Berita Live Scores
Cult Hero

Dari La Masia Hingga Pengangguran: Kisah Aneh Iago Falque

07.22 WIB 22/12/21
Iago Falque Torino
Pernah menimba ilmu di akademi Real Madrid dan Barcelona, tapi karier gelandang Spanyol itu tidak berjalan mulus dan kini tanpa klub.

Klub kasta keempat Spanyol, SD Compostela, sangat antusias menyambut kehadiran Iago Falque meski hanya sebatas mengikuti sesi latihan mereka.

Antusiasme itu terdeskripsikan dengan jelas dalam cuitan mereka di Twitter, yang berbunyi: "Sesi terbaru kami untuk mempersiapkan derbi melawan Arosa SC!!! Sesi di mana Iago Falque juga hadir!!!"

Kehebohan itu menjadi bukti bahwa seorang pahlawan lokal, putra asli Galicia yang sempat berpetualang di beberapa klub besar Eropa, pulang ke kampung halamannya untuk menjaga kebugaran sambil berusaha mencari klub baru pada Januari nanti.

Namun bagi Falque, yang pernah menimba ilmu di akademi Real Madrid dan Barcelona, sebelum kemudian direkrut oleh Juventus dan Tottenham Hotspur, saat ini merupakan titik terendah dalam karier sang mantan wonderkid.

Sekarang berusia 31 tahun, dulu banyak yang meyakini bahwa Falque bakal cemerlang dan memiliki karier yang hebat. Tapi perjalanannya tidak mulus dan nasib baik tidak menyertainya, ia gagal memenuhi ekspektasi dan bahkan jatuh terpuruk ke jurang terdalam.

Setelah bergabung dengan Madrid pada usia 10 tahun, ia pindah ke Barcelona setahun kemudian dan mempelajari keahlian sepak bolanya di La Masia. Namun, belum sampai masuk ke skuad utama, ia direkrut Juventus dari Barca pada 2008.

Falque menandatangani kontrak empat tahun di Turin, dan Juve bisa saja membayar hingga €2,5 juta sebagai biaya kompensasi transfernya jika ia memenuhi beberapa target gol dan jumlah permainan, tapi faktanua ia gagal menembus skuad utama Bianconeri.

Pada Agustus 2011, Falque malah dikirim dengan status pinjaman ke Tottenham Hotspur, yang kemudian dibeli secara permanen oleh manajer waktu itu, Harry Redknapp dengan kesepakatan €1 juta pada Januari tahun berikutnya.

Ada harapan besar di balik peminjamannya tersebut, dengan harapan bahwa Spurs mungkin bisa menjadi tempat terbaik bagi lulusan La Masia itu setelah gagal bersaing di Juve.

"Iago menyukai tantangan besar dan dengan Spurs ini sangatlah penting," kata agen sekaligus ayah sang pemain, Iago Falque Snr kepada Sky Sports saat itu. "Akan sulit, tapi ia akan berjuang mendapatkan tempatnya."

Untuk mempelajari permainan di Inggris, Falque lantas dipinjamkan ke Southampton yang waktu itu bermain di Championship, tapi setelah The Saints mengalami kekalahan 2-0 di kandang dari Leicester City dalam laga debutnya, ia tidak pernah lagi bermain untuk mereka.

Falque kembali ke Tottenham, di mana ia membuat satu-satunya penampilan di Liga Primer pada Desember 2012, sebagai pemain pengganti selama lima menit dalam kekalahan 2-1 dari Everton.

Ia adalah stereotip pemain muda Eropa yang tidak cocok dengan sepakbola Inggris, meski punya kualitas teknik yang terampil dalam olah bola pendek, kepercayaan diri dalam menggiring bola dan sentuhan pertama yang menawan.

Sering ditempatkan di sayap kanan tetapi suka menusuk ke tengah dengan kaki kirinya untuk menciptakan peluang menembak, tak ayal perbandingan dengan Lionel Messi melekat padanya.

Namun ada juga keragu-raguan, kebiasaan menggiring bola ke jalan buntu dan gagal memilih umpan yang tepat, membuat para penggemar mau pun manajer frustrasi karena tidak sabar akan perkembangan permainannya.

Ia memang mengesankan ketika dipercaya oleh pelatih, seperti saat dipinjamkan ke Rayo Vallecano di La Liga dan dalam satu tahun bersama Genoa, namun seringkali manajer yang bekerja di bawah tekanan konstan tidak akan memanjakan bakat lincah seperti itu.

Tentu saja, Falque sama sekali tidak menikmati waktunya di Inggris, mengakui dalam sebuah wawancara tahun 2018 bahwa semuanya tidak berjalan baginya, yang terlalu muda.

"Mungkin pindah ke Tottenham, itu bukan keputusan yang bijak dari saya," katanya. "Itu adalah satu-satunya langkah mundur dalam karier saya."

"Pada akhirnya, pengalaman buruk juga membantu Anda untuk tumbuh, menjadi dewasa. Momentum dalam karier saya yang membuat saya pindah dan persaingannya sangat sulit."

Selanjutnya, ia dikirim kembali ke Spanyol dengan status pinjaman ke Almeria dan Rayo selama 18 bulan, sebelum kembali secara permanen ke Italia bersama Genoa pada 2014, di mana, pada usia 25, ia akhirnya menemukan bentuk dan sepakbola reguler.

Bermain di bawah asuhan Gian Piero Gasperini – yang kemudian mengubah Atalanta menjadi tim langganan Liga Champions - ia dimainkan di sayap kanan dengan formasi 3-4-3, dan mulai terlihat seperti wonderkid yang diharapkan banyak orang.

Ia mencetak 13 gol dalam 32 pertandingan Serie A, membantu Genoa finis di posisi keenam, meski pun kemudian ada masalah lisensi UEFA yang menggagalkan kans mereka lolos ke Eropa. Awalnya Spurs mungkin seperti benar melepasnya murah senilai €5 juta, tapi terbukti Genoa yang melakukan bisnis bagus.

Setelah menunjukkan potensinya, Falque kemudian mendapat kesempatan lain di level teratas bersama AS Roma, sambil melanjutkan misinya menembus Eropa. Tapi, setelah satu musim yang mengecewakan dipinjamkan ke Torino pada 2016/17, membuatnya kemudian dilepas permanen ke klub asal Turin.

Falque awalnya menemukan bentuk permainannya lagi di Torino, tetapi secara bertahap memudar dari persaingan di tim utama, dan setelah masa pinjaman pertama yang mengecewakan saat kembali ke Genoa, kemudian ke Benevento, ia dilepas pada musim panas kemarin dan saat ini masih berstatus tanpa klub.

Setelah hampir enam bulan menganggur, ia lantas ikut berlatih dengan Compostela, klub yang bermain di Grup I Divisi II, kasta keempat Spanyol.

Sulit untuk menyebut Falque gagal, mengingat ia telah memainkan 177 pertandingan di liga papan atas Italia hingga saat ini dan mencetak beberapa gol luar biasa.

Tapi dengan bakat besarnya dan telah mendapat begitu banyak kesempatan dari berbagai klub top Eropa, ada anggapan bahwa sebenarnya kariernya bisa jauh lebih baik dari sekarang ini.