OLEH YUDHA DANUJATMIKA
Jauh sebelum Jose Mourinho atau Diego Simeone, dua pelatih era modern yang dikenal menganut sepakbola pragmatis, nama Helenio Herrera telah melegenda sebagai peramu taktik bertahan superkokoh.
Ramuan taktik yang kini kita kenal dengan nama Catenaccio alias sepakbola gerendel – gaya bertahan yang ia adaptasi dari Verre milik Karl Rappan – menjadi peninggalan besar Herrera yang wafat di usia 87 tahun pada 1997 silam.
Lahir di Argentina pada 1916, Herrera besar di bawah asuhan ayahnya yang merupakan tokoh anarkis terkemuka. Latar belakang politis dan kultural yang kompleks ternyata berdampak positif pada kecerdasan Herrera. Ia menjadi pemikir bebas dan kritis, namun memilih sepakbola sebagai jalan utama dalam kehidupannya.
Sebagai pemain, karier Herrera memang tidak cemerlang. Mentok-mentok, ia bermain di klub sekelas Red Star Olympique. Adapun setelah memutuskan untuk gantung sepatu, Herrera melanjutkan kariernya di dunia kepelatihan. Lewat sinilah sang pelatih meraih sukses yang membuatnya jadi salah satu peramu taktik terbaik sepanjang sejarah sepakbola.
Herrera mulai gemilang sebagai pelatih ketika menghadirkan gelar juara La Liga bagi Atletico Madrid periode 1949-1951. Setelah itu, Barcelona menjadi destinasi di mana ia mampu mempersembahkan dua gelar La Liga (1959, 1960) dan dua gelar Copa del Rey (1959, 1981). Sayang, konflik dengan pemain bintang Barcelona, Ladislao Kubala, membuat sang pelatih harus hengkang.
Tetapi langkah ini tentu takkan disesali oleh Herrera karena ia mengubah sepakbola – menjadi lebih baik atau buruk, tergantung pandangan Anda – setelah ia meninggalkan Blaugrana.
-Facchetti, bek sayap andalan Herrera yang mampu mengemas 75 gol selama kareirnya di Inter.
Bergabung dengan Milan, pelatih Argentina ini tadinya coba menerapkan sepakbola terbuka, kreatif, dan menghibur seperti yang ia lakukan di Barcelona. Namun prestasi maksimal yang mampu diraih oleh sang pelatih hanyalah posisi ketiga dan runner-up Serie A. Ia tidak puas dengan hal tersebut dan – setelah petinggi klub mempertimbangkan pemecatannya – Herrera melakukan eksperimen, coba mengadaptasi sistem Rappan yang sukses di Swiss.
Ia menurunkan salah seorang gelandangnya, Armando Picchi, menjadi sweeper, menciptakan formasi lima bek dan memberikan kebebasan pada bek sayap kiri untuk menyerang. Giacinto Facchetti yang mengisi posisi itu memegang peran sentral seiring Herrera ingin menerapkan sepakbola vertikal yang efektif. Ia hanya menginginkan timnya bertahan secara disiplin lalu melancarkan serangan balik dengan dua-tiga sentuhan untuk mencapai kotak penalti – sepakbola transisi yang tidak asing bukan?
Tidak hanya dari segi taktik Herrera melakukan revolusi terhadap Inter. Pria kelahiran Argentina itu juga menggunakan metode baru untuk memperlakukan pemainnya. Menurut keterangan, Herrera membuat pelatihan di Inter menjadi sangat ketat, keras, dan ambisius. Ia bahkan pernah menghukum salah satu pemain yang mengatakan “kami akan bertanding ke Roma”, bukan “kami akan menang di Roma”. Ia tidak hanya disiplin secara metode, tetapi juga detail dalam perlakuan mental pemainnya.
Revolusi tersebut ternyata berbuah manis bagi sang pelatih. Facchetti yang menjadi bek kiri saat itu mencatatkan rekor langka dengan menembus koleksi gol sebanyak dua digit. Herrera juga berhasil membawa Nerazzurri merajai Eropa dua musim beruntun, disertai dengan tiga Scudetto, dan satu Piala Italia. Inter dalam periode kepemimpinan Herrera pun mendapat julukan “La Grande Inter” yang hingga kini masih terngiang dalam sejarah.
Kehadiran Catenaccio versi Herrera ini benar-benar mengubah tren penerapan taktik di sepakbola. Beberapa tim yang mengutamakan kemenangan takkan segan-segan menggunakan cara ini – hal yang masih terjadi saat ini. Uniknya lagi, Total Football – yang filosofinya merupakan kebalikan dari Catenaccio - ditemukan Rinus Michel hampir satu dekade setelahnya.
Catenaccio dan Total Football layaknya Yin dan Yang dalam dunia sepakbola. Selalu begitu, salah satu metode yang sukses bakal melahirkan metode lain yang berkebalikan dan mencoba untuk melampaui kesuksesan metode sebelumnya. Sekarang pun bisa kita saksikan sebuah evolusi taktik di dunia sepak bola yang menjadi tiki-taka dan gegenpressen.
Namun perlu diingat kalau kedua pendekatan itu merupakan anak haram dari Catenaccio – sebuah metode sepakbola bertahan yang mengandalkan serangan balik nan cepat dan efektif, dan bakal selalu lekat dengan citra Helenio Herrera.
