Bodo/Glimt mencetak enam gol ke gawang AS Roma dalam kemenangan 6-1 di pertandingan UEFA Conference League, Jumat (22/10) dini hari WIB. Erik Botheim menjadi bintang berkat dua gol dan tiga assist untuk klub Norwegia itu.
Ketika Jose Mourinho merebut bintang muda Lyn Oslo, John Obi Mikel, dari jangkauan Manchester United dan merekrutnya untuk Chelsea pada 2007, dia hampir tidak bisa membayangkan bahwa 14 tahun kemudian lulusan Lyn lainnya akan menghancurkan timnya dan menyebabkan kekalahan paling memalukan dalam karier pelatih asal Portugal itu.
Botheim membuka skor untuk Bodo/Glimt ketika pertandingan baru berjalan delapan menit. Pemain asal Norwegia itu kemudian memberi assist untuk gol Patrick Berg pada menit ke-20. Roma sempat memperkecil kedudukan menjadi 2-1 di babak pertama lewat gol Carles Perez pada menit ke-28.
Bodo/Glimt akhirnya menghancurkan Giallorossi dengan tambahan empat gol di babak kedua.
Botheim kembali mencetak gol pada menit ke-52, dan ia memberi assist untuk gol Ola Solbakken pada menit ke-71. Tujuh menit kemudian, ia kembali membuat assist, kali ini untuk gol Amahl Pellegrino. Gol tambahan tuan rumah dilengkapi Ola Solbakke di sisa sepuluh menit di waktu normal, sebagai satu-satunya gol tim tanpa keterlibatan pemain berusia 21 tahun itu.
Botheim mencetak dua gol dan tiga assist dalam satu pertandingan, sesuatu yang bahkan tidak pernah berhasil dilakukan sahabatnya, striker Borussia Dortmund Erling Haaland, di laga Eropa.
Hubungan Botheim dengan Haaland, yang juga terlahir pada 2000, sudah terjalin sejak lama. Mereka pertama kali bertemu pada usia 12 tahun, namun pada awalnya tidak saling menyukai. Tiga tahun kemudian, keduanya menemukan bahasa yang sama.
"Kami bertemu di tim nasional remaja yang sama dan harus bermain bersama. Kemudian, kami berdua menemukan bahwa tidak ada keputusasaan yang kami kira. Kami telah menjadi teman yang sangat baik sejak saat itu," ujar Botheim dalam sebuah wawancara dengan Avisa Nordland baru-baru ini.
Pada 2016, mereka berdua bersama-sama melakukan rekaman lagu selama kamp latihan timnas, juga bareng Erik Tobias Sandberg. Mereka bertiga membentuk band musik bernama Flow Kingz.
Salah satu lagu mereka berjudul “Kygo Jo” bahkan sudah ditonton lebih dari delapan juta orang di YouTube per 22 Oktober 2021.
Botheim dianggap lebih berbakat daripada Haaland di masa-masa remaja mereka.
Berkat bakat hebatnya, Botheim pernah diundang untuk trial di Barcelona di usia 11 tahun, melakukan debut profesionalnya untuk Lyn di divisi ketiga saat berusia 15 tahun, dan direkrut Rosenborg - klub terbesar dan terkaya di Norwegia - hanya setahun kemudian ketika Haaland masih di Bryne divisi kedua.
Tapi, semuanya kemudian berubah. Haaland mulai meroket dan kemajuan Botheim justru terhenti. Pelatih Rosenborg tidak pernah mempercayainya, peluang di tim utama jarang terjadi dan kepercayaan dirinya menjadi hilang.
Tahun lalu, Botheim dipinjamkan ke papan tengah Stabaek tapi gagal mencetak gol sekali pun. Ia lebih sering dicadangkan dan, pada akhir 2020, Rosenborg memutuskan kalau dia tidak lagi dibutuhkan dan kontraknya dihentikan.
Di waktu yang sama, Bodo/Glimt sedang mencari striker. Klub dari kota di dalam Lingkaran Arktik baru saja memenangkan gelar juara pertama yang bersejarah dengan cara yang mengesankan, mencetak 103 gol dari 30 pertandingan. Namun, kesuksesan yang luar biasa harus dibayar dengan harga, karena trio penyerang fenomenal mereka pergi meninggalkan klub.
Winger dinamis Jens Petter Hauge dijual ke AC Milan sebelum musim berakhir, pemain asal Denmark Philip Zinckernage bergabung ke Watford, dan rekan senegaranya, Kasper Junker, pindah ke Urawa Red Diamonds di Jepang.
Para pemain itu perlu dicarikan pengganti, namun Bodo/Glimt tidak memiliki sumber daya untuk merekrut bintang-bintang mahal - bahkan sesuai standar Norwegia. Botheim tersedia sebagai bebas transfer dan itulah alasan kedatangannya.
"Tidak ada harapan sama sekali dari Erik. Ia gagal di Stabek dan tidak membutuhkan biaya apa pun. Tidak ada yang mengira dia akan berkembang, tapi itulah yang terjadi," ujar koresponden Avisa Nordland Freddy Toresen kepada Goal.
Ada tanda-tanda bahwa kebangkitannya mungkin terjadi. Botheim berkonsultasi dengan Hauge sebelum bergerak ke utara dan Haaland juga meminta dia pergi ke sana.
"Erling berpikir bahwa Bodo/Glimt akan menjadi tempat yang tepat bagi saya untuk berkembang," ujar sang striker. Memang, striker kelahiran Oslo itu langsung nyaman di lingkungan yang bersahabat - namun sangat menuntut.
"Chemistry di dalam tim ini sungguh unik dan pelatih Kjetil Knutsen sudah yakin dengan Botheim sejak awal. Sangat mengesankan untuk melihat apa yang bisa dilakukan kepercayaan itu kepada seorang pemain," ujar komentator TV2 Endre Lubeck kepada Goal.
Meski kehilangan semua striker bintang, Bodo/Glimt memimpin klasemen lagi, dalam perjalanan menuju apa yang bisa menjadi kemenangan yang kedua di kejuaraan secara berturut-turut.
Botheim berada di jantung kesuksesan: ia mencetak gol di awal debutnya lawan Tromso di matchday pembuka dan tidak mundur ke belakang sejak itu. "Botheim cerdas dan membaca permainan dengan baik. Itulah mengapa dia sangat cocok dengan tim ini," ujar Lubeck lagi.
Botheim memiliki 13 gol Eliteserien atas namanya saat ini dan enam lagi di kompetisi Eropa. Ia mencetak gol lawan Rosenborg dan Stabek, menghukum tim-tim yang tidak percaya padanya.
Performa yang menakjubkan di pertandingan lawan AS Roma mungkin mewakili puncak karier mudanya sejauh ini, namun hal-hal yang lebih besar menunggu jika dia terus meningkat.
"Erik bukanlah striker tercepat, tapi permainan timnya luar biasa. Ia selalu terlibat, dan sangat cerdas di dalam kotak lawan. Penempatannya menjadi lebih baik setiap saat. Ia membuat nama untuk dirinya sendiri di tim Bodo/Glimt yang agung ini," ujar Toresen.
Setelah aksi heroiknya lawan AS Roma asuhan Mourinho, semua mata kini tertuju padanya dan tidak akan ada kekurangan minat di bursa transfer Januari mendatang.
Masih harus dilihat apakah Botheim akan mengikuti para pendahulunya dan meninggalkan klub yang memberinya segalanya di kesempatan pertama, tapi dia layak mendapat kesempatan untuk menguji dirinya di liga yang lebih besar.
Menarik juga untuk dilihat apakah kemitraan dengan Haaland bisa diperbarui lagi di timnas dengan posisi terbaik masing-masing pemain sebagai pemain No.9 yang klasik.
Persahabatan mereka suatu hari nanti mungkin akan membantu dalam menemukan cara untuk saling melengkapi di lapangan seperti di tim yunior. Kita bahkan mungkin melihat mereka menyanyikan 'Kygo Jo' bersama-sama lagi setelah kemenangan yang terkenal untuk Norwegia.
