Luis Enrique SpainGetty Images

Italia Vs Spanyol: “La Dolce Vita” Hadapi “Vida Brava”

Ada sebuah cuplikan, yang sebenarnya tidak berhubungan dengan sepakbola, yang mencuri perhatian selama penyelenggaraan Euro 2020. Roberto Mancini memberi komentar pascapertandingan dengan menyampirkan jas Armani-nya di pundak. Selayaknya seorang model, alih-alih pelatih timnas Italia. Mungkin tidak banyak yang bisa mengingat apa persisnya kutipan Mancini saat itu, melainkan gaya busananya yang diperbincangkan. Ini bukan kali pertama Mancini disebut-sebut pemerhati haute couture karena nyaris satu dasawarsa lalu ikatan syalnya yang rapi jali meramaikan pemberitaan berbagai media Inggris.

Buat Mancini prinsip “la dolce vita” bukan sekadar obrolan peminum kopi pagi hari di Italia. La dolce vita. Hidup yang baik. Hidup adalah untuk dinikmati. Saat Italia sudah memastikan diri lolos ke babak 16 besar, Mancini memainkan hampir seluruh anggota skuad pada pertandingan terakhir melawan Wales. Tujuannya adalah tidak mengulangi apa yang dia rasakan semasa masih berkarier sebagai pemain.

Saat memulai karier pertengahan 1980-an, Mancini disebut-sebut sebagai salah satu fantasista terbaik dalam sepakbola Italia. Dia kemudian membentuk tandem sehati dengan Gianluca Vialli yang kini turut mendampinginya sebagai kepala delegasi tim. Dulu, menyebut duet Mancini-Vialli sama menggetarkannya dengan menyebut duet legendaris semacam Baresi-Costacurta, Gullit-Van Basten, atau Voller-Klinsmann. Namun, magi itu sirna manakala Mancini mengenakan seragam Azzurri.

Dalam sebuah tur ke Amerika Serikat pada 1984, Mancini dilabrak pelatih Enzo Bearzot di ruang sarapan tim. Dia tertangkap basah baru pulang ke hotel setelah pesta semalam suntuk di kelab malam terkenal New York. Bearzot baru akan mau memanggil dirinya lagi ke skuad timnas jika Mancini sanggup membikin 40 gol dalam semusim. Usia Mancini saat itu baru 19 tahun. Praktis, Mancini tidak masuk ke dalam skuad Italia yang berpartisipasi di Piala Dunia 1986.

Setelah turnamen itu, Bearzot digantikan Azeglio Vicini setelah kegagalan mempertahankan gelar juara dunia. Nama Mancini kembali ke orbit. Bahkan Mancini mencetak gol perdananya untuk Azzurri saat menghadapi tuan rumah Jerman Barat pada laga pembuka grup Euro 1988. Dia merayakannya dengan emosional seperti membalas dendam selalu menjadi sasaran hujatan media Italia. Tapi, Mancini tak pernah bersinar. Dia selalu digantikan Alessandro Altobelli pada dua laga lanjutan melawan Spanyol dan Denmark. Altobelli mencetak satu assist dan satu gol pada dua laga tersebut.

Mancini tak dimainkan Vicini sama sekali pada Piala Dunia 1990 yang digelar di negeri sendiri. Dia kalah bersaing dengan seorang bintang muda bernama Roberto Baggio. Italia tidak lolos ke Euro 1992, sehingga Piala Dunia 1994 menjadi kesempatan terakhir Mancini membuktikan diri di pentas internasional. Namun, dia kembali berulah. Saat pulang dari lawatan uji coba di Jerman, Mancini melabrak Arrigo Sacchi. Pasalnya, sang pelatih ingkar janji memainkannya 90 menit penuh. Alih-alih, Sacchi menuruti tuntutan para penonton saat pergantian babak yang ingin menyaksikan Gianfranco Zola, sang Maradona baru dari Napoli.

Inter ManciniGetty

Pengalaman pahit itu berubah menjadi energi positif saat Mancini beralih menjadi pelatih. Dia membangun reputasi sebagai pembaharu. Fiorentina dan Lazio adalah dua tim dengan kesulitan finansial, tetapi dibawanya menjuarai Coppa Italia 2002 dan 2004. Pindah ke Inter Milan, Mancini menghapus kemarau gelar klub sejak 1989 dengan menjuarai Coppa Italia 2005. Setelahnya, Scudetto pun diraih. Skuad yang dibangun Mancini untuk Nerazzurri menjadi fondasi kokoh bagi Jose Mourinho saat memenangi triplete pada 2010.

Lalu, bersama Manchester City Mancini sukses memenangi gelar Liga Primer musim 2011/12. Kesempatan menangani timnas Italia tiga tahun lalu adalah tawaran yang diterima tanpa pikir panjang oleh Mancini. Mancini butuh memperbaharui arah kompasnya setelah periode minor bersama Galatasaray dan Zenit St Petersburg; begitu pun pula dengan Italia yang butuh kalibrasi setelah gagal lolos ke Piala Dunia untuk kali pertama dalam 60 tahun.

Tiga puluh delapan purnama berselang dan 32 pertandingan tak terkalahkan, rasanya Mancini dan Italia menuju ke arah yang tepat. Keanggunan Italia dimulai sejak hari pertama Euro 2020. Permainan atraktif mereka, “Tikitalia”, menjadi bahan perbincangan publik dan pengamat, penggemar dan bukan penggemar. Saat kesulitan mengadang, kekuatan karakter muncul. Dua laga sulit beruntun melawan Austria dan Belgia membuktikan Italia layak diunggulkan sebagai tim favorit juara turnamen ini.

Di semi-final Euro 2020, Selasa 6 Juli, di Wembley mereka akan menghadapi Spanyol untuk memperebutkan satu tiket ke laga puncak. Layaknya kisah epik dalam kesusastraan dunia, figur pelatih di pihak lawan pun tengah berjuang melengkapi destinasinya.

***

Di pinggir lapangan, Luis Enrique tidak kalah modis dengan Mancini. Pilihan busana pelatih Spanyol itu cenderung non-formal, tapi tetap berkelas. Terkadang memadukan kemeja dengan chino. Maskulin. Pilihan busana itu seperti bersuara, “Ini adalah pria berani yang pernah mengikuti Marathon des Sables!”. Itu merupakan sebuah lomba maraton mahaberat degan trek sejauh 250 km dan selama enam hari melintasi Gurun Sahara.

Enrique tak pernah tanggung-tanggung. Hidup harus selalu dilalui dengan keberanian. Vida brava. Dia dikenal sebagai pemain serbabisa. Berkembang bersama Sporting Gijon, dia menjadi salah satu di antara sedikit pemain yang merasakan pindah langsung dari Real Madrid ke Barcelona. Hidungnya pernah patah disikut Mauro Tassotti ketika Spanyol menghadapi Italia pada perempat-final Piala Dunia 1994 di Foxborough, AS. Sikap tidak kenal kompromi terus dibawanya sampai melatih.

Para pemain senior pujaan fans AS Roma dan Celta Vigo seperti Francesco Totti dan Borja Oubina merasakan dampak kepelatihan Enrique. Begitu juga ketika dia menangani Barcelona. Xavi, Gerard Pique, bahkan Lionel Messi tidak memperoleh keistimewaan. Bagi Enrique, seorang pelatih harus mengambil keputusan paling sulit dalam menentukan yang terbaik bagi tim. Sekali pun itu harus melabrak nilai-nilai lama.

Karakter Enrique pas dengan yang dicari federasi Spanyol setelah insiden pemecatan mendadak Julen Lopetegui menjelang Piala Dunia 2018. Spanyol gagal total di turnamen itu. Pada penunjukannya sebagai seleccionador, Enrique menjanjikan sebuah evolusi, bukan revolusi. Menangani timnas Spanyol memang seperti menempatkan diri dalam posisi sulit. Harus siap-siap menjadi pelanduk di tengah dua gajah yang saling beradu. Maksud analogi dua gajah itu adalah Madrid dan Barcelona. Tetapi, Enrique bukanlah pelanduk.

Luis Enrique SpainGetty Images

Para pemain langganan timnas mulai mendapat persaingan dengan muka-muka baru. Tidak hanya Real Madrid dan Barcelona, para pemain dari klub lain pun mendapat kesempatan yang sama untuk bersaing. Terbukti ketika Enrique mengejutkan orang-orang saat mengumumkan skuad Euro 2020. Tidak ada satu pun pemain Real Madrid di dalamnya. Skuad Spanyol adalah salah satu yang termuda di antara tim peserta lain dengan rata-rata usia 26,5 tahun. Enrique memanggil 24 pemain dari 16 tim yang berbeda. Manchester City menjadi pemasok terbanyak dengan empat pemain; setelahnya hanya Barcelona, Atletico Madrid, dan Villarreal yang mengirim dua perwakilan atau lebih.

Sesuai yang dijanjikan, Spanyol terus berevolusi. Di Nations League 2018/19, La Roja mengukir hasil gemilang dengan mengalahkan Inggris 2-1 di Wembley; lalu Kroasia 6-0. Namun, mereka kemudian menelan kekalahan beruntun dari lawan-lawan yang sama dengan skor identik 3-2. Hasil itu menggagalkan langkah ke final four. Spanyol mampu memperbaiki pencapaian pada ajang yang sama musim 2020/21 setelah di antaranya menghancurkan Jerman 6-0. Mereka akan kembali menjumpai Italia pada babak semi-final, Oktober mendatang.

Spanyol pun tidak konsisten dalam turnamen ini. Dua pertandingan pertama berakhir sama kuat. Tak ayal, tim dihantam kritik hebat. Alvaro Morata sampai menerima ancaman mati dari fans. Persis di ambang kegagalan yang spektakuler itu, Spanyol mampu bangkit melawan Slowakia. Kiper Martin Dubravka berkontribusi dengan memberikan gol bunuh diri sebelum pasukan Enrique menang besar, 5-0.

Kritik tidak serta-merta mereda. Kemenangan demi kemenangan seperti hanya menundanya, termasuk ketika Spanyol mampu mengatasi perlawanan Kroasia dan Swiss melebihi waktu normal pertandingan. Spanyol menggilas kenaifan Kroasia 5-3 dan penyelamatan Unai Simon saat adu penalti mencuri perhatian publik terhadap penampilan heroik Yann Sommer. Namun, Spanyol seperti kehilangan efektivitas. Pola operan pendek yang mereka tampilkan seakan tidak berarti tanpa konversi peluang.

Publik Spanyol mungkin tidak optimistis dengan peluang timnya, tapi Enrique enggan mengompromikan etos kerjanya. Spanyol tetap menerapkan permainan tekanan tinggi, distribusi bola yang cepat, mempertahankan bentuk tim, dan sebanyak mungkin menciptakan peluang. Enrique memang bukan pelanduk, pendiriannya sekeras karang.

Italia kini menunggunya di depan mata. Pertemuan Mancini dan Enrique seperti dua konsep kehidupan yang saling berhadapan. Keanggunan la dolce vita dan kegarangan vida brava. Tidak ada panggung yang lebih sempurna daripada Wembley untuk menyaksikannya.
Iklan