Presiden UEFA Aleksander Ceferin menegaskan dirinya tidak khawatir kompetisi di kawasan Eropa akan kehilangan banyak pemain bintang, menyusul fenomena belanja pemain yang dilakukan klub Arab Saudi.
Bursa transfer musim panas tahun ini memang mengaitkan sejumlah pemain ke klub Arab Saudi, seperti Lionel Messi, Luka Modric, dan Romelu Lukaku. Terakhir, Karim Benzema resmi diperkenalkan sebagai anggota skuad Al Ittihad. Kedatangan Benzema menyusul mantan penggawa Real Madridnya, Cristiano Ronaldo, yang berlabuh di Al Nassr.
Ceferin mengatakan, gelontoran fulus yang dikeluarkan Arab Saudi tidak membuat dirinya merasa khawatir. Menurut Ceferin, Eropa tetap menjadi pilihan calon pemain bintang yang ingin mengangkat nama mereka di persepakbolaan dunia.
“Sebutkan satu saja nama pemain top, usia puncak, dan siapa yang memulai karirnya, dan bermain di Arab Saudi?” tanya Ceferin kepada media Belanda NOS di sela-sela Final Nations League yang digelar di Negeri Kincir Angin.
“Ini bukan soal uang saja. Pemain ingin memenangkan kompetisi top, dan kompetisi top ada di Eropa. Kami tidak kehilangan mereka. Mereka masih bermain sepakbola. Di akhir karir mereka, beberapa pemain pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan uang.”
Ceferin menambahkan, kebijakan belanja pemain di Arab Saudi akan menghancurkan persepakbolaan negara tersebut. Ceferin mencontohkan kegagalan Tiongkok di era 2010-an yang sempat mendatangkan sejumlah nama tenar.
Didier Drogba menjadi salah satu rekrutan bintang liga Tiongkok pada 2012 di saat beberapa klub di sana membeli pemain depan yang berbasis di Eropa, seperti Nicolas Anelka dan Frederic Kanoute. Namun, liga Tiongkok dan tim nasional mereka hanya membuat sedikit kemajuan secara internasional sejak saat itu.
“Menurut saya, itu sebuah kesalahan untuk sepakbola Arab Saudi. Mengapa itu menjadi masalah bagi mereka? Mereka seharusnya berinvestasi di akademi, mereka harus mendatangkan pelatih, dan mereka harus mengembangkan pemain mereka sendiri,” tutur Ceferin.
“Sistem membeli pemain yang menjelang akhir karirnya bukanlah sistem yang mengembangkan sepakbola. “Itu seperti kesalahan yang sama di Tiongkok ketika mereka membawa pemain yang berada di akhir karir.”
