Presiden Real Madrid, Florentino Perez, menegaskan kembali bahwa inisiatif Liga Super Eropa yang digagas adalah upaya “menyelamatkan sepakbola”.
Perez juga meyakini bawah reaksi penolakan secara masif dari rencananya tersebut disebabkan karena “penyampaian yang buruk”.
Perez menjadi inisiator utama pembentukan Liga Super, yang kini telah kolaps sejak pengumumannya awal pekan ini karena pengunduran diri enam klub Liga Primer Inggris, serta Atletico Madrid dan Inter Milan.
Namun bos Madrid—yang telah menjadi sasaran kritik dari Presiden LaLiga, Javier Tebas—itu tetap berkomitmen pada ide Liga Super dan mengatakan ia masih yakin gagasan ini adalah yang dibutuhkan sepakbola pasca-kesulitan ekonomi yang terjadi sebelum dan sesudah pandemi virus corona.
Apa yang Perez katakan?
"UEFA mengadakan acara, yang membuat saya sangat terkejut," ucap Perez dalam program televisi Spanyol, El Larguero, Rabu (21/4).
"Seolah kami telah menjatuhkan bom nuklir. Kesalahan apa yang kami lakukan? Mungkin kami memaparkannya dengan buruk, tapi mengapa mereka tidak membiarkan kami membahasnya?”
"Tidak adil bahwa di Inggris enam kalah dan 14 menang, bahwa klub-klub besar di Spanyol kehilangan uang dan klub-klub kecil menghasilkan uang. Sepak bola adalah piramida. Jika ada uang di puncak, maka uang mengalir turun dan semua orang mendapatkannya.
IMAGO / PA Images"Tidak adil di Inggris saat enam klub kalah dan 14 lainnya menang. Kemudian klub-klub besar di Spanyol kehilangan uang dan klub-klub kecil mendapatkannya. Sepakbola adalah piramida. Jika ada uang di puncak, maka uang mengalir turun dan semua orang mendapatkannya.”
"Di level elite [tenis, Roger] Federer akan bermain melawan [Rafael] Nadal. Orang tidak akan menonton Nadal melawan pemain peringkat ke-80 dunia."
"Saya belum pernah melihat bentuk perlawanan seperti itu sebelumnya, baik dari presiden UEFA atau asosiasi liga domestik. Sepertinya ada pengaturan. Kami dianggap penista, ancaman, yang membunuh sepakbola. Padahal, kami mencoba menyelamatkan sepakbola,” ujar pria yang juga memimpin perusahaan konstruksi terkemuka dunia itu.
Bagaimana selanjutnya?
Terlepas dari penangguhan Liga Super, Perez yakin pada akhirnya akan ada proposal atau rencana lain untuk mengubah kompetisi yang dianggapnya dijalankan dengan format "usang”.
"Saya sedih dan kecewa," tutur Perez.
"Kami telah bekerja selama bertahun-tahun dalam hal ini, mencari cara untuk membuat segalanya lebih baik dari sudut pandang sepakbola dan ekonomi.”
“Kompetisi domestik itu sakral. Yang bisa kami ubah adalah pertandingan tengah pekan. Liga Champions sudah usang. Hanya menarik sejak babak perempat-final.”
"Kami terbuka untuk siapapun yang datang dengan opsi lain selain Liga Super. Ini bukan tentang si kaya dan si miskin. Madrid tidak kaya, kami kaya secara trofi.”
“Saya tidak mendapat sepeser pun dari [proyek] ini. Saya harus mengatakan bahwa dalam 20 tahun ke depan, jika saya menginginkan jersey, saya akan membayarnya. Saya memiliki otoritas untuk mengatakan, bahwa apa yang saya ingin saya lakukan adalah demi kebaikan sepakbola,” pungkasnya.
Yang menarik pada periode yang sama, UEFA langsung mengumumkan penggunaan format baru untuk Liga Champions per musim 2024/25 dengan menyertakan 36 tim, alias empat tim lebih banyak dari yang selama ini.


