Footer - Liga 1Goal Indonesia

Equinoc, Wadah Apparel Lokal Berbagi Ilmu & Berkembang Bersama

Pakaian dan peralatan olahraga atau populer disebut apparel sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam sepakbola. Dari jersey sampai kaus kaki, para perusahaan apparel berlomba-lomba membuat produk terbaik, tidak hanya untuk para pemain di lapangan, tapi juga untuk fans. Dari situlah tercipta sebuah industri apparel di mana perusahaan seperti Adidas dan Nike menjelma jadi raksasa global. 

Di Indonesia, telah muncul geliat apparel lokal dalam beberapa tahun terakhir. Mereka yang berkecimpung tidak sebatas satu-dua perusahaan apparel lokal ternama, melainkan juga puluhan apparel yang masih berbasis UKM. Riors, DJ Sport, Salvo, Classico, Reds, Sembada, Ghanior, FAT, Noij, Wayank, dan lain-lain mampu menciptakan jersey dengan desain unik dan berkarakter.

Goal Indonesia secara khusus memberikan apresiasi dengan masuknya sejumlah jersey buatan mereka ke dalam konten 100 Jersey Terbaik yang kami rilis tiap musim. Munculnya apparel lokal ini menghadirkan kesegaran tersendiri pada lanskap sepakbola nasional dan tentu saja memiliki potensi berkembang menjadi industri yang lebih besar.

Untuk mewadahi kumpulan apparel lokal yang masih berskala kecil-menengah itu dibentuklah sebuah wadah perkumpulan yang diberi nama Asosiasi Industri Pakaian dan Peralatan Olahraga Indonesia atau Equinoc (Equipment and Sports Apparel Industry Associaton of Indonesia).

“Apparel tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ini adalah wadah bagi kami untuk belajar bersama,” kata penggiat jersey Angga Wirastomo dalam acara peluncuran Equinoc di Sinergi Coworking Space, Yogyakarta, Sabtu (30/3).

Acara ini turut menjadi forum perkumpulan para penggila jersey untuk berbagi cerita dan pengalaman. Turut hadir eks pemain PSIM Yogyakarta Topas Pamungkas, para pengusaha apparel lokal, kolektor jersey, dan komunitas pencinta jersey dari berbagai daerah di Indonesia.

Acara Peluncuran Equinoc, Asosiasi Apparel LokalJersey Lokal | Acara Peluncuran Equinoc, Asosiasi Apparel Lokal

Kehadiran Equinoc diharapkan bisa menjawab beragam problematika yang kerap menghambat perkembangan apparel dalam negeri. Seperti dijelaskan Dimas Yustisia Putra, selaku pemilik DJ Sport, apparel lokal kerap terbentur banyak masalah, seperti klub-klub Indonesia yang belum melek tentang bisnis apparel.

“Masih banyak yang klub yang kurang profesional. Misalnya kami pernah deal dengan sebuah klub di pinggir lapangan saat tim sedang latihan. Tidak ada tender, pitching atau semacamnya,” ungkap Dimas Yustisia, yang juga menjadi ketua formatur Equinoc.

Ada pula situasi dilematis seperti perbedaan pandangan antara pemain dan suporter terkait kualitas sebuah jersey. Pemain ingin jersey yang nyaman dipakai, tapi di satu sisi suporter ingin desain jersey unik dan awet untuk menaikkan spirit identitas mereka. Hanya berpihak pada satu sisi tentu akan merugikan kelanjutan bisnis apparel yang bersangkutan.

Dimas Wihardyanto, penggiat dan pengamat jersey nasional, meminta apparel lokal untuk cerdik dalam menghadapi dua isu tersebut. “Apparel harus bisa hidup dan menghidupi. Apparel harus mengenal kultur klub setempat sebelum membuat jersey. Harus ada proses riset secara terus menerus,” katanya.

Profit yang belum terlalu besar hingga minimnya kesepakatan dengan klub-klub lokal jadi permasalahan lain. Kharisma Christianto, pemilik Noij Sportwear, menyarankan agar apparel lokal tidak terlalu fokus mencari keuntungan materi. “Menjadi sponsor tim hanya untuk branding, sebagai etalase agar makin dikenal orang,” katanya.

Bramantyo Eko Pramudito, pemilik Wayank Apparel, juga berharap para apparel lokal lebih berani untuk melakukan eksperimen dengan membuat jersey yang berbeda. “Semakin unik, semakin dicari. Jangan sungkan menerapkan jargon ATM (amati, tiru, modifikasi). Namun juga harus punya target jangka panjang agar sesuai dengan brand yang ingin dibangun,” tuturnya.

Jersey Lokal | Acara Peluncuran Equinoc, Asosiasi Apparel LokalSandy Mariatna/Goal IndonesiaJersey Lokal | Acara Peluncuran Equinoc, Asosiasi Apparel LokalSandy Mariatna/Goal Indonesia

Bagaimanapun, Equinoc dihadirkan agar industri apparel lokal yang tengah menggeliat ini tidak kehilangan momentumnya. Bergabungnya puluhan apparel dalam satu wadah ini tidak hanya untuk menjalin koneksi, namun juga bisa menjadi ajang untuk berbagi ilmu dan maju bersama.

“Kami mengundang apparel lain untuk saling bekerja sama. Di tempat saya [DJ Sport], sebanyak 50 persen mesin kami yang berharga ratusan juta terpaksa menganggur. Dengan adanya wadah ini, saya turut mengundang apparel lain untuk nebeng produksi di tempat saya,” kata Dimas Yustisia.  

Sejumlah ambisi besar pun diusung Equinoc, seperti mengundang pakar marketing, quality control dan quality assurance hingga mendorong para pengambil kebijakan untuk mendukung industri apparel nasional. Salah satu target yang menarik adalah membuat sertfikasi jersey untuk memotivasi apparel lokal membuat produksi jersey yang sesuai standar.

Equinoc juga diharapkan bisa mempersolid posisi apparel Indonesia dalam peta persaingan dengan apparel luar negeri. Dengan jumlah populasi sekitar 40 persen di seluruh Asia Tenggara, wajar apabila Indonesia jadi ceruk pasar yang menggiurkan bagi apparel luar negeri.  

“Semoga kami bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan bisa go international,” ucap Dimas Yustisia.

ARTIKEL TOP PEKAN INI
1.Solskjaer Bantah Bakal Usir Van Dijk
2.Remaja Galatasaray Sengaja Tak Cetak Gol Penalti
3.Manajer Persib Ingin Stadion GBLA Dibongkar
4.Ini Alasan Performa Mo Salah Mulai Menurun
5.Lucas Hernandez & Parade Bek Termahal Dunia
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia
Footer - Liga 1Goal Indonesia
Iklan
0