04383688c23e95ad5d23323e2e60abbeced13922

EuROPAN: Inggris Harus Belajar Dari Jerman

Ketika Harry Kane, Jamie Vardy, dan Eric Dier membenamkan Jerman dari ketertinggalan dua gol di babak pertama untuk membalikkan skor jadi 3-2, seluruh ofisial Inggris termasuk sang arsitek Roy Hoidgson seakan larut dalam sebuah euforia. Media Inggris ramai-ramai memuji penampilan Inggris setinggi langit. Mereka baru saja mengalahkan sang juara dunia, meski dalam duel bertajuk uji coba. 

Kemenangan atas Jerman seakan menjadi landasan kuat bagi Wayne Rooney dkk untuk menatap Euro 2016 Prancis dengan penuh optimisme. Mereka lupa bahwa kemenangan atas Jerman bukanlah satu jaminan Inggris bisa berprestasi hebat di Euro. Roy Hodgson tidak menyadari bahwa di dalam timnya tidak terdapat sejumlah pemain yang berkarakter kuat, dengan mentalitas juara seperti yang dipunyai tim asuhan Joachim Low. Hodgson juga lupa, bahwa Jerman memang selalu kesulitan dan sering kalah dalam laga uji coba. Tetapi, Jerman akan berubah drastis ketika ajang sesungguhnya tiba, baik itu putaran final Piala Dunia maupun Euro.

Hodgson terlalu percaya diri dengan penampilan timnya yang sukses di kualifikasi Euro 2016 dengan status juara grup dan tidak terkalahkan. Ia tak belajar melihat bagaimana Low membangun Jerman saat ini pasca-kegagalan Piala Dunia 2006 yang menempatkan mereka di peringkat ketiga. Kekuatan Jerman bertumpu pada sederet pemain muda yang hampir tidak berubah dalam kurun waktu delapan tahun. Puncaknya, Jerman berhasil menjadi juara dunia di Brasil 2014 dengan para pelaku seperti Mesut Ozil, Toni Kroos, Bastian Schweinsteiger, Sami Khedira, Mario Gotze, Jerome Boateng, MIroslav Klose, Per Mertesacker, Lukas Podolski, Benedikt Howedes, Mats Hummels, Philip Lahm, Manuel Neuer dan sejumlah pemain muda lainnya.

Hal ini yang tak dimiliki Inggris. Hodgson tidak punya mata rantai satu generasi pemain yang utuh dalam delapan tahun terakhir. Inggris tak terbiasa merasakan atmosfer juara di sebuah turnamen resmi seperti Euro. Piala Dunia 1966 boleh saya katakan hanya lah gelar penghibur yang diberikan wasit untuk tuan rumah ketika mereka bisa mengalahkan Jerman di final di Wembley. Dari sini juga Inggris tak bisa belajar dari pembinaan generasi pemain yang berkesinambungan, sebagaimana yang dilakukan Jerman. Lihatlah bagaimana hancurnya Inggris setelah mereka juara tahun 1966. Tak pernah lagi mereka menjadi juara dunia atau bahkan melaju ke final. Ironis memang, bahwa negara nenek moyangnya sepakbola, yang begitu dahsyat dalam pengelolaan sebuah kompetisi terhebat di dunia bernama Liga Primer Inggris, nyatanya tak bisa bersaing di level resmi yang sesungguhnya.

Hodgson sebenarnya harus melihat jauh ke belakang ketika Inggris bisa menghancurkan Jerman 5-1 pada kualifikasi Piala Dunia 2002. Hasil itu memaksa Jerman harus melalui play-off, tetapi hasil akhirnya di turnamen resmi Piala Dunia yang berlangsung di Korea Selatan dan Jepang, justru Jerman yang bisa ke final meski kalah dari Brasil. Lalu ke mana Inggris saat itu?

776ea949f47afc22af4c40fa185816c4857fe903

Kembali ke kemenangan 3-2 atas Jerman di pertandingan pemanasan. Sebenarnya hasil itu tak lantas membuat Inggris besar kepala. Jerman tidak merasa terpukul dengan kekalahan itu, termasuk kekalahan 3-1 dari Slowakia sebelum bertolak ke Prancis. Low dan semua pemain Jerman sangat sadar, tolok ukur apakah sebuah tim siap secara mental dan fisik untuk mengarungi turnamen adalah ketika Euro 2016 berlangsung selama sebulan penuh.

Bermain di sebuah turnamen seperti Euro jelas berbeda dengan melakoni partai persahabatan. Jerman punya mental kuat dalam setiap turnamen dengan pemain matang yang sudah bersama-sama berada dalam satu tim sepanjang sepuluh tahun terakhir. Tidak banyak yang berubah dari kompoisisi Jerman, walau ada satu dua pemain muda yang disisipkan. Ini yang tak ada dalam tim Inggris. Mereka punya sederet pemain muda berbakat yang tampil bagus di kompetisi Liga Primer. Tapi Hodgson tak memiliki pemain yang terbiasa main di level penting seperti Euro atau Piala Dunia. Inggris juga tak punya pemain dengan mental dan karakter kuat di lapangan guna menghadapi tekanan. 

Hanya Wayne Rooney yang boleh saya bilang sebagai pemain lama yang matang dalam pengalaman internasional, walau Rooney sendiri tak pernah merasakan bagaimana membawa timnya lolos sampai ke semi-final Euro -- atau menyamai prestasi Inggris di Euro 1996 saat jadi tuan rumah. Ketika itu, Jerman pula yang menjadi tersangka pembunuh impian Inggris ke final. Jerman pula yang akhirnya berhasil menjadi juara Eropa setelah memukul Republik Ceko di final.

ce0c04142013b366ffaa72a0620224fee5f28009

Melihat Inggris bermain melawan Rusia, sangat jauh berbeda ketika Inggris mengejar defisit dua gol dari Jerman. Hasil seri 1-1 bukanlah hasil yang diinginkan oleh Hodgson dan semua pendukung Inggris. Tapi Hodgson harus menerima itu dengan jiwa besar, bahwa faktor mental sangat berbicara di sini. Kita juga tak bisa mengatakan gol Vasilly Berezutski adalah gol kemujuran. Gol itu terjadi karena para pemain Inggris tidak siap mengantasipasi tekanan Rusia selama 15 menit terakhir pertandingan. Bagaimana mungkin seorang bek tengah Rusia sampai berada jauh di dalam kotak penalti Inggris dan yang mengawalnya Danny Rose yang berpostur lebih pendek dan di belakangnya gelandang serang Dele Alli? Ke mana pemain belakang yang lebih tinggi seperti Gary Cahill atau Chris Smailing?

Gol Rusia menurut saya sebuah kreasi bagus, dimulai dari manuver bek kiri Georgi Shchennikov, yang dengan jeli melihat posisi Berezutski. Keunggulan Inggris melalui tendangan bebas Eric Dier justru ''dibunuh'' oleh gaya sepakbola Inggris yang diperagakan pemain-pemain Rusia, yaitu melalui umpan-umpan panjang. Pergantian pemain pun terasa tidak pas. Mestinya Hodgson tidak menarik Rooney dengan memasukkan Jack Wilshere. Cukup menarik Raheem Sterling yang bermain tanpa visi. Dengan Rooney tetap di dalam lapangan, ini akan menjaga keseimbagan Inggris dalam mempertahankan kemenangan. Bahkan bisa terus melakukan pressing terhadap Rusia. Kalaupun yang harus ditarik dalam sepuluh menit akhir seharusnya Harry Kane dan digantikan oleh Jamie Vardy. 

04383688c23e95ad5d23323e2e60abbeced13922

Dari kompoisi sebelas pemain yang tampil dalam duel melawan Rusia, jelas terlihat bahwa kematangan seorang pelatih untuk membaca kejadian di lapangan di saat unggul, tak dipunyai Hodgson. Hodgson terlalu terhipnotis dengan pemain-pemain Tottenham Hotspur, sehingga lima pemain mereka -- Danny Rose, Kyle Walker, Dele Alli, Eric Dier, dan Harry Kane -- terus berada di dalam lapangan. Tak ada satu pun pemain yang mewakili dari juara Liga Primer musim ini, Leicester City, di dalam tim Hodgson. Mestinya Vardy masuk untuk mengubah permainan di garis depan.

Kenapa pula Hodgson seakan menyuruh timnya lebih fokus bertahan untuk mengamankan keunggulan satu gol? Ini juga blunder. Inggris tak harus mengubah cara bermain untuk membiarkan Rusia menekan dalam sepuluh menit akhir. Jika Inggris lebih tenang dan tetap memberi tekanan terhadap Rusia, takkan mungkin pemain belakang lawan sampai berani masuk jauh ke dalam pertahanan mereka.

10f0c0b64225abc163949ea8258f48684dc9964c

Lihat lah bagaimana Jerman bermain dalam mengatasi semangat tinggi Ukraina. Jerman tidak bermain seperti selayaknya pertandingan pemanasan. Mereka menunjukkan jati diri mereka sebagai satu kesatuan yang kuat di lapangan dan bisa mengatasi segalanya. Mereka mampu mempertahankan keunggulan dengan cara bermain sebagai tim spesialis turnamen. Mental Jerman sangat terlihat. Mereka tidak panik. Bahkan bisa menambah satu gol di masa injury time lewat Bastian Schweinsteiger.

Pada laga ini Low memperlihatkan keputusan pergantian pemain yang tepat dalam situasi dan kondisi yang diperlukan. Low cukup menggunakan dua pemain dari kemungkinan tiga jatah pemain yang bisa dimainkan. Tidak banyak yang harus dirombak ketika tim sedang unggul, Jerman tetap mengendalikan permainan. Low tak serta merta menyuruh Jerman bertahan total di sepuluh menit akhir. Justru Low menambah daya dobrak dengan memainkan Andre Schurrle dan Schweinsteiger. 

Menurut saya, Hodgson harus lebih jeli memainkan pemain yang pas di laga selanjutnya. Wales dan Slowakia tidak mudah dikalahkan. Belajar dari hasil imbang melawan Rusia, kini Inggris dituntut harus menang dalam dua sisa laganya di Grup C. Peluang masih cukup besar, asalkan Inggris bisa mengalahkan Wales. Jalan masih berliku. Sebaliknya Jerman kini lebih percaya diri setelah mencatat clean sheet di laga awal menghadapi Ukraina yang memiliki pertahanan yang kuat. Cukup hasil imbang melawan Polandia dan menang melawan Republik Irlandia, telah membawa Jerman ke babak 16 besar Euro.

Iklan