Declan Hill

Interviu Eksklusif Declan Hill: Sepakbola Indonesia Belantara Korupsi

“Sepakbola Indonesia adalah hutan belantara korupsi yang tumbuh tidak terkendali”, begitu salah satu kutipan wawancara eksklusif yang dilakukan Goal Indonesia dengan Declan Hill belum lama ini.

Kesempatan tersebut didapat saat Hill menjadi salah satu pembicara dalam konferensi Play the Game 2019 bertajuk "Athlete Power on the Rise" di Colorado Springs, Colorado, Amerika Serikat pada 13-16 Oktober lalu.

Dalam forum tersebut, Hill memaparkan temuannya tentang legalisasi taruhan olahraga yang berpotensi mempengaruhi olahraga di AS, serta olahraga mana yang paling memungkinkan untuk terpengaruh oleh korupsi yang berpangkal dari perjudian tersebut.

Selama ini, Hill dikenal sebagai jurnalis investigatif yang “hobi” menguak isu seputar kejahatan dalam sepakbola, mulai dari Eropa hingga Asia Tenggara. Pria kelahiran Kanada itu pun telah merilis tiga buku, yang masing-masing berjudul: The Fix: Soccer and Organized Crime (1979), Calcio Mafia (2008), dan Sichere Siege: Fußball und organisiertes Verbrechen oder wie Spiele manipuliert werden (2008).

Buku-buku Hill tersebut sekaligus menjadi rujukan terpercaya bagi para pemangku kepentingan olahraga dunia. Ia juga dipercaya sebagai narasumber sejumlah media beken, antara lain BBC dan The Guardian.

Aman dikatakan, Hill adalah pakar match-fixing (pengaturan skor) dalam olahraga khususnya sepakbola. Di bidang akademis, ia kini menjabat sebagai Lektor Kepala (Associate Professor) Investigasi dari University of New Haven, Amerika Serikat. Artinya, apa yang dikatakannya dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam forum yang sama, Ganesport Institute ditunjuk mewakili Indonesia. Organisasi nirlaba yang berkonsentrasi pada kebijakan olahraga tersebut pun memaparkan hasil studi mereka tentang kepemimpinan ideal dalam sepakbola.

“Karakteristik yang membuat olahraga menjadi industri yang tumbuh pesat di dunia yaitu ‘hasil yang tidak pasti’ atau uncertainty of outcome. Secara singkat, korupsi dalam olahraga menghilangkan ketidakpastian itu, sehingga sangat merugikan olahraga itu sendiri, yang dalam jangka panjang akan mengurangi potensi ekonomi yang besar dari olahraga,” ucap Irman Jayawardhana, pakar manajemen dan event olahraga dari Ganesport Institute.

Kalau tidak ada hambatan berarti, dalam hitungan hari PSSI bakal punya ketua umum yang baru untuk periode 2019-2023. Tepatnya pada Sabtu, 2 November 2019. Sebelum sampai ke hidangan utama yang belum tentu menyehatkan tersebut, ujaran hangat Hill ini siapa tahu bisa menjadi kudapan pembuka yang bergizi.

Berikut adalah hasil wawancara Goal Indonesia dengan Declan Hill:

Goal Indonesia (GI): Anda beberapa kali menyebut Indonesia dalam buku Anda. Apa komentar terbaru Anda tentang kasus pengaturan skor di sepakbola Indonesia yang terjadi beberapa bulan lalu? Apakah Anda terkejut?

Declan Hill (DH):Saya tidak terlalu terkejut. Satu-satunya yang buat saya terkejut adalah seseorang akhirnya menemukan suatu hal [fakta tentang adanya pengaturan skor]. Sepakbola Indonesia adalah hutan belantara korupsi yang tumbuh tidak terkendali [sangat pesat]. Sulit untuk saat ini, bahkan untuk mengukur seberapa korup sepakbola Indonesia. Ini merupakan pengkhianatan kepada nilai-nilai Indonesia, pengkhianatan kepada budaya Indonesia, dan pengkhianatan kepada para suporter.

GI: Untuk penggemar sepakbola awam misalnya, bagaimana mendeteksi suatu pertandingan dimanipulasi atau tidak?

(Terbaru, Satgas Antimafia Bola memulangkan sembilan orang yang ditangkap terkait dugaan pengaturan skor pertandingan Liga 1 antara Kalteng Putra dan Persela Lamongan di Stadion Tuah Pahoe, Palangkaraya, Minggu (27/10). Kesembilan orang itu lantas dipulangkan karena polisi tidak menemukan bukti adanya pengaturan skor-red)

DH:Saya pikir kita tidak bisa [benar-benar mengetahui]. Itu merupakan sifat jahat dari pengaturan skor [match-fixing], yaitu kita kerap tidak bisa membedakan, karena kadang-kadang pemain bisa saja benar-benar membuat kesalahan atau memang ada insiden betulan. Yang terjadi adalah secara berkala orang-orang mulai kehilangan kepercayaan pada sepakbola. Saya sangat terkejut dengan fakta yang terjadi di Indonesia di mana stadion tetap penuh walaupun musim sebelumnya terjadi skandal pengaturan skor.

GI: Faktor apa saja yang membuat sebuah liga rentan terhadap pengaturan skor?

DH:Jika sekelompok kriminal mengendalikan atau menjalankan sebuah liga sepakbola, maka bisa dipastikan akan ada korupsi di sana. Bisakah para pembaca atau penggemar [media Anda] berkata bahwa ada beberapa orang kriminal di Federasi Sepakbola Indonesia [PSSI]? Sebelum Anda betul-betul membersihkan Federasi Sepakbola Indonesia, maka itu [pengaturan skor] akan tetap berlanjut. Kita harus bersihkan Federasi. Saya menyarankan pecat semua orang yang ada di dalam jika mereka sudah berada di sana lebih dari dua tahun, depak mereka semua, dan mulai buat regulasi yang baik, baru kita bisa bicara tentang bagaimana menyelamatkan sepakbola Indonesia.

GI: Apakah Asia merupakan tempat paling rentan terhadap pengaturan skor? Jika iya, mengapa?

DH:Ya, Asia merupakan kawasan yang paling rentan terhadap korupsi olahraga dan pengaturan skor, karena banyak sekali orang yang bermain judi, banyak figur yang kuat, dan yang punya kuasa juga korup, bahkan mereka [yang korup] ada juga yang menjabat sebagai pemilik klub atau pengurus liga.

GI: Bagaimana dengan Indonesia?

DH:Saya pikir untuk Indonesia, negara ini merupakan yang paling buruk performa olahraganya. Bukan karena tidak punya talenta atau atlet berbakat, tapi karena para pemimpin [dalam bidang-bidang di olahraga] banyak dihuni orang-orang yang gagal.

Iklan
0