Membandingkan tim-tim sepakbola lintas generasi pada umumnya adalah tindakan sia-sia namun River Plate era 1940 dan 1950an punya klaim kuat untuk menyandang tim terbaik Amerika Latin sepanjang masa.
Dengan bakat hebat seperti Alfredo Di Stefano, Nestor Rossi, Angel Labruna, Felix Loustau dan Adolfo Pedernera ditambah sederet nama legendaris lainnya, lini depan klub Nunez ini mendapat julukan La Maquina [Sang Mesin] karena kehebatan teror mereka. Sama punya peran krusial, berdiri kiper paling berbakat sepanjang masa Argentina yang punya kemampuan tangan dan kaki sama bagusnya.
Armadeo Carrizo, meninggal dunia di rumahnya, Jumat (20/3) pagi waktu setempat pada usia 93. Kabar ini memantik duka mendalam bagi persepakbolaan Argentina. Bahkan Boca Juniors yang dikenal sebagai rival abadi Millonarios memberikan penghormatan. Itulah sebagian kecil yang menjadi tanda betapa hebatnya nama Armadeo Carrizo.
Idola River ini menghabiskan 20 tahun di Monumental, menorehkan lebih dari 600 penampilan dengan koleksi tujuh gelar Primera Division antara 1945 dan 1957. Tetapi pengaruhnya bukan hanya terlihat dari jumlah trofi; lebih jauh lagi Carrizo melakukan perubahan besar peran kiper melalui kelincahan kakinya.
Di zaman dulu, kiper dipandang sebagai pemain tanpa daya, tanpa jiwa yang berdiri di bawah mistar gawang menunggu serangan lawan. Bahkan Carrizo sendiri mengaku, mimpinya adalah mencetak bukan mencegah gol. "Saya selalu senang bermain di depan. Mereka yang bermain di depan selalu yang bersenang-senang," ujarnya suatu saat pada Un Cano. "Kiper berdiri seperti orang bodoh dan berharap tidak kebobolan. Ketika gawangnya jebol, semua orang melemparkan kritik. 'apa yang dia lakukan'? 'Kenapa dia telat bergerak?'"
Berasal dari Rufino, provinsi Santa Fe, dia memecah tradisi itu. Seperti layaknya orang terakhir di benteng pertahanan, dia juga mengambil peran sebagai orang pertama yang menyusun serangan. Dia menggulirkan bola dengan cepat menggunakan kakinya untuk menggerakkan seluruh skuad ke depan. Satu momen yang ketika itu jarang terlihat namun normal dewasa ini, yaitu ketika dia menguasai bola saat striker maut Boca Jose 'Pepino' Borello mendekat.
Umumnya penjaga gawang akan menendang bola sejauh mungkin, tetapi dia memilih untuk menurunkan bahunya lalu menggiring bola sebelum mengoper pada rekannya. Ketika itu River menang 3-0 dan Carrizo mendapat cacian dari para loyalis Xeneize. Pada saat itu dia bersikeras tidak ada bahaya apapun saat dirinya menguasai bola. "Saya berkawan dengan Borello dan dia tidak merasa sakit karena dribble itu," jelasnya pada El Frafico. "Ketika saya kebobolan melalui gol tumit, diving header, atau trik-trik lainnya, saya biasa berpikir 'dia melakukan pekerjaan bagus, pemain hebat!' Saya suka ketika lawan menerima saya apa adanya dan menerima gaya saya bermain."
"Itu bukan sesuatu yang harus ditakutkan, saya melakukan itu sebagai salah satu jalan keluar dan karena saya punya kemampuan untuk melakukannya. Anda bayangkan, jika saya menendangnya sekeras mungkin dan mengenai lawan, bola akan bergulir ke gawang. Sebuah kekacauan!" Beberapa dekade sebelum Rene Higuita, Jorge Campos, Manuel Neuer bermain-main dengan bola, Carrizo telah melakukan itu tanpa rasa takut di hadapan skuad terhebat Boca. Sebagai catatan, Borello mengakhiri musim dengan status pencetak gol terbanyak dan Boca juara.
JUAN MABROMATA - AFPCarrizo juga dikenal sebagai pesepakbola yang gemar melakukan trik gelap untuk meraih keuntungan seperti yang dijelaskannya pada El Cano. "Saya pernah berhadapan langsung dengan pemain Boca Pedro Mansila yang lolos dari jebakan off-side. Saya berteriak, 'Off-side!' lalu mengambil bola darinya."
Carrizo nyaris menghabiskan karier bermainnya bersama River. Dia bergabung pada usia 16 sebelum bergabung ke tim Kolombia Millonarios pada 1968 pada usia 42, dua tahun sebelum pensiun di Bogota.
Punya keyakinan tinggi terhadap kemampuannya, Carrizo juga jitu saat menghadapi umpan-umpan silang. Ciri khasnya adalah menangkap bola dengan satu tangan, kemudian berguling dan menjatuhkan postur raksasanya ke lapangan untuk menguasai si kulit bulat. Bakat besar telah mengantarkan Carrizo mengamankan 20 caps Argentina, namun dia tidak banyak berpesta di level internasional. Satu-satunya pengalaman Piala Dunia tercatat di Swedia 1958 ketika itu mereka gagal total.
Tim nasional tidak menghadirkan kegembiraan seperti yang dinikmati di level klub oleh pemilik nomor 1 River tersebut tetapi tidak ada yang bisa meragukan jika dia bisa berdiri sejajar dengan legenda seperti Agustin Cejas dan Ubaldo Fillol sebagai salah satu yang terbaik di negara itu.
Hari ulang tahun Carrizo pada 12 Juni dirayakan sebagai Hari Kiper Argentina dan ini adalah penghargaan tertinggi bagi sosok yang begitu melegenda tidak hanya di Argentina tetapi juga melekat sebagai moyangnya kiper modern di seluruh dunia.
