Dorongan revolusi total di tubuh PSSI semakin kencang terdengar. Eks pemain legendaris timnas Indonesia era 60-an, Bob Hippy tak ragu buka suara. Sosok muda ia tantang untuk keluar dari "persembunyian".
Cuci gudang di tubuh PSSI pasca terkuaknya skandal pengaturan skor terus menyeruak. Setelah Edy Rahmayadi lengser, kursi makin panas setelah Pelaksana tugas (Plt) Joko Driyono, ditetapkan sebagai tersangka oleh Satgas Anti Mafia Bola perihal perusakan barang bukti match-fixing.
Revolusi. Itu satu kata yang kembali santer terdengar di kalangan pecinta dunia kulit bundar tanah air. Seperti yang disuarakan salah satu pemain timnas Indonesia era 60-an, Bob Hippy. Pria berusia 71 tahun itu nampak jengah dengan borok tak berkesudahan di dalam organisasi sebesar PSSI.
"Saya kira PSSI memerlukan sosok yang benar-benar komit membangun sepakbola Indonesia yang bersih dan bertanggung jawab. Ini bukan hanya soal ketua umum atau wakilnya saja tapi juga anggota komite eksekutif (Exco)," tegas Bob.
"Juga Asprov di 34 Provinsi. Para voters yang punya hak suara harus pun harus dibekali visi misi yang jelas, ya apalagi kalau bukan sepakbola bersih," tambahnya.
Beberapa hari terakhir di kalangan media ramai empat sosok muda yang dinilai layak menyumbangkan tenaga, ide dan pikirannya untuk PSSI. Tercatat, ada nama-nama seperti Ahmad Zaki Iskandar (Bupati Tangerang), Munafri Arifudin (CEO PSM Makassar), Azrul Ananda (CEO Persebaya Surabaya) dan Rezza Mahaputra Lubis (CEO Indonesia Junior League).
Ahmad Zaki sendiri jadi salah tokoh pemimpin daerah yang sukses membangun 27 stadion mini di Kabupaten Tangerang. Sementara Munafri Arifudin, sepak terjangnya cukup sukses dengan mengkomandoi klub legendaris sekelas PSM Makassar, hanya dalam jangka waktu dua tahun ia mampu mengembalikan marwah Juku Eja.
Azrul Ananda, sebelum menjadi orang nomor satu di Persebaya adalah pendiri DBL (Development Basketball League), sosok milenial pula di kalangan media. Sementara Rezza Mahaputra Lubis, bersama Indonesia Junior League tengah hebat-hebatnya menyusun kerangka sepak bola Tanah Air lewat investasi di kompetisi level usia muda.
Keempat nama tersebut pun seperti terdengar sejuk di telinga Bob. Bahkan ia berharap keempatnya bisa maju secara bersama membenahi tata kelola sepak bola Indonesia.
"Yang paling penting tentunya harus punya waktu yang penuh untuk PSSI artinya tidak memegang jabatan lain. Wawasannya di sepak bola pun harus luas, tidak hanya skala nasional tapi juga Asia hingga dunia," ujar Bob.
"Kalau mau revolusi ya harus benar-benar dari akarnya, jangan terulang lagi yang sudah, bersih-bersih total," imbuhnya.
Rencana Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI memang semakin deras muncul ke permukaan terhitung sejak anggota Exco, mengadakan rapat di Jakarta (19/2) usai penetapan Joko Driyono sebagai tersangka. KLB yang akan digelar ini memiliki dua agenda, yakni membentuk perangkat Komite Pemilihan (KP) dan Komite Banding Pemilihan (KBP) juga penetapan tanggal kongres pemilihan kepengurusan baru.
Goal Indonesia