Zlatan Ibrahimovic membantah semua tuduhan yang menyebut dirinya menggunakan kata-kata rasis dalam perseteruannya dengan Romelu Lukaku saat AC Milan bertemu Inter Milan di Coppa Italia, Rabu (27/1).
Kedua penyerang saling adu mulut pada akhir babak pertama, tensinya memanas jelang keluar lapangan hingga harus muncul peringatan dari wasit Paolo Valeri berupa kartu kuning.
Lukaku akhirnya keluar sebagai pemenang, mencetak gol penyeimbang melalui penalti dalam kemenangan 2-1 untuk Nerazzurri, sementara Ibrahimovic harus diusir dari lapangan setelah menerima kartu kuning kedua di paruh kedua permainan.
Dari rekaman mikrofon stadion, terdengar ada beberapa ucapan yang terlontar saat Ibrahimovic dan Lukaku beradu mulut, dengan sang striker Milan dilaporkan menyebut bekas rekannya di Manchester United itu dengan sebutan "keledai" dan menyuruhnya untuk pergi melakukan "voodoo sialan", di antara kalimat lainnya.
Kata Voodoo mengacu pada berita yang menyebutkan bahwa pemilik Everton, Farhad Moshiri menggunakan istilah tersebut untuk menjelaskan mengapa Lukaku meninggalkan klubnya untuk Manchester United, meski ditegaskan oleh perwalikan bintang asal Belgia bahwa alasan pergi adalah tidak percyaa pada proyek klub.
Berbicara di media sosial, Rabu (27/1), Ibrahimovic menegaskan bahwa dirinya tidak mengucapkan pernyataan diskriminatif - sembari kembali menyindir Lukaku bahwa tidak lebih baik dari dirinya.
Legenda Swedia itu menulis: "Dalam dunia Zlatan tidak ada tempat untuk rasisme! Kita semua adalah ras yang sama - kita semua sama!"
"Kami adalah pemain. Beberapa lebih baik dari yang lain."
Namun, kendati Ibrahimovic mungkin tidak meminta maaf atas sikapnya terhadap Lukaku, pemain berusia 39 tahun itu mengakui perilaku buruknya di ruang ganti selepas pertandingan.
Bos Rossoneri, Stefano Pioli mengatakan kepada RAI Sport: "Itu [sikapnya] berdampak pada pengusiran karena ia mendapat kartu kuning saat itu [adu mulut]. Saya tidak tahu apa yang mereka katakan. Itu bisa terjadi, kami harus memikirkan yang berikutnya."
"Kartu kuning kedua berasal dari keinginannya untuk mengejar lawan dan membantu tim. Ia bisa saja melambat, namun itu telah terjadi. Di ruang ganti ia meminta maaf."




