20211031_Xavi(C)Getty images

Gerard Pique, Memphis Depay, Ansu Fati & Masalah Yang Harus Diselesaikan Xavi Saat Ambil Alih Barcelona

Ketika Xavi Hernandez mengambil alih, dia akan menemukan tim Barcelona yang sangat berbeda dari yang dia tinggalkan pada 2015. Gelandang legendaris itu pergi dengan membawa treble winner yang sensasional, dan menghabiskan hari-harinya dengan bermain di Qatar bersama Al Sadd, tempat di mana saat ini dia melatih.

Sejak itu, Lionel Messi hengkang, keuangan tim hancur berkeping-keping dan Luis Enrique pergi, diikuti oleh tiga pelatih lainnya yaitu Ernesto Valverde, Quique Setien dan Ronald Koeman.

Ada juga presiden baru, wajah yang familiar, yakni Joan Laporta dan tantangan untuknya tidak hanya mengembalikan Barca kembali ke tahta mereka baik di dalam atau di luar negeri, tetapi juga memulihkan gaya permainan yang telah berubah dan ditinggalkan dalam setengah dekade terakhir.

Untuk melakukan itu, Xavi harus menghadapi beberapa masalah yang menakutkan sambil juga menerima kenyataan bahwa klub saat ini berada di tengah krisis ekonomi.

Goal menganalisis situasi saat Xavi bersiap untuk mengambil salah satu pekerjaan paling sulit di sepakbola.

MASALAH KEPERCAYAAN

"Saya hanya ingin berterima kasih..." kata Victor Font. "Xavi!!" canda Joan Laporta.

Dia hanyalah lelucon bagi calon presiden selama kampanye pemilihan. Laporta bercanda dengan rencana Font untuk klub, yang menampilkan Xavi sebagai pemain kunci dan menganggap mantan gelandang itu terlalu dini untuk memimpin Barca.

Sebaliknya, dia kemudian memutuskan untuk mempertahankan Koeman selama musim panas, karena tidak bisa mendapatkan target yang diinginkannya.

Joan Laporta Barcelona GFXGetty Images

"Kami membutuhkan pelatih dengan lebih banyak pengalaman," kata Laporta pada bulan Februari tentang Xavi, menyarankan dia harus mengambil alih Barca B terlebih dahulu. Namun, setelah akhirnya memecat Koeman, Laporta kembali menyebut nama yang difavortikan oleh masyarakat itu.

Ini menempatkan Xavi dalam situasi yang berpotensi menjadi rumit, karena dia jelas bukan anak buah Laporta, hanya pilihan terbaik saat ini untuk memimpin tim kedepannya. Presiden itu akan mencoba untuk memuluskan segalanya dalam konferensi pers saat presentasi Xavi, tetapi jika tidak ada hubungan dan kepercayaan di balik layar, maka segalanya bisa runtuh dengan cepat.

Koeman dan Laporta terlibat perang dingin sebelum dia didepak, yang merugikan pria asal Belanda tersebut.

TEMAN-TEMAN LAMA

Xavi mungkin suka datang ke Barca, di mana dia tidak perlu melatih mantan rekan satu timnya. Hubungan yang dia miliki dengan mereka jelas harus berbeda ketika dia menjadi bosnya.

Yang membuat masalah menjadi lebih sulit, kapten klub adalah subjek dari salah satu perdebatan di sekitar klub. Haruskan mereka dikeluarkan dari tim dan bagaimana Anda melakukannya?

Sementara 'senioritas' Gerard Pique, Sergio Busquets, Sergi Roberto dan Jordi Alba jelas dapat berguna, penampilan mereka musim ini belum cukup kuat untuk menyamai status atau gaji mereka, bahkan setelah pemotongan gaji.

Pique terlihat semakin lebih buruk di bek tengah, terakhir oleh Luis Rioja dalam hasil imbang 1-1 dengan Alaves, sementara Busquets terus dieksploitasi oleh lini tengah lawan. Roberto terus-menerus menjadi sasaran kecaman fans Barca, dan kelemahan Alba di pertahanan dapat dimanfaatkan oleh siapa pun.

Xavi, di bulan-bulan terakhirnya di Camp Nou, sebagian besar memiliki peran pengganti di mana dia bisa masuk dan membantu memperlambat permainan untuk menjaga timnya tetap unggul dan mengambil keunungan, jadi setidaknya dia tahu satu cara untuk mengurus masalah tersebut.

Xavi, Gerard Pique, Sergio Busquets Barcelona GFXGetty Images

EKSPEKTASI BESAR

Penggemar Barca kemungkinan akan memberi Xavi waktu dan kelonggaran untuk mengembalikan situasi yang membuat klub berada di urutan klasemen kesembilan di La Liga dan berjuang di grup Liga Champions mereka.

Mereka tahu akan butuh waktu baginya untuk menerapkan ide-ide dalam taktiknya, dan untuk beberapa dari banyak pemain yang cedera - Pedri, Ansu Fati, Ousmane Dembele, Ronald Araujo, Frenkie de Jong, dan lain-lain - untuk kembali.

Para pendukung memhamai bahwa skuad ini lemah dan para pemain muda perlu diberi 'darah' dan dikembangkan untuk menutup celah, dan bahwa pemain terhebat dalam sejarah mereka, Messi, tidak lagi ada untuk menarik keluar mereka dari lubang.

Namun, banyak harapan yang dibebankan pada Xavi, dengan ada gagasan bahwa dia akan menjadi penyelamat klub: kedatangan kedua Pep Guardiola. Seperti Johan Cruyff melatih Pep, dan Pep melatih Xavi.

Dia tidak hanya diharapkan untuk bermain sepakbola yang dinikmati para penggemar, tetapi pada akhirnya dia diharapkan untuk mencapai banyak hal, seperti yang dilakukan Pep.

Guardiola menetapkan standar yang sangat tinggi dan sejauh apa bagusnya Xavi, sangat sulit untuk memenuhi standar itu.

Pendukung mengharapkan legenda tersebut untuk kembali dan membuat tim berkembang, tetapi kasus baru-baru ini - Andrea Pirlo di Juventus, Frank Lampar di Chelsea, Ole Gunnar Solskjaer di Manchester United dan, tentu saja, Koeman di Barca, menunjukkan bahwa pernyataan itu sering salah.

BERTUMBUH DAN BERKEMBANG

Perkembangan pemain muda Barca di bawah asuhan Koeman sempat dipertanyakan media. Tidak diragukan lagi bahwa sang pelatih memasukkan banyak pemain muda untuk debut mereka, tetapi apakah mereka berkembang atau tidak adalah pertanyaan lain.

Untuk setiap pemain seperti Pedri, pasti ada juga yang menjadi Riqui Puig, yang nyaris tidak diberi kesempatan. Frenkie de Jong adalah salah satu pemain yang 'di situ-situ saja', diberi tanggung jawab untuk mengangkat beban tim ketika dia baru berusia 24 tahun dan dia juga membutuhkan pelatih yang dapat membantunya untuk dapat menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia.

Ansu Fati juga pemain lain, yang digembar-gemborkan sebagai penyelamat, tetapi dia baru berusia 19 tahun dan harus dibiarkan tumbuh alih-alih diminta untuk memberikan kontribusi yang nyata di setiap pertandingan pekan demi pekan.

Ansu Fati Barcelona GFXGetty Images

Xavi harus membantu para pemain ini dalam perjalanan mereka dan - karena masalah keuangan di Blaugrana - juga menggunakan mereka untuk merengkuh trofi.

"Kekalahan membawa konsekuensi," kata Laporta pada bulan Juni lalu.

KEKURANGAN PERTAHANAN

Barca terus-terusan tampil buruk di bawah asuhan Koeman, kebobolan pada tembakan pertama ke gawang. Dalam enam dari tujuh pertandingan terakhir mereka, upaya pertama tepat sasaran selalu berbuah gol. Penjaga gawang Marc-Andre ter Stegen tidak dalam kondisi terbaiknya dan bek yang ada di depannya telah keropos.

Xavi ingin menerapkan gaya bermain menyerang dan memiliki tingkat penguasaan bola yang tinggi untuk membatasi jumlah serangan lawan, tetapi tanpa bek cepat yang dapat menghentikan serangan lawan, ada kemungkinan Blaugrana akan rentan saat melakukan transisi dari menyerang ke bertahan.

Lebih jauh, dan terlepas dari citranya, di bawah asuhan Guardiola tim lebih mahir dan menujukkan 'seni dalam sepakbola'. Tactical foul adalah senjata utama di Barca dan harus bisa menghentikan lawan melewati area di mana mereka dapat menembus tim Catalan.

DUO BELANDA

Kedatangan Xavi akan menjadi pertanda buruk bagi dua pemain - Luuk de Jong dan Memphis Depay. Striker pinjaman dari Sevilla itu mungkin mendekati menit-menit terakhirnya untuk klub, tergantung kondisi Sergio Aguero setelah dia keluar lapangan saat melawan Alaves.

Sementara itu, Memphis adalah bagian penting dari lini serang klub, tetapi keputusannya dalam mengambil risiko tidak cocok dengan gaya Xavi. Penyerang internasional Belanda itu banyak kehilangan bola di setiap pertandingan dan selalu ingin menghasilkan momen ajaib.

Philippe Coutinho juga berjuang untuk menyesuaikan diri dan mungkin juga menjadi korban ketika Xavi menginginkan pemain yang lebih cepat dala menguasai bola dan bisa bermain lebih lebar dalam serangan. Sebaliknya, Riqui Puig akan diberi lebih banyak peluang, bersama dengan bek Samuel Umtiti yang terlupakan, jika dia fit.

Xavi harus memutuskan dengan cepat apakah pemain dapat diselamatkan dari tumpukan sampah dan, jika tidak, apakah mereka dapat dijual pada Januari nanti.

Luuk de Jong Barcelona GFXGetty Images

PEMAIN KE-12

Fans Barca belum muncul untuk tim musim ini di Camp Nou. Kehadiran mereka sebanyak 37.278 pada pertandingan melawan Alaves adalah yang terendah sejak 2001 untuk pertandingan kandang di akhir pekan, di luar periode batas Covid-19.

Pendukung frustrasi dengan tim, gaya mereka, kepergian Messi dan banyak lagi. Seiring dengan berkurangnya pariwisata dan beberapa penggemar tetap menjauh karena pandemi, itu telah menyebabkan setengah stadion menjadi kosong hampir setiap pekan di musim ini.

Tantangan pria berusia 41 tahun itu adalah mengembalikan penonton, melalui penampilan dan hasil. Hal tersebut akan membantu menghidupkan kembali keuangan klub yang terkuras, yang akan memungkinkan ada lebih banyak kucuran dana di bursa transfer dan memulai siklus yang positif.

Xavi tidak akan menjadi pelatih tim, tetapi juga frontman untuk 'Barcelonismo' secara keseluruhan, dengan semua tekanan di bawahnya.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0