Goal25 14 Terens Puhiri CoverGoal Indonesia

GOAL 25 2017: #14 Terens Puhiri


OLEH   FARABI FIRDAUSY

Nama Terens Puhiri menjadi perbincangan dunia ketika ia mampu melesatkan gol spektakuler ke gawang Mitra Kukar. Pemain sayap milik Borneo FC itu melaju setengah lapangan dengan lari kencang untuk kemudian membobol gawang Gerri Mandagi.

Sampai-sampai, kolom komentar dari laman Instagram pribadi Terens dibanjiri kampanye #ComeToBeşiktaş. Hal itu tak lepas dari video golnya yang menjadi viral di jagad maya dan membuat klub-klub Eropa sempat melek akan bakat asli Indonesia.

"Sempat ada tawaran untuk main di Kroasia sampai Prancis, sayang agen yang mengubungi saya soal Terens tidak jelas dan menghilang," ucap Nabil Husein, presiden Borneo, klub yang mengontrak Terens hingga 2021 nanti.

Tak bisa ke Eropa, namun setidaknya Terens tetap bisa mencoba peruntungan ke negeri seberang dengan usia yang masih 21 tahun. Thai Port FC meminjam Terens dengan durasi satu musim ke depan, mengalahkan peminat dari Malaysia, Perak FA.

"Saya datang ke sana, ngobrol-ngobrol dengan manajemen di sana dan mereka lihat gol saya. Mereka langsung bilang: ambil anak ini," cerita Terens sambil bercanda, soal proses perekrutannya dengan Thai Port.

Banyak yang menyepelekan Terens sebagai pemain yang hanya bermodalkan lari kencang. Pandangan soal lari cepat namun kurang matang secara permainan dan taktikal lumrah melekat pada pemain asal Papua, seperti halnya Oktovianus Maniani.

Namun, Iwan Setiawan, pelatih yang mempercaya Terens mencetak debut bersama Borneo pada Piala Presiden 2015 memastikan bahwa ia merupakan versi penyempurnaan dari Okto. "Awalnya saya ragu, takut anak ini lemah secara taktikal," kata Iwan.

"Tapi anak ini punya prospek, walau biasanya anak bakat alam itu agak lemah dalam menerjemahkan taktikal. Tapi, begitu saya pegang, ternyata dia cepat melakukan apa yang diinginkan." urai Iwan, yang kini masih menukangi Borneo.

Di bawah impian menjadi 'Next Boaz Solossa', Terens menempa dirinya dengan bermain di atas pasir pantai. Hal tersebut banyak dilakukan anak-anak Papua, yang kemudian membuat fisik mereka kuat dan tentu lebih ringan untuk ketika berlari di lapangan hijau.

Perjalanan berliku untuk bisa dipandang dialami oleh Terens. Fisiknya memang terlalu mungil sehingga banyak yang meragukan kekuatannya untuk berduel dengan lawan, sampai-sampai pernah ditolak oleh SSB Numbay Star yang kemudian menerimanya setahun kemudian.

Merantau keluar dari Papua sejak usia muda tak menghalanginya untuk berkembang dengan baik, karena dipegang oleh pelatih yang bisa memahaminya. Iwan dianggap Terens sebagai ayahnya, dan Borneo pun berjasa besar menjadikan Terens bisa dikenal kembali sejak 2015.

"Ayah dan tim pelatih lainnya selalu memotivasi agar tidak cepat puas. Juga senior-senior dalam tim sering juga bilang hal yang sama. Saya merasa cocok dan dapat berkembang di sini. Apalagi, presiden klub sangat bersahabat dengan saya selama ini," ungkap Terens.

Pencapaian dalam hidup dimulai dari satu langkah. Untuk menjadi yang terbaik dibutuhkan kerja keras, ketekunan, dan sikap tanggung jawab yang besar. Tahun 2018 merupakan tahun penting bagi sepakbola Indonesia dengan target tinggi pada berbagai ajang besar. Ini saatnya mewujudkan mimpi besar itu bersama CLEAR. Ayo, Indonesia bisa! #AyoIndonesiaBisa #PakaiKepalaDingin #CLEAR #BebasKetombe

Iklan