GoalPedia: Penerapan Sistem Marquee Player Di Negara Lain

Komentar()
Getty
Amerika Serikat, Australia, hingga India. Indonesia perlu belajar dari mana?


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter

Kedatangan Michael Essien ke Persib Bandung pekan lalu sontak menciptakan istilah baru dalam sepakbola Indonesia, yaitu "marquee player". Istilah ini makin mengemuka sehari kemudian ketika dalam pertemuan klub Liga 1 PSSI memperkenalkan peraturan baru "2+1+1", yang mengizinkan klub untuk merekrut seorang marquee player.

Apa itu marquee player? Pemain sepakbola profesional yang dianggap memiliki keistimewaan dalam hal popularitas maupun keterampilan teknik masuk ke dalam kategori ini. Dalam terminologi sepakbola modern, suatu asosiasi merasa perlu melakukan peraturan khusus dengan berbagai pertimbangan. Tujuan utamanya adalah untuk mengangkat kualitas pertandingan atau aspek pemasaran.

Kompetisi North American Soccer League (NASL) pernah menggunakan jasa bintang dunia untuk mempopulerkan sepakbola di Amerika Serikat. Johan Cruyff, Pele, hingga Franz Beckenbauer pernah meramaikan NASL akhir 1970-an. Dengan alasan yang serupa, pertengahan 1990-an, J-League pernah pula mendatangkan antara lain Gary Lineker, Zico, Dunga, Salvatore Schillaci, dan Pierre Littbarski.

SIMAK JUGA: "Kehadiran Marquee Player Bukan Jaminan Buat Tim Kuat"

Penerapan aturan marquee player kembali mengemuka di dunia sepakbola ketika David Beckham bergabung ke Los Angeles Galaxy. Pada 2007, Beckham menandatangani kontrak lima tahun dengan nilai gaji US$6,7 juta per tahun. Menyadari potensi kedatangan bintang dunia lain, Major League Soccer (MLS) menerapkan Peraturan Designated Players -- yang juga dikenal secara populer dengan nama "Peraturan Beckham".

Peraturan ini mengizinkan klub MLS untuk mengalokasikan dana guna mendatangkan pemain bintang. Peraturan ini berfungsi karena MLS menerapkan batasan anggaran gaji (salary cap) kepada klub peserta. Besaran salary cap ini meningkat dari tahun ke tahun. Di luar salary cap tersebut, klub MLS dapat menggaji seorang pemain designated hingga batasan maksimal.

MLS memperkenalkan berbagai perangkat peraturan ini dan secara berkala melakukan pembaruan. Misalnya, awalnya klub MLS diperkenankan menukar jatah designated player, tetapi kemudian tak lagi diizinkan sejak 2010. Klub MLS dapat merekrut hingga tiga designated player dengan batasan gaji maksimal sesuai dengan usia sang pemain.

SIMAK JUGA: Regulasi Marquee Player Dianggap Tidak Adil

Sistem komprehensif yang mirip diterapkan liga Australia (A-League). Mereka juga menerapkan peraturan marquee player yang berbasis salary cap. Musim 2016/17, klub A-League memiliki batasan gaji A$2,6 juta dan 90 persen dari jumlah itu mesti masuk ke dalam pengeluaran gaji klub. Anggaran yang tak terpakai dapat digunakan pada musim berikutnya dengan ketentuan tidak melebihi 105 persen dari salary cap musim tersebut.

Pengaturan marquee player dibagi ke dalam berbagai kategori, mulai dari designated player dan guest player. Klub A-League dapat menghabiskan anggaran di luar salary cap (berbeda dengan MLS, tidak ada batasan gaji maksimal untuk designated player di A-League) untuk pemain yang dianggap memenuhi kriteria sebagai designated player atau guest player

Kategori guest player dipakai untuk pemain yang memenuhi kriteria pemasaran tertentu dan maksimal hanya dapat bertanding 14 kali di A-League. Ada pula kategori guest player khusus musim 2016/17 yang tidak memiliki batasan penampilan maksimal.

Menariknya, A-League juga menyertakan kategori homegrown player dan loyalty player untuk anggaran klub di luar salary cap. Homegrown player adalah pemain Australia berusia di bawah 23 tahun yang dibina oleh klub, sedangkan loyalty player adalah mereka yang menghabiskan minimal lima musim berturut-turut di klub yang sama.

Ada sejumlah kategori lain, seperti mature age rookie atau scholarship player. Namun, skuat utama klub A-League hanya dapat mendaftarkan 20-23 nama pemain. Minimum tiga di antaranya harus pemain Australia berusia di bawah 20 tahun dan maksimum lima pemain asing. 

Guest player dan mature age rookie berada di luar daftar tersebut. Namun, guest player khusus musim 2016/17 mesti berada di dalam daftar. Klub tidak diperkenankan mendaftarkan lebih dari satu guest player.

SIMAK JUGA: "Persib Lebih Butuh Playmaker Ketimbang Striker"

Rumit? Kalau begitu Liga Super India (ISL) dapat memberikan solusi yang jauh lebih simpel. Tidak ada salary cap yang diterapkan di ISL sehingga klub bebas mendatangkan pemain bintang tanpa perlu mengkhawatirkan anggaran gaji masing-masing.

ISL diperkenalkan asosiasi India (AIFF) pada 2014 sebagai kompetisi di luar piramida sepakbola mereka yang bergulir mulai Oktober hingga Desember. Sejak dibentuk, banyak marquee player didatangkan untuk menarik animo penonton antara lain seperti Alessandro Del Piero, David Trezeguet, dan Robert Pires.

Penerapan marquee player ini sebenarnya sudah dilakukan di kompetisi I-League musim 2013/14 dan berjalan hingga musim berikutnya. Sistem ini akhirnya dihapus mulai musim 2015/16 karena definisi yang kabur tentang kriteria serta kualitas buruk marquee player.

Pada 2014, AIFF memberikan penjelasan tentang definisi marquee player, yaitu "pemain asing yang pernah tampil di kejuaraan seperti Euro, Copa America, Piala Afrika, Piala Asia, hingga Piala Dunia". Sistem marquee player tetap berjalan di ISL, tetapi klub harus mengajukan usulan nama pemain yang hendak direkrut dan baru bisa mengontrak pemain incaran setelah mendapat persetujuan pengelola liga.

Kehadiran marquee player bagi klub ISL berbuah manfaat dan mudarat. Finalis ISL 2016 mendapatkan hasil manis dari marquee player yang mereka rekrut, yaitu Helder Postiga (Atletico de Kolkata) dan Aaron Hughes (Kerala Blasters). Keduanya memberikan andil besar bagi klub yang diperkuat.

SIMAK JUGA: Arema FC Tak Butuh Marquee Player

Namun, kritik tak urung bermunculan karena sejumlah marquee player direkrut hanya berdasarkan nama besar, bukan kondisi kebugaran. "Hanya dua tiga kali mereka tampil baik, sisanya mereka seperti tampil hanya untuk mengantungi uang di akhir karier," ujar Chief Editor Goal India, Rahul Bali, kepada saya.

"Animo penonton muncul hanya pada tiga pertandingan awal," sambung Rahul, "begitu mereka sudah mendapat tanda tangan dan selfie [dengan marquee player], selesai."

"Klub harus pandai-pandai memilih marquee player yang pas. Misalnya, Florent Malouda yang tampil fenomenal. Tapi, ada pula pemain seperti Freddie Ljungberg yang terus-terusan cedera dan Del Piero yang flop."

Klub ISL didukung dana super besar, yaitu hingga US$6 juta. Tetapi, mereka tidak mengindahkan neraca bisnis yang seimbang dan mereka tidak memiliki sistem merchandising. Profit tampaknya bukan prioritas klub. "Uang seperti menguap begitu saja. Hal yang sulit sekali dipahami," tukas Rahul.

Nah, mencontoh berbagai perbandingan tersebut, akan seperti apa penerapan "Peraturan Essien" untuk Liga 1 Indonesia nanti?

 

Artikel Selanjutnya:
Hasil Pertandingan: Napoli 2-1 Lazio
Artikel Selanjutnya:
Hasil Pertandingan: Barcelona 3-1 Leganes
Artikel Selanjutnya:
REVIEW La Liga Spanyol: Real Betis Petik Kemenangan Dramatis
Artikel Selanjutnya:
REVIEW Bundesliga Jerman: Wolfsburg Gagal Dekati Empat Besar
Artikel Selanjutnya:
Hasil Pertandingan: Iran 2-0 Oman
Tutup