BartomeuEurosport

Josep Maria Bartomeu Dalangi Ide Barcelona Ikut Liga Super Eropa

Mantan presiden Barcelona, Josep Maria Bartomeu mendalangi pembicaraan Liga Super Eropa selama menjabat di klub, Goal dapat mengonfirmasi.

Blaugrana bergabung dengan Juventus, Real Madrid, Manchester United dan Arsenal sebagai kubu awal yang merencanakan dalam lima tahun untuk membentuk kompetisi baru.

Diskusi awal dari potensi pembentukan Liga Super dimulai pada musim 2015/16, dengan beberapa perbincangan akhirnya mengarah pada pengumuman Minggu (18/4) bahwa ada 12 klub yang telah menandatangani kesepakatan untuk membentuk turnamen baru yang akan menjadi pesaing Liga Champions.

Namun, rencana itu gagal karena tim-tim peserta Liga Super satu per satu mengundurkan diri di tengah banjir kritikan yang luas dari fans dan juga pemain.

Goal telah mengetahui bahwa diskusi awal pada 2015/16 lalu dapat disimpulkan bahwa beberapa elite sepakbola Eropa mempertimbangkan pembentukan kompetisi antarklub yang menampilkan klub-klub top dunia.

Hanya saja, diskusi tersebut tidak berkembang pesat, dengan Asosiasi Klub Eropa (ECA) dan UEFA meredakan situasi sebelum diskusi tersebut berkembang menjadi lebih konkret.

Bartomeu mengupayakan agar Liga Super menjadi kenyataan, bergabung dengan Andrea Agnelli, presiden Juventus dan presiden ECA, untuk menentukan dasar dari kompetisi baru yang potensial.

Mereka kemudian disusul oleh presiden Real Madrid, Florentino Perez, serta Manchester United dan Arsenal. Saat itu UEFA dan ECA menandatangani kesepakatan baru yang mendefinisikan format Liga Champions hingga 2021.

Pada 2018, setelah melihat pembagian hadiah uang dari UEFA yang dinilai kurang ideal, proposal pembentukan Liga Super dengan Barcelona sebagai salah satu tokoh kunci dipercepat. Saat itu, Bartomeu adalah satu-satunya anggota dewan yang mengetahui rencana tersebut dan ia, bersama dengan dua eksekutif, diam-diam bekerja untuk mewujudkannya.

Bartomeu dan yang lainnya yang terlibat menandatangani perjanjian kerahasiaan untuk mencegah kebocoran saat format kompetisi ditentukan, termasuk bagaimana nantinya akan berkolaborasi dengan liga-liga domestik dan bagaimana pendapatan akan diperoleh dan didistribusikan di antara klub-klub yang terlibat.

Di Real Madrid, Perez juga berinvestasi penuh dan bersedia melakukan apa pun untuk mewujudkan rencana tersebut.

Setelah rencana itu dituntaskan pada 2020, Bartomeu siap untuk membagikannya dengan dewan direksi, bahkan ketika masa jabatannya di Barca sendiri mendapat kecaman luas. Sang presiden waktu itu proyek tersebut kepada dewan, yang menyetujui penandatanganan dokumen inisiasi, yang menurut perjanjian kerahasiaan, tidak dapat diungkapkan.

Pada saat itu, mereka mempercayai Bartomeu dan, pada hari pengunduran dirinya, ia mengungkapkan rencananya, yang tidak mengikat klub untuk apa pun dan harus tetap diubah menjadi kontrak yang mengikat.

Pengganti Bartomeu, Joan Laporta, menandatangani kontrak pada Sabtu (17/4) setelah mengetahui besaran jumlah keuntungan yang akan didapat oleh klub. Meski begitu, dokumennya belum lengkap karena masih ada yang harus diputuskan, seperti bagaimana mekanisme pembagian uang.

Distribusi itu tidak akan sama antara 12 klub yang terlibat, tapi tidak tertulis dan tidak pernah diputuskan sepenuhnya.

Barcelona, terlepas dari situasi dalam beberapa hari terakhir, tetap percaya pada konsep Liga Super.

"Kami percaya bahwa ini [Liga Super] adalah kompetisi olahraga yang sangat menarik yang menyediakan lebih banyak sumber keuangan dan juga karena kami mempertahankan liga domestik," kata klub tersebut kepada Goal.

Sekarang, setelah mundurnya hampir semua klub pendiri Liga Super, Barca tetap yakin akan ada negosiasi dengan UEFA untuk mencoba dan mencapai kesepakatan baru, itulah sebabnya mereka belum merilis pernyataan resmi.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0