Persebaya Surabaya keberatan dengan kenaikan harga sewa Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) untuk hari pertandingan. Hal ini disampaikan oleh sekretaris Persebaya, Ram Surahman, yang kemudian memberi usulan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Kenaikan harga sewa GBT ditenggarai status mereka sebagai venue Piala Dunia U-20 2023, dan telah dilakukan renovasi untuk menyambut event tersebut. Sayangnya, kenaikan harga sewa ini jadi sangat memberatkan untuk Persebaya yang juga berkandang di stadion itu.
Ram menyampaikan keluh kesah dan usulan mengenai harga sewa stadion pada rapat dengar pendapat dengan Pansus Raperda Kota Surabaya, tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah. Rapat tersebut dilangsungkan di Kantor DPRD Kota Surabaya.
Dibeberkan bagaimana Pemkot Solo tetap memberikan keringanan kepada Persis Solo, yang berkandang di Manahan. Stadion Manahan juga menjalani renovasi besar-besaran untuk menyambut Piala Dunia U-20 2023. Namun, biaya sewat tidak memberatkan Persis.
"Tadi sudah saya sampaikan barangkali bisa belajar ke Solo, Solo itu kan Stadion Manahan juga dipakai untuk Piala Dunia, wali kotanya juga kebetulan anaknya pak Jokowi," ungkap Ram kepada awak media, Senin, 19 April
"Barangkali tidak semata-mata soal besaran angka sewa tarif, tetapi bagaimana Pemkot Solo itu memberi keberpihakan kepada Persis Solo," sambung Ram menambahkan.
GoalDalam Raperda Kota Surabaya tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah, tarif sewa Stadion GBT bakal naik berkali-kali lipat. Dari informasi yang didapat, tarif sewa itu bisa tembus Rp444 juta setiap pertandingan.
Bilangan tersebut tentunya sangat besar dan memberatkan untuk tim Liga 1 sekali pun, dan Persebaya merasa kisaran Rp100 juta per pertandingan sudah sesuai dengan kemampuan tim.
Persebaya masih mengintip peluang supaya harga di atas tidak diberlakukan kepada Persebaya, karena Raperda yang di dalamnya juga mengatur penyewaan Stadion GBT belum diketok. Sehingga, ada peluang Persebaya mendapat harga yang lebih terjangkau.
Sementara itu, gelandang muda Persebaya, Hambali Tholib, memilih untuk tidak pulang kampung kendati tim sedang dalam status diliburkan. Eks Persela Lamongan ini fokus memulihkan cedera, dan menantikan kejelasan soal Liga 1, di Surabaya.
"Iya saya tidak pulang. Saya di masih di mes pemulihan cedera dan jaga kondisi," ungkap Hambali dikutip laman resmi klub. "Kalau sudah sembuh saya juga tetap tinggal Surabaya, sampai nanti ada kabar soal kelanjutan liga. Biar tidak mondar-mandir juga," tutup pemain 20 tahun ini.
Persebaya Official

