FC Sochi GFXGetty/Goal

Siapa FC Sochi? Klub 'Piyik' Yang Dekat Dengan Vladimir Putin & Guncangkan Hegemoni Sepakbola Rusia

Coba cek klasemen Liga Primer Rusia, Anda akan menemukan sebuah klub yang baru menetas pada tahun 2018 terlibat dalam perburuan gelar juara.

FC Sochi saat ini nangkring di peringkat kedua, hanya dua poin di belakang juara bertahan, Zenit, yang mampu mereka kalahkan di kandang mereka sendiri di St. Petersburg di awal Oktober – dan mereka tidak malu untuk bercita-cita besar: Liga Champions Eropa masih dalam rengkuhan.

Sochi adalah sebuah kasus unik; keberadaan mereka adalah hasil dari sebuah keputusan politik menjelang Piala Dunia 2018.

Pemerintah Rusia membutuhkan tim untuk berumah di Stadion Olimpiade Fisht, yang menggelar enam pertandingan Piala Dunia, termasuk saat Spanyol dan Portugal 3-3.

Untuk itu, lisensi Dinamo St Petersburg digunakan - tim kasta kedua itu secara teknis direlokasi ke selatan, ke pesisir Laut Hitam dan sebuah petualangan baru dimulai.

"Ini adalah instruksi dari atas," ujar Ivan Zhidkov, editor kepala surat kabar Sport Den Za Dnem kepada Goal. "St Petersburg tak pernah menginginkan lebih dari satu klub di dalam kota mereka – mereka hanya mendukung Zenit. Dinamo tidak memiliki infrastruktur untuk menjadi tim bagus di sana."

"Di sisi lain, penting untuk mencegah agar Fisht tidak menjadi [investasi yang percuma], apalagi karena ia adalah stadion modern yang mewah – salah satu yang terbaik di dunia."

Boris Rotenberg, salah satu pebisnis terkaya di Rusia dan sobat dekat Vladimir Putin sejak keduanya berlatih judo bersama-sama di St. Petersburg sewaktu muda, menjadi pemilik klub baru ini – dan Sochi langsung melejit.

Mereka langsung promosi ke Liga Primer di musim pertama dan lalu membangun skuad yang kokoh - meski dengan bantuan Zenit. Pada musim panas 2019, tidak kurang dari delapan, ya delapan, pemain Zenit yang menyebrang ke Sochi, termasuk sebagai pinjaman.

Setelah itu fans berasumsi bahwa Gazprom - BUMN migas raksasa - memiliki semacam ketertarikan finansial kepada tim baru tersebut, dengan Sochi dianggap sebagai feeder club Zenit.

Fans jadi memprediksi Sochi akan selalu 'mengalah' di tangan Zenit, apalagi mengingat empat kekalahan di dua musim pertama kian membuktikan teori tersebut. Namun, keduanya saling merdeka dari satu sama lain, dan pihak Sochi menepis tudingan itu dengan berang.

Kini, setelah mengemas kemenangan pertama atas Zenit, mereka bisa dianggap sebagai pesaing gelar juara yang sah.

Kemajuan mereka sungguh mengundang decak kagum, Sochi memanfaatkan musim 2019/20 untuk terbiasa dengan Liga Primer, dan musim lalu – di bawah pimpinan Vladimir Fedotov – mereka finis kelima, dan lolos ke kompetisi baru: Liga Konferensi Europa.

Sayangnya Sochi tersingkir oleh Partizan Belgrade lewat adu penalti sebelum masuk fase grup, tetapi meninggalkan kesan berarti di ajang Eropa pertama mereka – dan kini memiliki ambisi yang lebih agung.

"Sochi boleh saja tak memiliki skuad terkuat di liga, tetapi mereka di-manage dengan sangat baik dan memiliki strategi yang solid. tak seperti klub-klub besar lain," jelas Zhidkov.

"Fedotov adalah pelatih yang sangat bagus, yang bekerja dalam harmoni dengan direktur olahraga, Andery Orlov."

"Atmosfer di klub sehat, dan tak akan mengejutkan jika mereka bertahan di dekat puncak klasemen hingga akhir musim."

Problema utama Sochi adalah bahwa mereka berlokasi di kota yang tak terlalu menggilai sepakbola. Klub sebelumnya, Zhemchuzhina Sochi, hanya bermain di kasta tertinggi pada musim 1992 dan 2000, sebelum dibubarkan pada 2003.

"Fisht terlalu jauh dari pusat kota, dan tidak mudah untuk meyakinkan orang-orang untuk menonton sepakbola. Namun, resor Laut Hitam populer di kalangan fans tandang saat klub besar seperti Zenit dan Spartak bermain di sana – ini adalah kesempatan bagus untuk mendukung tim Anda sekaligus berlibur," ujar Zhidkov.

Pemain yang menyebrang langsung dari Zenit tinggal empat orang. Yang terbaik dari mereka adalah seorang veteran, jenderal lapangan tengah asal Ekuador yang berusia 36 tahun, Christian Noboa, yang sudah bermain di Rusia sejak 2007, memenangkan dua gelar liga bersama Rubin Kazan, dan menjadi bagian dari tim yang pernah menekuk Barcelona di Camp Nou pada gelaran Liga Champions 2009.

Sementara itu generasi muda Amerika Selatan diwakili oleh striker 24 tahun dari Kolombia, Mateo Cassierra, yang dibuang oleh Ajax dan dibeli pada musim panas dari Belenenses dengan harga murah, €1 juta. Ia sudah mencetak tiga gol dari lima laga, termasuk saat mengalahkan Zenit dan Rostov – dan merupakan produk dari pemandu bakat berkualitas Sochi.

Beberapa fans Rusia menganggap Sochi sebagai alat politik belaka dan membenci proyek tersebut karena diduga berhubungan dengan Zenit. Mereka adalah klub yang sering dijuluku 'plastik', yang tak punya fans dan sejarah, tetapi mereka jelas punya masa depan.

Mereka bisa jadi langganan sepakbola Eropa di masa depan, dan mengunjungi kota wisata itu bisa menjadi atraksi menarik bagi pecinta sepakbola di Eropa.

Lagipula, tak banyak stadion sepakbola yang berlokasi super dekat dengan pantai yang indah.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0