Jesse Lingard Ole Gunnar Solskjaer GFXGetty/Goal

Jesse Lingard Bisa Jadi Solusi Baru Lini Depan Manchester United, Apakah Potensinya Diabaikan Ole Gunnar Solskjaer?

Jesse Lingard berada di persimpangan jalan, tetapi itu seharusnya tidak lagi mengejutkan.

Seluruh karier pemain berusia 28 tahun itu dapat dilihat sebagai serangkaian persimpangan jalan; perjalanan tanpa akhir seorang pemain yang menyimpang potensi besar namun tanpa konsistensi.

Ini adalah jalur usang yang dilalui seorang lulusan akademi klub elite namun tidak cukup baik untuk menjadi starter di setiap pertandingan. Tapi ikatan emosionalnya dengan klub membuatnya masih bisa bertahan sekecil apa pun peluang untuk bermain secara reguler.

Situasi itu yang dialami Lingard. Tampaknya ia sangat tidak beruntung, karena sebenarnya ia pantas menjadi pemain utama Manchester United, tapi potensi besarnya tidak pernah terpenuhi.

Keraguan akan berada di persimpangan jalan terus mengantuinya. Sulit baginya untuk meninggalkan United, klub idolanya sejak kecil tidak peduli seberapa bagus tawaran yang diterimanya dari klub lain. Pendekatan dari West Ham United - di mana ia bermain musim lalu dan sukses mencetak sembilan gol dalam 16 laga - dilaporkan ditolak sang pemain demi memperebutkan tempat di Old Trafford.

Lingard telah mengambil risiko besar, dan sejarahnya selama ini membuktikan bahwa pilihannya itu bisa saja salah.

Ia hanya tampil sebanyak 133 pertandingan di Liga Primer selama tujuh tahun, dan tidak pernah menjadi starter lebih dari 20 pertandingan dalam satu musim. Dengan kata lain, memasuki beberapa tahun terakhir dari puncak kariernya, Lingard telah menghabiskan setidaknya setengah dari kariernya di bangku cadangan.

Jelas Lingard berharap performa apiknya selama dipinjamkan ke West Ham pada paruh kedua musim lalu bisa mengubah mengubah persepsi Ole Gunnar Solskjaer tentang potensi yang ditawarkannya, dan jeda internasional pekan ini juga memberi petunjuk lain akan seberapa besar kemampuannya.

Selain itu, terlepas dari kesulitan Lingard masuk ke dalam skema Solskjaer (ia bahkan tidak pernah semenit pun bermain pada musim 2020/21 sebelum pindah ke West Ham pada Januari), ada banyak alasan taktis mengapa ia bisa memainkan peran penting bagi United musim ini.

Jesse Lingard England GFXGetty/Goal

Dua gol dan assistnya dalam kemenangan Inggris 4-0 atas Andorra menjadi contoh, menunjukkan kinerja yang kuat dari lini depan yang menyuguhkan tak hanya naluri membunuh Lingard tapi juga kecerdasan posisi dan ketangkasan taktisnya.

Tentu saja Solskjaer bisa lebih leluasa meramu taktinya dengan lebih banyak pemain sekaliber Lingard, yang piawai berpindah-pindah posisi di lapangan, seperti yang dibuktikannya dua kali berganti posisi saat tampil di Wembley, Senin (6/9) kemarin.

Saat ini, Paul Pogba bermain secara teratur di lini tengah sebelah kiri meski pun kecenderungannya bermain adalah menjadi penyalur lini, sementara para pemain sayap lainnya, Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Anthony Martial bertipe penggiring bola secara langsung.

Kepiawaian Lingard bermain di antara lini, ditandai dengan kemampuannya untuk menusuk dan memainkan operan progresif yang rapi dari kedua sisi, adalah hal yang unik di antara para pemain United.

Ini adalah detail penting: ketidakmampuan Solskjaer untuk melatih progresi bola - dalam hal membongkar pertahanan lawan yang melelahkan - berarti individu dengan kecerdasan seperti Lingard diperlukan untuk mengatasi kekurangan tersebut.

Dan Lingard sangat efektif dalam melakukan hal tersebut dalam menggiring bola, membuka permainan dengan sentuhan cerdas yang mematahkan lini tengah dan membuat timnya unggul.

Ia melakukan itu dengan efek luar biasa di babak pertama duel lawan Andorra, sementara musim lalu ia berada di peringkat ke-14 di Liga Primer untuk kategori pemain dengan laju progresif per 90 (3,33). Rashford adalah satu-satunya pemain United yang punya catatan lebih baik.

Kepiawaian dalam memanfaatkan ruang sempit selalu menjadi ciri khas Lingard, namun sayangnya kurang diimbangi dengan kualitas mumpuni dalam penyelesaian akhir yang konsisten.

west-ham-lingard-202105230830(C)Getty Images

Tapi statistik itu mungkin telah berubah sejak dipinjamkan ke West Ham, di mana ia sukses membukukan sembilan gol dan empat assist dalam waktu yang singkat dan performa tajamnya itu dibawanya ke laga internasional bersama Inggris.

Tampaknya bermain sepakbola reguler untuk pertama kalinya dalam kariernya adalah hal yang dibutuhkan Lingard untuk menambah ketajamannya dan itulah sebabnya keputusan untuk tidak bergabung kembali dengan West Ham pada Agustus lalu tampak bakal menjadi keputusan yang buruk.

Tidak peduli seberapa mengesankan dirinya saat menghadapi Andorra, Lingard tidak mungkin akan mendapat menit bermain reguler di bawah arahan Solskjaer, sesuatu yang sangat diyakini oleh manajer Inggris, Gareth Southgate.

"Kami tahu Jesse memiliki tantangan dan ia tahu ia memiliki tantangan besar dengan kualitas para penyerang di United," kata Southgate. "Tapi mereka juga memiliki banyak pertandingan di kompetisi yang berbeda, jadi semoga ia bisa menjalani tantangan itu."

Jelas merupakan sebuah tantangan besar baginya, bahkan jika Lingard bisa terus mencetak gol di atas statistik total gol yang diharapkannya (musim lalu ia mencetak sembilan gol dari 5,72xG) dan membuktikan bahwa jumlah golnya pada 2020/21 adalah tanda peningkatan dari naluri golnya.

Ketajaman diperlukan untuk meyakinkan orang-orang tentang bakatnya, dan itu sudah mulai dibuktikan oleh Lingard. Bagi kebanyakan orang, termasuk mereka yang di United, kecerdasan permainan Lingard di luar sepertiga akhir tidak cukup menarik perhatian.

Jesse Lingard Manchester United GFXGetty/Goal

Tapi sebenarnya ia tidak pantas diabaikan. Musim lalu ia mengumpulkan lima 'assist kedua' (operan sebelum assist), jumlah tertinggi kedua di Liga Primer hanya kalah dari Bruno Fernandes, dengan tujuh catatan, meski pun hanya tampil dalam 16 pertandingan.

Itu adalah statistik yang paling mendalam mengenai dampak Lingard yang halus namun integral dalam sebuah permainan, dan mungkin lebih relevan daripada 1,1 dribel dan 1,1 umpan kuncinya per pertandingan musim lalu – angka yang tidak akan menempatkannya dalam lima besar di United.

"Ia telah pulih dengan cemerlang dalam 12 bulan terakhir dari periode yang sulit," kata Southgate, "dan ia telah menunjukkan hari ini [versus Andorra] bahwa ia memiliki kualitas."

Memang benar. Tetapi memiliki kualitas tidak serta merta otomatis membuatnya punya kapasitas yang cukup untuk bermain secara reguler bagi tim yang berambisi mengejar gelar juara. Persimpangan karier terbarunya ini lagi-lagi menunjukkan, bahwa Lingard tampaknya terjebak dalam pengambilan keputusan terkait masa depannya.

Lingard bisa menjadi aset bagi Manchester United. Ia bahkan sebenarnya bisa menjadi salah satu aset yang lebih besar untuk West Ham.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0