Feyenoord mengambil tindakan tegas menyusul kericuhan saat laga tandang melawan SC Cambuur. Klub asal Rotterdam itu telah mengidentifikasi 47 suporter dan langsung menjatuhkan larangan masuk stadion lokal untuk De Kuip kepada mereka.
Selain itu, kartu tandang milik suporter yang terlibat akan diblokir. Feyenoord juga melaporkan 47 orang tersebut kepada KNVB, sehingga mereka berpotensi menghadapi larangan masuk stadion secara nasional.
"Dalam beberapa hari ke depan, 47 orang akan menerima pemberitahuan bahwa kepada mereka langsung dijatuhkan apa yang disebut larangan masuk stadion lokal untuk De Kuip, kartu tandang mereka diblokir, dan mereka didaftarkan ke KNVB untuk larangan masuk stadion nasional," tulis Feyenoord dalam siaran pers. "Ini karena tindakan tidak pantas di tribune tim tamu selama pertandingan SC Cambuur – Feyenoord pada 23 Agustus."
Dalam duel itu, suporter Feyenoord menyalakan kembang api secara massal pada menit ke-12. Sebagiannya mendarat di tribune yang ditempati suporter Cambuur, yang mengakibatkan tujuh orang terluka.
Para suporter yang terdampak antara lain mengalami gangguan pendengaran, luka bakar, dan cedera mata. Kiper Feyenoord, Tjark Ernst, juga lolos dari cedera setelah nyaris terkena roket suar.
Menurut Feyenoord, larangan masuk stadion tersebut merupakan hasil dari penyelidikan intensif selama berminggu-minggu. Dalam proses itu, antara lain dipelajari rekaman gambar secara ekstensif untuk mengidentifikasi suporter yang terlibat dan menetapkan peran mereka dalam insiden tersebut.
Klub mengambil tindakan terhadap suporter yang diduga mengoordinasikan aksi kembang api itu, memegang spanduk, berupaya menghindari pengawasan kamera dengan cara tersebut, atau menyalakan kembang api sendiri. Selain itu, tidak tertutup kemungkinan pihak-pihak yang terlibat juga akan dituntut secara pidana.
Langkah lanjutan apa pun akan ditentukan oleh KNVB dan Kejaksaan. Feyenoord sebelumnya juga sudah memutuskan untuk tidak membawa suporter pada dua laga tandang berikutnya.





