Harapan besar ada di pundak Akhmad Hadian Lukita, setelah terpilih menjadi direktur utama PT Liga Indonesia Baru (LIB). Ia diharapkan bisa membuat operator kompetisi tersebut semakin maju.
Akhmad menggantikan jabatan Cucu Somantri, yang mengundurkan diri, beberapa waktu lalu. Pengumuman itu dilakukan saat PT LIB menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), pada Sabtu (13/6).
Bila melihat latar belakangnya Akhmad, belum pernah berkecimpung di dunia sepakbola. Akan tetapi, direktur pengembangan bisnis TIRA Persikabo, Rhendie Arindra tak mau ambil pusing.
Terpenting Rhendie menyebut Akhmad bisa menjalankan tugasnya secara benar. Ia berkeyakinan sosok berusia 55 tahun tersebut memiliki kemampuan yang bagus dalam mengelola perusahaan.
Oleh karena itu, Rhendie menyatakan pihaknya bakal memberikan bantuan bila membutuhkannya. Ia berpesan kepada Akhmad, bekerja dengan ketetapan yang sudah berlaku selama ini di PT LIB.
"Ada baiknya juga, jadi dan berharap tidak banyak kompromi dalam menegakkan aturan untuk kebaikan sepakbola Indonesia," kata Rhendie.
Liga Indonesia BaruRekam jejak Akhmad, adalah konsultan teknologi informasi (TI). Ia pun memegang jabatan direktur utama PT LAPI Divusi, yang merupakan perusahaan konsultan TI di bawah Institut Teknologi Bandung (ITB).
"Secara umum kami berharap mudah-mudahan beliau bisa bekerja secara maksimal. Tentunya juga mampu membawa sepakbola Indonesia ke arah yang lebih baik," ujarnya.
Selain Akhmad, dalam RUPSLB itu juga terpilih Juni Rachman, sebagai komisaris utama baru PT LIB. Juni, menggantikan tempat Sonhadji, yang mengundurkan diri.
Tak hanya itu, RUPSLB tersebut juga mengumumkan Leonardus JP Siegers dan Andogo Wiradi, untuk menjabat sebagai komisaris PT LIB. Kedua orang tersebut mengisi pos yang ditinggalkan Hasani Abdulgani dan Hakim Putratama.
Sebelum mereka terpilih PSSI lebih dulu melakukan seleksi secara internal. Federasi sepakbola nasional tersebut menyaring sejumlah kandidat yang ada.
PSSI punya keistimewaan di PT LIB, meski hanya memegang saham satu persen. Hal itu karena organisasi yang dipimpin Mochamad Iriawan tersebut memiliki saham golden share, sehingga punya hak veto untuk mengambil kebijakan.
