Gelandang Persija Jakarta Hanno Behrens menyakan sepakbola dunia berduka, menyusul adanya tragedi Kanjuruhan yang mengakibatkan sedikitnya 125 orang meninggal dunia.
Berdasarkan keterangan, 123 korban meninggal dunia merupakan suporter Arema FC, dan dua lainnya adalah petugas kepolisian. Jumlah korban meninggal dunia yang mencapai ratusan orang itu mendapat perhatian dari dunia sepakbola.
Federasi sepakbola Jerman (DFB) terkejut dengan kabar yang mereka peroleh. DFB telah menyampaikan ucapan duka cita melalui media sosial federasi kepada para korban, teman dan keluarga mereka yang terdampak dari kerusuhan itu.
Tragedi Kanjuruhan tentunya turut memberikan pengaruh terhadap Behrens. Pemain asal Jerman ini belum lama berkarir di Indonesia. Behrens menyayangkan tragedi itu terjadi di sepakbola Indonesia.
“Ini adalah tragedi yang sangat menyedihkan bagi insan sepakbola di seluruh dunia. Orang-orang seharusnya tidak mati [karena sepakbola],” ujar Behrens dalam wawancaranya dengan SPORT1.
Getty Images“Saya sangat terkejut sesuatu yang begitu mengerikan akan terjadi di pertandingan sepakbola. Kita tidak boleh lupa, pada akhirnya ini (sepakbola) hanya sebuah permainan.”
Tragedi itu berimbas kepada big match lainnya yang tak kalah panas dan sarat emosi, yakni Persib Bandung versus Persija Jakarta, yang seharusnya digelar satu hari setelah duel Arema kontra Persebaya Surabaya.
Pertandingan itu akhirnya urung digelar. PT Liga Indonesia Baru (LIB) telah menghentikan sementara kompetisi selama dua pekan. Behrens mengetahui duel itu bakal panas, karena mereka harus menggunakan kendaraan taktis (Rantis) untuk menuju stadion.
“Kami sebenarnya akan dibawa ke stadion dengan menumpangi beberapa Rantis, tapi semuanya dibatalkan. Kemudian kami dibawa pergi ke luar kota. Berkaca dari rivalitas di negara ini, sungguh menyedihkan,” kata Behrens.
Seperti diwartakan sebelumnya, pemerintah turun tangan untuk melakukan investigasi terhadap tragedi Kanjuruhan dengan membentuk tim gabungan independen pencari fakta.
Buntut dari tragedi itu juga membuat Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat dari jabatannya, serta menonaktifkan komandan batalyon (Danyon), komandan kompi (Danki), dan komandan peleton (Danton) Brimob Polda Jawa Timur dengan total sebanyak sembilan orang.
