Menggapai final Piala Dunia barang tentu bukan perkara gampang. Namun jika ada satu pemain yang bisa melakukannya seperti sebuah rutinitas, maka dialah Cafu.
Pemilik nama lengkap Marcos Evangelista de Morais ini mengukir sebuah rekor spesial sebagai satu-satunya pemain yang bermain di tiga pertandingan final Piala Dunia. Bersama timnas Brasil, Cafu mampu mentas di partai puncak 1994, 1998, dan 2002. Cafu seperti menjadi penanda zaman bagi kembalinya era keemasan Brasil.
Sudah lebih dari dua dekade sejak Piala Dunia 1970, Brasil tidak merasakan titel juara dunia. Sampai akhirnya Tim Samba tampil mengesankan di Amerika Serikat 1994 dan merengkuh titel keempatnya. Cafu, yang ketika itu masih berusia 24 tahun, berperan sebagai deputi bek kanan utama Jorginho. Di partai puncak melawan Italia, cedera Jorginho di awal babak pertama melapangkan jalan Cafu untuk menjajal final perdananya.
GettySejak itu, Cafu selalu menjadi pilihan reguler Brasil. Di Piala Dunia 1998, Cafu kembali mencicipi laga final, kali ini ia tampil 90 menit. Sayang, penyakit misterius Ronaldo jelang partai final membuyarkan konsentrasi para pemain Brasil seiring kekalahan telak 3-0 dari tuan rumah Prancis.
Jelang Piala Dunia 2002, Cafu nyaris kehilangan statusnya sebagai kapten akibat performa buruk di kualifikasi. Vanderlei Luxemburgo mencopot ban kapten Cafu, namun sang pelatih sendiri ikutan lengser. Pelatih baru Luiz Felipe Scolari lantas menunjuk Emerson sebagai kapten baru. Cafu menerima keputusan itu, namun takdir berkata lain karena Emerson tiba-tiba dibekap cedera.
Dengan ban kapten kembali melingkar di lengannya, Cafu mampu memimpin Brasil mencapai kejayaan di Jepang & Korea Selatan seiring Brasil memenangi seluruh pertandingan yang dimainkan. Jerman dilibas 2-0 di final, Brasil pun menyabet Piala Dunia kelima. Ketika penyerahan trofi, Cafu menyajikan sebuah momen ikonik dengan menaiki meja, mengangkat trofi tinggi-tinggi ke udara, seraya berteriak, “Regina, eu te amo!” - sebuah ungkapan cinta untuk sang istri.
![]() | ![]() | ![]() |
Final ketiga Cafu berakhir dengan cara yang mengesankan. Ia bisa saja melakoni final keempat ketika mengapteni Brasil di Piala Dunia 2006. Akan tetapi, langkah mereka terhenti di perempat-final di mana Brasil dikritik habis-habisan karena memeragakan taktik usang dan masih mengandalkan pemain tua seperti Cafu, yang saat itu berusia 36 tahun.
Bagaimanapun, eks bek AS Roma dan AC Milan ini tetap boleh membusungkan dada karena rekornya ini, yang mungkin akan sangat sulit dipecahkan selama beberapa dekade ke depan. Cafu si langganan final adalah legenda Piala Dunia yang pantas disandingkan dengan nama-nama terhebat.
GoalPedia Piala Dunia adalah artikel berseri dari Goal Indonesia tentang fakta-fakta menarik dalam sejarah Piala Dunia yang diterbitkan sejak H-30 sampai kick-off Piala Dunia 2018. Simak daftar lengkapnya di sini!





