England celebrate Harry Kane penalty vs Denmark, Euro 2020Getty

Final Euro 2020 - Antara Teori Konspirasi UEFA, Mitos, Atau Kecemerlangan Sejati Inggris?

Setelah penantian 55 tahun, Inggris akhirnya berhasil kembali ke panggung terbesar sepakbola. Tim berjuluk Tiga Singa itu berhak mencicipi final turnamen besar internasional setelah melangkahi Denmark di semi-final Euro 2020. Di final Senin (12/7) dini hari WIB besok, mereka akan berhadapan dengan raksasa dengan sejarah sepakbola yang mentereng: Italia.

Namun perjalanan Tiga Singa tersandung oleh desas-desus yang bisa bikin panas telinga para penggawa dan pendukungnya: Inggris dituduh mendapat perlakuan anak emas lewat teori konspirasi bahwa UEFA sengaja melanggengkan mereka hingga ke final Euro tahun ini.

Lantas, apakah tuduhan itu tepat sasaran? Apakah usaha dan talenta pasukan Gareth Southgate sungguh tak berarti hingga UEFA sampai turun tangan demi menggelar karpet merah bagi negara yang memproklamasikan diri sebagai penemu sepakbola?

Penalti kontroversial

Pertama-tama mari kita tilik apa saja yang terjadi dan dikatakan seiring langkah Inggris ke final.

Seperti yang telah disaksikan oleh penggemar sepakbola dari penjuru dunia, Tiga Singa berhasil menaklukkan Denmark di semi-final berkat gol bunuh diri Simon Kjaer dan gol Harry Kane setelah tertinggal terlebih dahulu gara-gara perekik indah Mikkel Damsgaard.

Yang menjadi kontroversi adalah ceplosan kedua anak asuh Southgate. Inggris mendapat hadiah penalti pada babak tambahan setelah Joakim Maehle  'dinilai' melanggar Raheem Sterling di dalam kotak.

Raheem Sterling penalty incident, England vs Denmark, Euro 2020Getty

Tayangan ulang menunjukkan bahwa kontak antara Maehle dan Sterling bisa dibilang sangat lembut. Wasit Danny Makkeile sempat berkonsultasi dengan VAR, tetapi keputusannya teguh: penalti!

Kasper Schmeichel yang bermain mengesankan sepanjang malam bisa menghiasi halaman depan surat kabar Denmark sebagai pahlawan setelah menepis tendangan sang eksekutor, Kane. Sayang itu tak terjadi karena bola memantul mantap ke arah sang kapten Inggris dan Kane tidak membuat kesalahan kedua demi menyelesaikan  come back  Tiga Singa.

Jose Mourinho, salah satu pelatih tersukses di dunia yang pernah mencicipi asam garam sepakbola Inggris, berkata kepada talkSport  menyoal penalti tersebut: "Saya mengatakan apa yang saya lihat. Mungkin Anda tidak menyukai pendapat saya kali ini. Itu bukan penalti."

La Gazzetta dello Sport  dan media Italia lain menggambarkan bahwa tak ada kontak sama sekali saat pelanggaran terjadi. Mereka mengecam keputusan itu apalagi karena keberadaan VAR seolah tidak berguna.

Itu bukan menjadi satu-satunya alasan untuk meragukan keabsahan penalti Inggris. Beberapa detik sebelum pelanggaran terjadi, ada bola kedua yang bergulir di lapangan tak jauh dari Sterling yang masih dalam proses menusuk sisi kanan Denmark.

Inggris 'tuan rumah' Euro 2020

Piala Eropa kali ini sedikit berbeda. Pada edisi-edisi sebelumnya, UEFA menunjuk satu negara sebagai penyelenggara setelah melalui seleksi ketat dan berbagai proses pemilihan.

Namun pada tahun 2012, UEFA memutuskan untuk menggelar Euro 2020 di beberapa negara karena berbagai alasan, salah satunya karena perubahan format dari 16 negara menjadi 24 negara sejak Euro 2016.  

"2020 adalah ulang tahun ke-60 Piala Eropa. Tentunya fakta bahwa Euro [babak utama] akan diikuti oleh 24 tim alih-alih 16 bisa membebani negara jika ingin menjadi tuan rumah. Ini kian sulit bagi banyak negara – keperluannya semakin besar dan besar," ujar Sekretaris Jenderal UEFA kala itu, Gianni Infantino, melalui laman resmi mereka.

"... Alih-alih berpesta di satu negara, kita akan menggelar pesta di seluruh Eropa pada musim panas 2020."

Setelah itu, UEFA akhirnya memilih sebelas stadion dalam sebelas kota di sebelas negara sebagai panggung pementasan Piala Eropa tahun ini: Stadion Wembley di London, Stadio Olimpico di Roma, Allianz Arena di Munich, La Cartuja di Sevilla, Arena Nationala di Bukares, Olympic Stadium di Baku, Krestovsky Stadium di Saint Petersburg, Puskas Arena di Budapest, Johan Cruyff Arena di Amsterdam, Hampden Park di Glasgow, dan Stadion Parken di Kopenhagen.

Keputusan ini justru menjadi senjata makan tuan buat UEFA, mereka dikritik tidak adil lantaran membiarkan Inggris memainkan tujuh dari enam laga, termasuk final nanti, di kampung halaman, di Wembley.

Wembley general view Euro 2020Getty

Satu-satunya laga di mana Inggris tak mendapatkan keuntungan sebagai tuan rumah hanyalah kala membantai Ukraina 4-0 di Roma pada perempat-final.

"UEFA tak bisa membiarkan Inggris, yang katanya negara elit, memainkan enam dari tujuh laga mereka di hadapan fans sendiri. UEFA benar-benar mengacau!" Keluh eks penggawa Skotlandia dan Chelsea Craig Burley kepada  Daily Mail .

Balas budi UEFA?

Alasan-alasan di atas kian menguatkan bahwa Inggris anak emas UEFA tahun ini, namun  La Gazzetta dello Sport  berpikir lebih jauh: mereka menuduh UEFA melakukan politik balas budi kepada Boris Johnson selaku Perdana Menteri Inggris. Bagaimana bisa?

Ingatkah Anda dengan hiruk-pikul Liga Super Eropa (ESL) pada bulan April yang lalu?

Dua belas klub top Eropa, termasuk enam raksasa Inggris (Chelsea, Arsenal, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham Hotspur) saling bersepakat untuk membuat kompetisi  breakaway .

Tindakan itu dikecam habis-habisan oleh publik sepakbola, termasuk UEFA, sehingga ESL bubar jalan.

Boris Johnson juga terlibat seraya mencap klub yang ikut serta sebagai 'kartel' dan bersumpah akan melakukan segalanya demi menghambat ESL.

Tentu pihak UEFA girang bukan main. Alexander Ceferin, Presiden UEFA, memuji pemerintahan Inggris dengan berkata bahwa ia "terkesan dengan efisiensi mereka" setelah mendengar ultimatum Johnson.

Oleh karena itu,  La Gazzetta dello Sport  menuliskan: "Penalti yang sungguh dermawan, yang akhirnya membawa tim Southgate mengalahkan Denmark mengonfirmasi kecurigaan soal balas budi [UEFA] kepada Boris Johnson. Ia didapuk sebagai penyelamat sepakbola Eropa setelah menyerang ESL."

Fase grup memble, tapi menggila di babak gugur

EM-Finale Italien vs. EnglandGetty Images

Setelah membaca fakta-fakta dan klaim tersebut, saatnya menilik bagaimana Inggris bermain di sepanjang Euro 2020 hingga bisa ke final.

Tiga Singa menghadapi Kroasia, Skotlandia, dan Republik Ceko di babak gugur. Mereka memuncaki Grup B dengan tujuh poin berkat dua kali menang meski ditahan imbang Skotlandia tanpa gol. Total mereka hanya mencetak dua gol saja sebelum memasuki babak gugur.

Statistik menunjukkan bahwa Inggris cukup setara saat mengalahkan Luka Modric dkk. Jumlah tembakan sama persis, sedangkan penguasaan bola dan total umpan tak berbeda jauh.

Sementara itu mereka dipaksa menderita dengan hanya bisa mengulang-ulang penguasaan bola melawan musuh bebuyutannya. Lebih sering memegang si kulit bundar, Inggris tak mampu menembus pertahanan Skotlandia dan beberapa kali direpotkan saat bertahan.

Hal itu kembali terjadi saat menghadapi Republik Ceko, mereka kalah jumlah tembakan meski lebih banyak membuat umpan. Gol dini Sterling yang menjadi penyelamat mereka.

Bisa disimpulkan bahwa Inggris harus berdebar-debar demi memuncaki grup. Dua kemenangan mereka hanya berakhir tipis dengan skor 1-0 dan tidak terlihat meyakinkan secara permainan. 

Setelah itu, Inggris justru meledak. Menghadapi negara yang kerap menghantui mereka di turnamen besar, Jerman, Inggris berhasil menang dengan meyakinkan 2-0.

Memang dua gol Inggris baru tercipta pada paruh kedua setelah sempat tak mampu menyamai intensitas Jerman di awal babak pertama, tetapi Die Mannschaft seolah kehabisan bakar dan bisa dibilang hanya sekali melancarkan serangan berbahaya saat Thomas Muller gagal memanfaatkan situasi satu lawan satu.

Thomas Müller England Germany Euro 2020Getty Images

Rasanya tak perlu menilai apakah Inggris layak menang atas Ukraina setelah membantai anak asuh Andriy Shevchenko. Mereka seolah mendapatkan kepercayaan diri pasca melangkahi 'trauma' bernama Jerman itu.

Babak semi-final telah dibahas di awal tulisan, tetapi perlu dicatat bahwa serangan balik Tim Dinamit sebenarnya tak terlalu sering mengancam gawang Jordan Pickford. Mereka justru harus banyak berterima kasih kepada Schmeichel karena menjadi alasan terkuat tidak kebobolan lebih banyak.

Pendeknya, Inggris tampil dengan memukau meski tak jarang harus terseok terlebih dahulu. Bisa dibilang hal ini merupakan keuntungan dari bermain di kandang sendiri. Energi fans tentu lebih tersalurkan dan pasukan Southgate bisa bermain dengan lebih nyaman.

Apakah Inggris benar-benar menerima balas budi UEFA, hanya Tuhan (juga Ceferin dan Johnson) yang benar-benar tahu.

Kemungkinan besar, kubu Inggris tidak akan memedulikan polusi suara yang membuat tuduhan macam-macam tanpa dasar.

Toh Italia bukan tim serba suci dan pernah dihadiahi penalti kontroversial saat menjuarai Piala 2006. Saat itu Fabio Grosso dituduh 'diving' pada babak 16 besar versus Australia.

Selain itu Inggris juga pernah dirampas oleh gol 'Tangan Tuhan' mendiang Diego Maradona pada perempat-final Piala Dunia 1986.

Namun jika memang ingin dinobatkan sebagai juara sejati, Kane cs wajib menang dengan bersih bin telak, sehingga membuat para peragu serta  haters  bungkam dan terlihat konyol.

Iklan
0