Thailand U-23 mencatatkan pencapaian terburuk mereka dalam gelaran Asian Games 2018 setelah harus tersingkir di fase grup.
Ini berarti sejak partisipasi mereka dalam edisi 2002 silam, untuk pertama kalinya kampanye pasukan muda Negeri Gajah Putih terhenti di tahapan awal turnamen.
Padahal, dalam empat penampilan terakhir mereka di Asian Games selalu mampu lolos dari fase grup. Bahkan pada 2014 lalu di Korea Selatan saat dilatih Kiatisuk Senamuang mereka berhasil finis keempat.
Maka tak ayal, kegagalan besar tahun ini lebih difokuskan terhadap kinerja Worrawoot Srimaka selaku juru taktik saat ini. Pelatih berusia 46 tahun tersebut dianggap sebagai biang keladi penurunan prestasi skuat muda Thailand.
Worrawoot memang sukses mempersembahkan medali SEA Games 2017, namun dari segi permainan anak asuhnya sekarang ini tidaklah seatraktif era Kiatisuk ketika menjadi yang terbaik di SEA Games 2013.
Akumulasi taktik yang dianggap usang dan kegagalan di Asian Games tahun ini membuat beban di pundak Worrawoot semakin besar, terlebih kini muncul kampanye di media sosial agar dirinya mundur.
Kampanye yang sama juga menyebut sosok Kiatisuk sebagai pelatih yang ideal untuk kembali menangani pasukan U-23.
Hanya saja, reuni antara tim muda Thailand dan Kiatisuk mungkin akan sulit terwujud dengan adanya isyarat dukungan dari presiden Federasi Sepakbola Thailand (FAT) Somyot Poompunmuang terhadap posisi Worrawoot.
"Setelah mereka [tim U-23] kembali dari Asian Games, kami semua masih harus menggelar diskusi tentang permasalahan yang ada dan mencari solusi untuk menyelesaikannya," ujar Somyot seperti dilansir Bangkok Post.
Thailand U-23 masih punya dua agenda penting dalam dua tahun ke depan, yakni mengikuti SEA Games 2019 di Filipina serta ambil bagian di turnamen anyar, Piala AFF U-23 yang diadakan di Kambola pada 2020.

