Jersey Selangor 1986 - Retrospektif Ristomoyo Pemain Indonesia Pertama Di Malaysia

Cover_Jersey SelangorGoal Indonesia

“Almarhum Mokhtar (Dahari) sering tergelak apabila kami berdua mengenang momen itu!”

Itu adalah ungkapan pertama Ristomoyo Kassim, bekas pemain Selangor yang juga pemain pertama dalam sejarah klub yang berasal dari Indonesia, saat ditanya tentang gol yang dicetaknya di final Piala Malaysia 1986. Kami sedang membuka pertemuan virtual pada sebuah malam, minggu lalu. Beliau terus melanjutkan ceritanya dan saya terus mendengar Pak Risto, sebagaimana beliau dipanggil, dengan penuh rasa takjub. Sambil menghirup kopinya, beliau membawa saya menelusuri lorong memori yang epik saat malam keramat 3 Mei 1986 di Stadion Merdeka, Kuala Lumpur.

Nama Ristomoyo kembali terucap di bibir setiap fans bolasepak Malaysia, khususnya pendukung Selangor FC setelah awal bulan ini memperkenalkan jersey baru tim yang akan dikenakan sepanjang musim 2021. Rancangan terinspirasi dari jersey yang dikenakan Selangor ketika menjuarai Piala Malaysia 1986. Di laga final, Selangor mengalahkan Johor dengan skor mencolok, 6-1. Ristomoyo menjadi salah satu pencetak gol buat Selangor. Tahun 1986 juga merupakan musim debut Ristomoyo bersama tim berjuluk Red Giants itu dan musim itu kian bermakna berkat satu-satunya gol yang dibuatnya musim itu mampu membantu Selangor memenangi piala bergengsi tersebut.

“Azlan (Johar), rekan setim saya, pernah bilang sama saya, ‘Kapan Risto akan score goal?’. Sambil bergurau saya bilang nanti di final (Piala Malaysia). Eh, kebetulan saya mencetak gol di final itu. Azlan langsung ketawa!” kisah Pak Risto.

4aecee311d2aec0afd30e71d85772fcb0977a3d6

Mengangkat lagi memori kemenangan itu menjadi tema kampanye pemasaran bervisi dan bijak bagi Selangor FC. Jersey nostalgia 1986 telah ludes terjual hanya dalam 48 jam setelah diluncurkan. Menurut CEO Selangor FC, Dr. Johan Hamidon, sebanyak 6.000 buah jersey diproduksi saat diluncurkan, tapi ditambah (restocked) karena telah habis terjual. Mungkin jumlah produksi awal itu terbilang rendah karena jumlah fan base Selangor yang sangat besar. Belum lagi situasi Perintah Kawalan Pergerakan (PKP, semacam lockdown) di Malaysia memunculkan rasa pesimistis bahwa angka penjualan jersey tidak akan bagus di tengah situasi pandemi Covid-19. Namun, ternyata semua perkiraan itu meleset. Meski musim bolasepak Malaysia masih berada di dalam lockdown, gairah para pendukung fanatik tidak terbendung dengan tetap membeli dan melariskan jualan jersey ini dalam sekejap mata.

Nostalgia yang dibangkitkan jersey ini banyak bertumpu terhadap sosok almarhum Mokhtar Dahari, legenda Selangor dan Malaysia yang tak perlu lagi diperkenalkan. Bagi Pak Risto, yang menyimpan dan sering menonton ulang rekaman final 1986 itu di rumahnya, kenangan manis beliau bersama almarhum tidak hanya sebatas keberhasilan merebut Piala Malaysia pada malam itu, tetapi lebih jauh lagi.

“Almarhum Mokhtar sendiri sering tertawa jika melihat lagi saat saya mencetak gol itu. Awalnya, niat saya adalah untuk memberikan umpan kepada almarhum untuk mencetak gol. Tetapi, saya sendiri terkejut karena bolanya langsung masuk gawang!”

“Buat saya," lanjut Pak Risto, "almarhum adalah orang yang istimewa, berdedikasi, dan berdisiplin tinggi. Semangat juangnya jauh berbeda dengan pemain lain. Di mata saya, belum ada pemain Selangor yang mampu menandingi beliau hingga hari ini. Saya pernah menjadi rekan sekamar almarhum ketika kami bermain di sebuah laga amal di Labuan, dan di situ lah saya merasa cukup dekat dengan almarhum karena ada kesempatan mengenali kebaikan hatinya serta kagum melihat kepribadiannya. Jujur, saya banyak belajar darinya dan begitu segan dengan almarhum Mokhtar.”

Mendengar kenangan Ristomoyo, mantan pemain timnas Indonesia yang bukan saja pernah beraksi bersama Selangor tetapi juga kenal dekat dengan almarhum Mokhtar, saya terpikirkan sesuatu. Di tengah gemparnya sambutan luar biasa terhadap peluncuran jersey “nostalgia 1986”, sebenarnya Selangor melepas satu peluang besar yang penting dalam melipatgandakan penjualan jersey serta meningkatkan nilai pasaran klub.

Selangor tidak menggunakan kesempatan memanfaatkan hubungan istimewa dengan Indonesia yang telah terjalin sejak kehadiran Ristomoyo ke klub tersebut.

“Sejak zaman saya bermain untuk Selangor sudah banyak suporter asal Indonesia yang datang menonton pertandingan kami di Stadion Merdeka. Hal ini diakui juga oleh teman-teman dan sanak saudara saya yang ikut berada di stadion ketika itu. Malahan mereka menyanjung, menyebut-nyebut nama saya di mana-mana! Hal ini membuat saya terharu,” ulas Pak Risto tentang awal mula hubungan istimewa Indonesia dan Selangor ini.

Pengakuan Ristomoyo akan keutuhan dan kesinambungan hubungan Indonesia-Selangor sejak dari zamannya membuktikan bahwa potensi besar di Indonesia ini seharusnya digunakan sebaik mungkin. Meski menurut Dr. Johan, video promosi jersey yang melibatkan para pemain legenda seperti Lim Chuan Chin, Azlan Johar, Rusdi Suparman, dan anak sulung almarhum Mokhtar Dahari, Reza Mokhtar, direkam dengan protokol PKP yang memiliki sejumlah syarat seperti pembatasan jarak sosial.

Apapun, terlepas dari kesempatan emas itu, ada lagi pertanyaan lain yang lebih utama. Apakah Selangor FC pernah terpikir untuk mengokohkan serta mempererat lagi hubungan dengan Indonesia secara formal?

Bagi Ristomoyo, terkait hal ini Selangor seharusnya berada paling depan dibandingkan dengan klub lain di Malaysia. Sejak berdiam di Kuala Lumpur, Pak Risto telah menyaksikan bagaimana Bambang Pamungkas, Elie Aiboy, Andik Vermansah, Evan Dimas, dan Ilham Udin Armaiyn membantu mengangkat prestasi klub ke level yang lebih tinggi. Pak Risto sepakat dengan saya, Bambang Pamungkas adalah salah satu pemain terbaik Selangor di masa ini yang masih punya pengaruh dan status sebagai ikon di kedua negara. Aspek ini seharusnya diperhitungkan dan dipertimbangkan Selangor.

“Bagi saya, Bambang sepantasnya diakui dan diberi peran penting sebagai club ambassador misalnya buat Selangor, khususnya melanjutkan ketokohan dan pengaruhnya yang cukup besar dalam membantu mendapat ruang pasar di kalangan komunitas sepakbola Indonesia. Dari aspek promosi, Selangor dengan bantuan Bambang juga dapat menjalankan berbagai aktivitas bersama Indonesia, seperti mempertahankan tradisi pemain timnas Indonesia di klub hingga mengadakan football tour tahunan ke sana,” jelas Pak Risto.

Selangor berhasil membangkitkan sejarah, memori, dan nostalgia dengan memperkenalkan jersey kandang terbarunya, tetapi kenapa aspek sejarah dan memori yang melibatkan Bambang tidak digunakan? Mungkin sewaktu masih bermain untuk Persija Jakarta, hal ini sulit dilaksanakan, tetapi kesempatan sudah terwujud sejak akhir musim 2019 ketika Bambang gantung sepatu. Namun, kurang dari satu bulan dari keputusan itu, Bambang menerima pekerjaan baru sebagai manajer tim Persija. Nah, lepasnya peluang ini lah yang merugikan Selangor. Seharusnya, mereka bergerak lebih agresif dalam mendapatkan sosok ikon seperti Bambang. Jelas, karena Bambang sendiri tidak pernah mengucapkan perpisahan dengan Selangor meski telah meninggalkan klub bertahun-tahun lamanya.

Seperti halnya jersey 1986, kejayaan Bambang bersama Selangor adalah salah satu episode yang pernah dilalui klub tersebut, tetapi semuanya kini tinggal sejarah. Memasuki musim 2021, Selangor terlihat belum mampu menempatkan diri di dalam keadaan terbaik untuk mencapai kejayaan, jika menilik prestasi mereka musim sebelumnya. Target lolos ke Piala AFC 2021 musim lalu gagal tercapai karena tidak konsisten di Liga Super Malaysia (MSL). Meski terus setia memberikan dukungan, pencapaian Selangor yang tidak menentu menguji kesabaran para pendukung fanatik atau ultras klub ini.

“Untuk mencapai tahap konsistensi tinggi, Selangor harus memastikan para pemain di semua posisi memiliki kualitas yang tinggi, seperti apa yang saya, almarhum Mokhtar, dan rekan-rekan lain di dalam tim Selangor 1986. Ini juga terlihat sewaktu era Bambang yang sukses membawa Selangor unggul di atas takhta bolasepak Malaysia. Begitu juga untuk musim 2021, Selangor harus memiliki pemain-pemain yang mampu memberikan mereka keunggulan di atas lapangan pada setiap pertandingan.”

Untuk mengarungi musim ini, Selangor telah merombak kekuatan dengan mendatangkan pelatih baru asal Jerman, Karsten Neitzel, untuk menerapkan “DNA Jerman” di dalam corak permainan tim. Perubahan dari suntikan DNA ini belum terlihat karena kepastian musim kompetisi masih terkatung-katung. Namun, dari segi pemilihan pemain baru, Selangor dianggap telah melakukan pramusim yang serius dengan membawa masuk beberapa pemain ternama, khususnya Shahrel Fikri Fauzi, striker timnas Malaysia yang menjadi pencetak gol terbanyak musim lalu, dan Oliver Buff, eks pemain timnas junior Swiss dan juara Piala Dunia U-17 2009, sebagai stimulus guna menguatkan efek “DNA Jerman” tadi.

“Di mana-mana sepakbola kini banyak bergantung pada kecepatan, jadi apakah ‘DNA Jerman’ atau Brasil, bagi saya sama saja. Saya harap para pemain baru dari Eropa yang dibawa masuk pelatih mampu menerjemahkan DNA yang ingin diterapkan ke dalam pasukan. Sekiranya ada pemain Indonesia hari ini yang menyimpan hasrat mewakili Selangor, mereka harus membuktikan dulu bahwa mereka mampu menyesuaikan diri dengan corak ‘DNA Jerman’ ini,” tukas Pak Risto.

Sampai kapan sejarah dan kejayaan masa lalu terus menjadi jualan utama Selangor?

Selangor telah membawa para pendukung bernostalgia dengan era kegemilangan 1986 berkat peluncuran serta promosi jersey terbarunya. Ini saya rasakan sepanjang obrolan dengan Pak Risto yang dipenuhi dengan berbagai anekdot klasik. Tapi, kenangan lama Ristomoyo seharusnya tidak menjadi fokus utama yang perlu diulang dan sering diberi penekanan oleh Selangor, khususnya terhadap para pendukung.

Meski tidak salah, tapi sampai kapan tagline sejarah serta kejayaan masa lalu terus menjadi jualan utama tim ini? Bahkan Selangor seharusnya menilai, kalau pun prestasi terdahulu dijadikan standar pengukur, dasawarsa lalu merupakan dasawara paling sulit yang pernah mereka lalui. Dengan hanya merebut satu gelar sepanjang 2011 hingga 2020, julukan King of Malaya yang disematkan kepada mereka hanya akan menimbulkan silang pendapat di kalangan pendukung tim lain di Malaysia yang memiliki catatan serta pencapaian lebih baik pada periode yang sama.

Untuk mengikis persepsi bahwa Selangor masih hidup di bawah bayang-bayang sejarah masa lalu, mereka mengusung misi yang cukup penting dalam membuktikan bahwa 2021 akan menjadi musim dengan sejarah baru sejak nostalgia kejayaan terakhir mereka mengangkat Piala Malaysia musim 2015 lalu. Demikian tutup Pak Risto kepada saya sambil menghabiskan kopinya sebelum menutup obrolan.