnya,” tambahnya.

Green ke Piala Dunia dan mencetak gol itu – namun sejak itu, kariernya di klub gagal tepat pada titik lepas landas.

Setelah mencatatkan 15 gol dalam 23 penampilan untuk tim cadangan, Green terdaftar di tim senior Bayern untuk musim 2014-15. Namun, ia kemudian dipinjamkan ke Hamburg untuk dapatkan pengalaman tim utama – yang terbukti menjadi bencana.

Green melakoni lima pertandingan liga sepanjang musim, semuanya dari bangku cadangan, gagal mencetak gol. Manajer yang mengontraknya, Mirko Slomka, dipecat beberapa hari setelah Green melakukan debutnya di Hamburg, dan pemain berusia 19 tahun itu dipindahkan ke tim cadangan di divisi empat Jerman.

"Dia harus memaksakan dirinya di sana. Tim U-23 sama sekali bukan tempat sampah. Akamdemi kami unggulan,“ kata direktur olahraga Hamburg, Peter Knabel kepada Bild.

Green ditarik dan kembali ke Bayern pada musim 2015/16, dan meskipun ia mencetak hat-trick pramusim pada 35 menit pertama pertandingan persahabatan melawan Inter, dan terus bermain secara teratur untuk tim cadangan untuk melanjutkan rekor – 10 gol dalam 28 laga musim itu – peluangnya di tim utama sangat langka dan cepat berlalu.

Green perlu pindah ke klub dengan jaminan menit bermain reguler dan, pada Desember 2016, ia bergabung dengan Stuttgart di kasta kedua Liga Jerman.

Sang gelandang membantu raksasa yang jatuh kembali ke Bundesliga kala itu, tapi ia dikirim dengan status pinjaman ke Greuther Furth, kembali ke kasta kedua pada musim 2017/18.

Green memastikan tempatnya sebagai pahlawan klub pada hari terakhir, mencetak gol penyama kedudukan untuk menyelamatkan mereka dari degradasi, lalu dipermanenkan pada musim panas.

Musim lalu, sembilan gol Green dalam 30 pertandingan liga memainkan peran utama dalam membantu Greuther promosi ke Bundesliga, meskipun sejauh ini berjalan sulit.

Green gagal mencetak gol dalam laga liga terakhir, ditempatkan sebagai gelandang tengah, dan klub cuma mengumpulkan satu poin dari 12 pertandingan pembuka, mereka sudah tampak ditakdirkan untuk segera kembali ke 2.Bundesliga.

Performa Greuther saat memastikan tiket promosi juga tidak membantu Green untuk kembali dilirik USMNT - meskipun hal-hal sulit untuk sementara waktu terjadi.

Terjebak dengan 15 caps dan empat gol, Green belum menandai penampilan kompetitif sejak 2018. Sejauh ini, ia gagal mengesankan pelatih Gregg Berhalter.

“Saya berhubungan [dengan Berhalter] sesekali,” kata Green kepada Transfermarkt.

Menjelang musim, kami ada turnamen Piala Emas, tapi saya tidak bisa bermain di sana karena itu tepat di tengah persiapan pramusim,” ujar pemain yang mahir dengan kaki kanan dan kiri.

“Sulit untuk mengatakan mengapa saya tidak dipanggil. Saya pikir saya dapat membantu tim dan saya tersedia. Pada akhirnya, pelatih lah yang membuat keputusan, dan saya hanya bisa memberikan yang terbaik, meningkatkan permainan saya, dan hormati keputusan manajer untuk tidak memanggil saya,” imbuhnya.

Dengan bintang-bintang seperti Christian Pulisic dan wonderkid yang akan datang, seperti Gio Reyna, ada kesan bahwa Green telah ditinggalkan.

Green telah diubah fungsi sebagai gelandang tengah dalam beberapa musim terakhir, posisi di mana komposisi USMNT kurang lengkap, ada sedikit alasan di balik frustrasi Green.

“Pada semua tim junior, saya bermain di lini tengah,” tutur Green kepada ESPN pada awal 2021.

“Tapi juga terkadang di sayap dan terkadang sebagai striker. Saya tidak pernah memiliki posisi nyata,” imbuhnya.

“Di Bayern saya bermain sebagai striker, sebagai pemain sayap, dan benar-benar tidak ada posisi untuk saya. Tapi kemudian saya datang ke Furth dan mulai bermain di tengah, dan saya pikir itu adalah keputusan yang sangat bagus. Itu favorit saya. dan posisi terbaik,” pungkasnya.

Kemampuan beradaptasi ini positif bagi Green, tapi juga merupakan kutukan–ditempatkan sebagai striker untuk Bayern, pemain sayap untuk USMNT, dan kini menjadi gelandang, tampaknya beberapa pelatih tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya.

Sulit bagi Green untuk mendapatkan kembali keajaiban yang dia hasilkan pada malam itu di Salvador, kala ia tampak siap untuk meluncurkan era baru sepakbola pria AS.

Dengan waktu dan tekad Green, biar bagaimanapun, belum terlambat bagi suporter Amerika Serikat untuk melihat percikan sang pemain yang pernah dihasilkan tujuh tahun lalu.