Inggris sukses mengalahkan Iran 6-2 pada laga perdana Grup B Piala Dunia 2022 di Stadion Internasional Khalifa, Doha, Qatar, Senin (21/11).
The Three Lions unggul tiga gol hingga jeda melalui Jude Bellingham (35’), Bukayo Saka (44’), dan Raheem Sterling (45’+1).
Saka mencetak gol kedua pada menit ke-62 sebelum disegel oleh dua pemain pengganti, Marcus Rashford (71’) dan Jack Grealish (90’).
Sementara dua gol hiburan Iran diborong oleh Mehdi Taremi (65’, 90’+13).
Berikut ini, GOAL akan menampilkan pemenang dan pecundang dari start impian Inggris di Qatar 2022:
Pemenang
Saldo Dortmund:
Borussia Dortmund pasti menikmati laga ini. Pertama, ada pemandangan dari salah satu bintang mereka saat mencetak gol pertama di Piala Dunia, dan kemudian dipuja dengan nyanyian berbunyi ’Hey Jude' oleh suporter Inggris.
Kemudian, dan mungkin yang lebih penting, sang pemain mencetak gol dengan jenis sundulan yang lebih cocok untuk pemain No.9, Jude Bellingham mungkin menambahkan beberapa juta lagi dari banderolnya.
Dortmund tahu gelandang Inggris itu akan meninggalkan Signal Iduna Park musim panas mendatang. Menyedihkan, tapi tidak terhindarkan. Bellingham telah lama ditakdirkan untuk bergabung dengan salah satu elite Eropa. Ia mengetuk rumah tersebut sejak fase grup Liga Champions musim ini. Tapi Piala Dunia adalah panggung yang lebih megah.
Beberapa pemain bersinar hanya selama sebulan dan berakhir dengan bayaran yang sangat besar. Jadi, Dortmund bisa menyebutkan harga mereka untuk remaja ajaib seperti Bellingham.
Pilihan Southgate:
Ya, lawannya hanya Iran. Ya, masih akan terus ada beberapa kekhawatiran. Ya, Southgate pada akhirnya akan dinilai di mana Inggris berakhir. Tapi hasil ini adalah cara yang baik bagi sang manajer untuk memulai kampanye.
Berbicara secara statistik, tentu saja, Southgate melakukan pekerjaan yang lebih baik dengan The Three Lions daripada manajer mana pun sejak Sir Alf Ramsey, tapi dia tetap mendapat kritik. Ada tuduhan terus-menerus tentang konservatisme, terutama sejak kekalahan final Euro 2020 musim panas lalu dari Italia, dan tuduhan itu meningkat selama kiprah timnya di Nations League yang suram tahun ini.
Inggris selalu diharapkan untuk memenangkan pertandingan pembuka, ada beberapa tekanan pada Southgate untuk memilih dengan benar, untuk membuktikan bahwa dia bisa mendapatkan yang terbaik dari banyak pemain hebat. Ya, dia melakukan hal itu kali ini.
Komposisi Southgate diakui. Bukayo Saka, yang dipilih ketimbang Phil Foden, mencetak dua gol bagus. Southgate juga pantas mendapat pujian karena mempertahankan Raheem Sterling, yang telah berjuang keras sejak meninggalkan Manchester City ke Chelsea, tapi sekali lagi membuktikan bahwa ia menyukai turnamen besar internasional.
Bukayo Saka:
Winger Arsenal itu layak mendapat pujian khusus. Lagi pula, kita berbicara tentang pemain termuda yang mencetak dua gol dalam debut Piala Dunia sejak Franz Beckenbauer.
Southgate pasti pantas mendapat pujian karena menaruh kepercayaannya pada Saka. Sang pemain membayarnya dengan sensasional. Gol pertamanya adalah tendangan voli yang luar biasa, yang kedua merupakan hasil akhir yang rapi setelah lari yang menyenangkan. Terlepas dari hasil yang baik dalam hal gol dan assist sejauh musim ini, ada perasaan yang tak terbantahkan di Emirates bahwa Saka belum cukup bersemangat. Dia memilih waktu yang tepat untuk melakukannya!
Getty ImagesPecundang
Gegar otak:
Aturan FIFA jelas: jika seorang pemain menunjukkan tanda-tanda gegar otak, dia harus ditarik keluar dari lapangan. Jadi, bagaimana Alireza Beiranvand diizinkan untuk melanjutkan sebentar setelah menderita cedera kepala dalam tabrakan yang tidak disengaja dengan rekan setimnya Majid Hosseini? Jelas bagi setiap orang di dalam Stadion Khalifa bahwa sang kiper tidak lagi fit untuk bermain, apalagi setelah melihat betapa goyah kakinya - dan setelah menerima hampir 10 menit perawatan dari petugas medis.
Akibatnya, tidak hanya simpati di tribune untuk Beiranvand ketika terlambat ditarik dari lapangan, tapi juga kebingungan yang berbatasan dengan amarah. Pertanyaan serius perlu ditanyakan tentang penegakan protokol gegar otak – di antara mereka, yang membuat keputusan untuk mengizinkan Iran No.1 itu untuk melanjutkan laga. Sudah jelas untuk beberapa menit tersebut bahwa sepakbola masih memiliki masalah serius dalam menangani cedera kepala. Fakta yang terungkap di panggung termegah. Harus menunggu berapa lama sebelum kelalaian seperti itu terbukti fatal?
OneLove:
Ada antrean besar di pintu masuk media di stadion empat jam sebelum sepak mula. Jurnalis dari seluruh dunia ingin masuk lebih awal untuk memastikan bahwa mereka hadir seolah-olah untuk menyaksikan Inggris melawan Iran, tapi untuk melihat apakah sekelompok pria bakal kukuh mengenakan ban lengan pelangi. Itu adalah kebenaran yang tak terhindarkan. Laga ini benar-benar dibayangi oleh pertikaian memalukan dan konyol yang melibatkan FIFA dan beberapa federaso sepak bola Eropa, termasuk Inggris, atas pertunjukan kecil solidaritas kepada komunitas LGBTQ+.
FIFA memperjelas pada pagi hari pertandingan bahwa mereka tidak akan mengizinkan Inggris dan enam tim lainnya untuk mengenakan ban lengan ‘OneLove’ - dan mereka berhasil. Panitia pelaksana pertandingan berhak menanggung beban kritik, tapi semua federasi yang terlibat tidak boleh luput dari kritik. Mereka bisa mengambil sikap nyata di sini. Hal yang sama juga berlaku untuk para pemain. Mereka bisa secara kolektif menyebut gertakan FIFA, menantang mereka untuk mengurangi permainan menjadi lelucon dengan menghukum setiap kapten yang mengenakan ban kapten tersebut dengan kartu kuning.
Getty ImagesRating Inggris: Belakang
Jordan Pickford (7/10):
Tidak banyak yang bisa dilakukan selain melakukan tendangan keluar dan mengambil bola dari gawangnya setelah gol Iran. Namun, dia melakukan satu blok yang luar biasa untuk percobaan Mehdi Torabi di detik-detik terakhir.
Kieran Trippier (7):
Terus menyerang dan menghasilkan beberapa umpan silang yang oke. Penampilan yang solid. Tidak akan ada tuntutan bagi Trent Alexander-Arnold untuk menjadi starter pada laga selanjutnya.
John Stones (6):
Minim tekanan secara keseluruhan dan tetap menjaga kerapiam dalam penguasaan bola. Namun, ia menyebabkan penalti di akhir yang dikonversi oleh Taremi.
Harry Maguire (6):
Menimbulkan kemelut tiap kali ia maju dalam situasi bola mati. Ia memberikan assist untuk gol Saka, tapi terkecoh oleh Taremi. Kemudian terpaksa keluar imbas cedera kepala.
Luke Shaw (8):
Tampil memikat dan mampu bermain efektif sebagai bek sayap. Ia adalah pengirim umpan silang untuk gol pembuka Bellingham.
Getty ImagesGelandang
Jude Bellingham (8):
Penampilan berkelas. Masih belia tapi bermain seolah-olah ia sudah bermain dalam empat Piala Dunia. Menjadi pembeda dalam gaya main ‘textbook’ Inggris, ia membuktikan benar-benar memiliki segalanya.
Declan Rice (6):
Bermain aman, melakukan apa yang diharapkan, dominan dalam mengintersep bola, dan mengoper bola dengan baik.
Getty ImagesDepan
Bukayo Saka (9):
Dua gol berkualitas dari pemain muda dengan masa depan cemerlang.
Mason Mount (6):
Beberapa kali nyaris mencetak gol dan memberikan assist, namun belum beruntung untuk memberikan kontribusi langsung.
Raheem Sterling (8):
Seperti sebelumnya, sibuk dengan areanya, dan kembali mencetak gol dengan penyelesaian yang bagus.
Harry Kane (7):
Tidak benar-benar mendapatkan banyak peluang, tapi striker serbabisa ini tampil seperti pemain No.10 sehingga mampu berkontribusi dengan sumbangan dua assist.
Getty ImagesPemain pengganti
Eric Dier (6):
Datang menggantikan Maguire dan tidak banyak yang bisa dilakukan.
Marcus Rashford (8):
Impak luar biasa! Mencetak gol hanya beberapa detik setelah menggantikan Saka dan menjadi ancaman konstan di kuarter terakhir.
Phil Foden (6):
Beberapa sentuhan yang sangat rapi tapi tidak memiliki cukup waktu untuk membuat kehadirannya terasa.
Jack Grealish (7):
Masuk menggantikan Sterling dan membulatkan skor dengan penyelesaian yang paling sederhana.
Callum Wilson (7):
Bisa saja menyelesaikan peluang sendiri menyusul peluang bersih yang didapat, tapi ia memilih untuk tidak egois dengan memberikan assist untuk gol penyegel kemenangan yang dicetak Grealish.
Manajer
Gareth Southgate (8):
Jelas, konteks adalah kuncinya di sini. Kualitas lawan tidak bagus. Tapi harus diakui bahwa Southgate memilih komposisi pemain dengan sempurna.


