Di saat negara lain berlomba-lomba untuk memajukan sepakbola-nya, keputusan PSSI untuk meniadakan sistem promosi-degradasi adalah kemunduran besar bagi persepakbolaan Indonesia.
Langkah tidak lazim tersebut bukan lagi menuai pro kontra, karena memang tidak ada pihak—yang ogah mencederai asas-asas dalam sepakbola—yang bakal mendukung keputusan seperti itu.
Kritik datang dari berbagai elemen. Salah satunya yakni Ganesport Institute, lembaga pertama di Indonesia yang bergerak di bidang manajemen dan kebijakan olahraga.
“Bagi saya, liga profesional tanpa degradasi berisiko menurunkan kualitas timnas. Jadi, jika ingin punya timnas yang kuat, salah satunya jangan hilangkan sistem promosi-degradasi," ucap Amal Ganesha, pendiri sekaligus direktur Ganesport.
“Mayoritas timnas yang kuat di dunia terbentuk dari liga dengan sistem promosi-degradasi. Menghilangkan sistem degradasi, sama artinya dengan mengurangi unsur competitiveness [persaingan] dalam sebuah ekosistem liga,” tambahnya.
Amal juga memaparkan bahwa untuk menjadikan timnas sepakbola yang kuat, liga harus memiliki strata yang banyak, rapi, dan berjenjang. Ia mengambil contoh pembangunan sepakbola di Eropa sebagai kutub peradaban sepakbola dunia saat ini.
"Di Eropa, selain liga sepakbola-nya pakai sistem promosi-degradasi, liga amatirnya juga lebih diperhatikan,” kata Amal.
“Sebagai contoh di Inggris dan Belanda, liga profesionalnya masing-masing hanya empat dan dua strata, sementara liga amatir di kedua negara tersebut ada lebih dari enam strata.”
“Fakta tersebut memberi pesan bahwa sepakbola amatir juga penting karena akan berkontribusi pada pembentukan timnas yang kuat dalam jangka panjang.”
"Di Indonesia, kini PSSI hanya mengakui tiga liga sepakbola, di mana dua adalah profesional dan satu amatir. Bagi saya, seharusnya liga sepakbola kita ditambah jika ingin punya timnas yang kuat.”
“Sebaik-baiknya timnas adalah timnas yang banyak pemainnya dibentuk dari kompetisi domestik. Dengan begitu, kita akan kuat dan tumbuh. Bukan saja akan melahirkan banyak pesepakbola hebat, lebih dari itu juga bakal memutar roda ekonomi, dan di saat itulah tercipta sebuah industri sepakbola,” pungkas Amal, yang juga pernah bekerja untuk Manchester City itu.
Adapun Liga 1 musim ini dijadwalkan berakhir pada 16 April mendatang alias sepekan sebelum memasuki bulan Ramadan.


