Guus HiddinkGetty Images

Guus Hiddink Cabut, Calon Lawan Timnas Indonesia Tunjuk Direktur Teknik & Pelatih Baru

Federasi sepakbola Curacao (FFK) telah menunjuk Dean Gorre sebagai direktur teknik menggantikan Guus Hiddink yang hengkang. Pekan lalu, FFK juga telah memilih Remko Bicentini menempati posisi yang ditinggalkan Art Langeler.

Curacao direncanakan menjadi lawan timnas Indonesia untuk pertandingan uji coba pada September nanti. Laga yang masuk kalender FIFA ini dijadwalkan berlangsung dua kali.

Selain menjabat sebagai direktur teknik, Gorre juga menjalani tugas di departemen pengembangan yang fokus kepada pembentukan tim nasional kelompok umur, mulai dari U-9 hingga U-23.

“Ini merupakan gambaran ideal kami. Banyak talenta berbakat di pulau ini dan di Belanda yang mempunyai garis keturunan Curacao. Pemain muda adalah masa depan sepakbola kami, dan dengan kebijakan dan struktur yyuang tepat, kami bisa membentuk dasar pemain muda untuk mewujudkan mimpi mereka,” kata ketua FFK Ramiro Griffith.

Sedangkan Bicentini sudah tidak asing lagi dengan Curacao, karena pernah menangani timnas negara Karibia itu antara 2016 dan 2020. Di bawah besutan Bicentini, posisi Curacao melesat di peringkat FIFA. Sebelum kembali ke Curacao, Bicentini merupakan asisten pelatih Kanada yang lolos ke Piala Dunia 2022.

“Saya merasa terhormat kembali ditunjuk menjadi pelatih tim nasional. Saya merasa senang bekerja di sini, dan meraih kesuksesan. Sepakbola Curacao masih berkembang, dan saya yakin kami bisa lebih berhasil. Target kami adalah Piala Dunia 2026,” kata Bicentini.

Di lain sisi, penunjukkan direktur teknik dan pelatih baru mempunyai cerita tersendiri. Hiddink, Langeler, dan manajert tim Bertus Holkema mengundurkan diri dari FFK, karena menganggap pengurus tidak becus menjalankan organisasi.

Pada Februari 2022, Hiddink diminta FFK untuk membentuk staf pelatih. FFK ingin memulai awal baru dengan staf berpengalaman dari Belanda untuk meningkatkan struktur tim nasional dan infrastruktur sepakbola di Curacao. Hiddink pun memilih Langeler. Mengingat kondisi keuangan FFK yang sedang minim, Langeler diizinkan menyambi pekerjaan lain.

Awalnya persiapan membentuk tim nasional berjalan lancar. Namun FFK ingin menguasai surat-surat yang akan dikirim. Akibatnya, kesalahan bahasa, tanggal berbeda, pemain salah menerima surat, dan banyak lainnya.

Ketika ingin melakoni laga internasional, waktu penerbangan, pemesanan hotel, jadwal perjalanan, dan seluruh persiapan tercampur aduk, sehingga menghadirkan kekacauan. Kamar penginapan untuk pemain tidak jelas. Terkadang ada pemain yang tidak mendapatkan kamar. Mereka juga membiarkan seseorang yang dinyatakan positif COVID-19 tetap bepergian.

“Berbahaya dan sangat tidak profesional. Pada saat itu juga menjadi jelas bahwa Art dan Guus tidak lagi ingin bertanggung jawab atas semua ini. Keselamatan pemain dan staf adalah yang terpenting,” cetus Holkema.

Iklan
0