Erick Thohir - Ketua PSSIPSSI

Erick Thohir: Jangan Selalu Salahkan Wasit!

Ketua umum PSSI Erick Thohir meminta seluruh stakeholder sepakbola Indonesia tidak melulu menyalahkan wasit, dan secara tersirat menyatakan teknologi video assistant referee (VAR) belum dibutuhkan dalam waktu dekat.

Tidak sedikit pecinta sepakbola nasional yang mengecam kepemimpinan wasit, baik di Liga 1 maupun kompetisi di bawahnya. Mereka mendesak agar PSSI segera menerapkan teknologi VAR untuk membuat kualitas sepakbola makin meningkat.

Eto, sapaan Erick Thohir, mengungkapkan, tidak banyak orang yang tahu mengenai kondisi wasit sesungguhnya. Menurut Eto, ia sudah bertemu salah satu wasit yang menceritakan kehidupannya bila sedang tidak bertugas di lapangan.

“Saya ketemu wasit Liga 2 yang namanya Rohadi, rumahnya kecil. [Sehari-hari] dagang apa? kembang tahu. Perbulan pendapatan Rp200 ribu. Istrinya bekerja sebagai guru PAUD untuk tambahan, gajinya Rp900 ribu per tahun. Ayo kita kasih empati, jangan selalu nyalahin wasit, wasit, dan wasit,” beber Eto.

“Kalau kita mau bicara perbaikan sistem perwasitan nasional, sistem perbaikan [sepakbola] nasional, wasitnya kita perhatikan dahulu, ini jadi kunci. Wasit Liga 2 sekali tiup Rp5,5 jt.”

“Artinya apa? Minimal mereka harus bisa niup 12 sampe 15 kali per musim, enggak lima sampe tujuh kali. Ini akan kita perbaiki. Belum lagi Pak Menpora [Zainudin Amali] tadi bilang berikan asuransi. Tapi kalau liganya enggak jalan, enggak ada tiupan.”

Karena itu, Eto memilih memperbaiki taraf kehidupan wasit terlebih dahulu dibandingkan harus menghabiskan dana miliaran untuk menggunakan VAR. Apalagi sumber daya yang dibutuhkan juga tidak sembarangan.

“Teknologi tanpa manusianya sama saja bohong. Karena itu, kita akan mendorong perbaikan perwasitan, sistem pertandinggan, baru kita hitung-hitungan VAR,” tandas pria yang juga menjabat sebagai menteri badan usaha milik negara (BUMN) tersebut.

“Makanya saya harapkan tolong mendorong, dan jangan ada persepsi seolah perusak sepakbola itu wasit. Ayo lihat kehidupan mereka sehari-hari.”

“Saya punya komitmen, Exco (komited ekskeutif) saya dorong empati, hati. Dalam mengambil keputusan kita harus pakai hati, bukan kekuasaan. Kita harus ambil keputusan berdasarkan data dan fakta, lalu temukan solusi, bukan kekuasaan dan arogansi.”

Iklan
0