Memiliki stadion sendiri sudah seperti menjadi salah satu faktor paling penting bagi sebuah klub sepakbola di era profesional ini.
Tak terkecuali bagi klub-klub Kamboja, yang perlahan mulai bergeliat membangun stadion privat. Mereka menyadari bahwa mempunyai stadion sendiri akan bagus untuk kestabilan finansial jangka panjang.
Sebagai contoh Juventus misalnya di Eropa. Keputusan membangun J Stadium -- yang kini berganti nama menjadi Allianz Stadium karena sponsor -- membuat mereka satu langkah lebih maju dibandingkan kontestan Serie A Italia lainnya.
Setidaknya aspek pengeluaran mereka untuk menyewa stadion seperti yang dilakukan tim-tim lain dipangkas dan itu membuat finansial lebih stabil. Hasilnya mereka bisa mendominasi dalam tujuh musim terakhir.
Tren membangun stadion sendiri di Kamboja sebenarnya sudah dimulai empat tahun yang lalu oleh Phnom Penh Crown FC (PPFC), klub yang baru berdiri secara profesional pada 2001 silam.
Memang kapasitas RSN Stadium milik mereka hanya sebanyak 5,000 penonton. Tapi jika menilik animo serta atmosfer sepakbola Kamboja yang baru berkembang, jumlah itu sudah cukup sebagai permulaan.
"Saya yakin ini akan menjadi langkah awal spektakuler bagi babak baru yang menarik dalam perkembangan klub kami dan juga sepakbola Kamboja," tutur Rithy Samnang selaku pemilik PPFC dilansir Phnom Penh Post saat pembukaan stadion.
Langkah berani PPFC tersebut membuat mereka menjadi klub yang stabil baik dari segi prestasi maupun finansial. Juara Cambodian Premier League pada 2014 dan 2015 menjadi bukti. Dan progres mereka kini coba ditiru oleh para rival.
Dua tim papan atas, Boeung Ket Angkor dan Visakha mulai mengikuti jejak PPFC. Mereka seakan-akan berlomba untuk memiliki stadion sendiri yang sesuai dengan ketentuan AFC.
Hal ini jelas merupakan sinyal baik bagi kemajuan liga serta timnas Kamboja, yang bukan tidak mungkin akan mampu membuat persepakbolaan mereka bisa bersaing atau bahkan berbicara lebih banyak di masa mendatang.

