Berita Live Scores
Cult Hero

Francis Jeffers - Harapan Britania Yang Terdampar Hingga Malta

21.35 WIB 02/12/21
Francis Jeffers
Jeffers menjadi calon bintang Britania di Everton, tetapi kepindahannya ke Arsenal membuyarkan segalanya

Arsenal dahulu dikenal sebagai klub dengan kebijakan transfer jenius.

Mereka bisa mengidentifikasi pemain-pemain tak dikenal dengan jitu, dan mengorbitkannya sebagai bintang. Tengok saja nama-nama seperti Dennis Bergkamp, Ian Wright, Patrick Vieira, dan tentunya Thierry Henry, yang bersinar terang di bawah arahan Sang Profesor, Arsene Wenger.

Namun, profesor sekalipun bisa salah. Mereka hanya manusia biasa yang penilaiannya tidak sempurna. Dan itulah yang terjadi dengan penilaian Wenger terhadap Francis Jeffers.

Di usianya yang baru 16 tahun, Jeffers dipercaya oleh manajernya, Howard Kendall, untuk menyelamatkan Everton dari kekalahan di Old Trafford saat mereka ketinggalan 2-0 di malam natal 1997.

Ia memang tidak berhasil membuat keajaiban malam itu, tetapi empat tahun setelahnya Jeffers menorehkan namanya sebagai bakat paling menjanjikan dalam kancah sepakbola Inggris.

Jeffers mencetak 18 gol dari 49 penampilan di liga sebelum genap berusia 20 tahun.

Sang Profesor pun kesengsem. Pada musim panas 2001, Wenger menyebut Jeffers "terobsesi mencetak gol" dan menuntunnya ke Arsenal dengan harga yang tidak main-main saat itu: £11 juta!

Lalu bagaimana kariernya di Arsenal?

Namun Kevin Campbell, partner lini depan Jeffers di Everton, mengaku pernah memperingatakannya kepada Complex: "ia harus segera dipinjamkan kembali ke Everton... ia harus memastikan ia bisa belajar dengan bermain setiap pekan."

Melihat nama Jeffers disejajarkan dengan skuad The Gunners memang akan terlihat konyol saat ini, tetapi waktu itu terasa seperti transfer yang wajar. Klub-klub raksasa lain mengincar talenta 20 tahun ini, sehingga £11 juta tidak terasa terlalu berlebihan.

Ia bergabung dengan tim polesan Wenger yang dipenuhi nama-nama bitnang. Dia menjadi kepingan puzzle terakhir, sosok poacher yang cerdik memanfaatkan ruang dan bisa menyelesaikan peluang-peluang kreasi Henry dan Bergkamp.

"Francis adalah 'fox in the box' yang kami tunggu-tunggu dari dulu dan meski ia seorang pencetak gol, saya ingin mengembangkannya menjadi pemain [yang bisa bekerja untuk] tim," ujar Wenger kepada Evening Standard saat membelinya.

 Benar saja: menit bermain Jeffers berkurang banyak di Arsenal. Sylvain Wiltord dan Henry tak tergantikan, apalagi oleh anak baru seperti Jeffers.

Jeffers sendiri mengaku kepada Sunday Mirror pada 2012: "Mengingat kembali skuad Arsenal saat saya bergabung, saya jadi berpikir, 'Bisa-bisanya saya bermimpi bisa menembus tim itu'".

Seolah sudah jatuh tertimpa tangga, ternyata bukan cuma persaingan yang bakal membuat kariernya di London utara layu sebelum berkembang, ia menghabiskan musim 2000/01 di ruang perawatan karena cedera pergelangan kaki dan bahu. Dan cedera seolah menjadi sahabat sejati yang senantiasa menemani karier Jeffers.

Kalah saing dan cedera memang, bisa dibilang, bukan salah Jeffers, tapi tidak begitu dengan faktor ketiga yang meredupkan kariernya.

Sejak di Everton, sikap Jeffers memang sudah menjadi biang masalah. Ia langsung meminta ditransfer begitu permintaan kenaikan gajinya ditolak. Walter Smith yang waktu itu menangani Everton sampai berkata: "Pergi dari kantorku sebelum kubunuh kau!".

Di Arsenal? Sama saja. Seorang narasumber Arsenal buka suara kepada Evening Standard pada 2004, menyebut Jeffers "angkuh dan sombong" serta "tak sebagus yang ia kira."

Dan Jeffers tidak memungkirinya. Ia berkata, dikutip dari Daily Mail: "Saya keluyuran, berpesta, bersenang-senang – tidak serius berlatih karena saya selalu merasa 'toh saya tidak akan main juga besok Sabtu'."

Jika ditotal, Jeffers cuma tampil 10 kali di musim pertamanya bersama Arsenal, hanya sekali menjadi starter, dan mencetak dua gol saja.

Musim kedua memang lebih baik, ia tampil 28 kali namun hanya dua darinya yang merupakan start di liga, dan cuma menghasilkan enam gol dan dua assist.

Harapan besar sepakbola Inggris itu cuma berakhir menjadi penghangat bangku cadangan Highbury.

Uniknya, Roy Hodgson tetap memanggilnya masuk timnas senior Inggris pada 2003, dan ia melakoni debut dan satu-satunya penampilan bagi The Three Lions saat dikalahkan Australia 3-1 dalam sebuah laga persahabatan. Siapa yang mencetak gol Inggris? Ya, Jeffers.

Malam itu seorang calon pesepakbola legendaris Inggris juga tampil perdana: Wayne Rooney.

Sama-sama memulai karier sebagai bocah menjanjikan dari Everton, luar biasa bagaimana nasib keduanya sungguh berbeda.

Pada 2003/04, ia dikembalikan ke Everton sebagai pinjaman dan sejak saat itu tak pernah lagi mengenakan jersey Arsenal.

Saat masa peminjamannya bersama The Toffees kelar, di mana ia cuma mengemas 23 penampilan dengan dua gol, ia dilego ke Charlton dengan harga £3,5 juta saja.

Seolah tak diinginkan di mana-mana, kariernya pun berubah menjadi pengelana. Setelah dari Everton, ia bermain untuk sembilan klub berbeda di Inggris, Skotlandia, dan Australia. Jeffers bahkan sampai terdampar ke Liga Primer Malta, membela klub kecil bernama Floriana.

Ia akhirnya menggantungkan sepatu pada 2013 setelah 280 penampilan, 49 gol, dan 13 assist, dan akan selalu dikenang sebagai kesalahan Sang Profesor.