Skandal Calciopoli yang terjadi nyaris 12 tahun silam ternyata masih menyisakan cerita. Eks presiden Juventus yang menjabat pada 2006 hingga 20010, Giovanni Cobolli Gigli, baru-baru ini mengungkapnya.
Pria berusia 73 tahun tersebut menuding Inter Milan juga terlibat dalam skandal terbesar dalam sejarah sepakbola Italia tersebut. Sebelumnya kita ketahui bersama bahwa AC Milan, Lazio, dan Fiorentina adalah tim yang terlibat, plus Juventus yang dituding sebagai dalang utama hingga dua Scudettonya dicabut dan didegradasi ke Serie B Italia.
Gigli mengaku bahwa dalam persidangan Calciopoli terdapat beberapa bukti yang mengacu bahwa Inter juga bersalah, tapi diabaikan bahkan disembunyikan.
“Kami didegradasi untuk bermain di Serie B dan kami menerimanya. Penyelasan tetap ada sebagai ujian yang dalam pandangan saya tidak dilakukan dengan cara terbaik," buka Gigli dalam sebuah program di Roma TV.
"Ada potongan-potongan bukti tertentu yang diabaikan, tepatnya disembunyikan. Kemudian keberadaan penyadapan telepon mengenai klub yang berbeda tidak diketahui saat itu. Apakah mengacu pada Inter? Tepat seperti itu.
"Inter juga pantas untuk dihukum atas apa yang terjadi dalam berbagai percakapan. Jaksa FIGC, Palazzi bahkan mengatakan demikan. Namun masalah itu telah lenyap dan berakhir seperti yang kita ketahui," ungkapnya.
Getty ImagesGigli kemudian berkisah soal musim perdananya menjabat sebagai presiden Juve, pada 2006/07. Kampanye di mana untuk kali pertama sepanjang sejarah, I Bianconeri diharuskan bermain di Serie B dengan pengurangan sembilan poin sebagai hukuman atas Calciopoli.
“Tanpa ragu itu sangat sulit, terutama di masa-masa awal. Dalam pertandingan pembuka melawan Rimini, kami bermain imbang. Kami harus menyadari bahwa kompetisi ini harus dihadapi dengan tingkat determinasi yang berbeda," kisah Gigli.
"Pemain seperti Gianluigi Buffon, Giorgio Chiellini, Mauro Camoranesi, Pavel Nedved, Alessandro Del Piero dan David Trezeguet harus bekerja dengan penuh kerendahan hati. Kami kemudian memenangkan Serie B dengan beberapa putaran tersisa, meski ada penalti poin.
“Saya juga bisa mengatakan ada sebuah keuntungan, karena Serie B juga menumbuhkan popularitas Juve di Italia. Banyak kota menyambut kami seperti ketika di Serie A. Mereka senang kami bermain di stadion mereka, dengan sederet pemain juara yang berlaga.
“Satu-satunya hal aneh mungkin terjadi di Arezzo. Itu adalah laga yang memberi kami kepastian matematis untuk promosi. Kami menang 5-1, dengan brace Del Piero dan Chiellini, lalu Trezeguet melengkapinya dengan cetak gol kelima.
"Pada akhir laga, pelatih Arezzo kala itu, Antonio Conte, menyerbu wasit di ruang ganti dan mengeluh. Dia sangat marah. Dia lebih suka hasil yang berbeda untuk Arezzo, yang berjuang dan memang terdegradasi pada akhir musim itu.
"Sayangnya pula pelatih yang membawa kami promosi, Didier Deschamps, mengundurkan diri. Dia mendapat beberapa saran buruk dari agennya yang menginginkan kontrak tinggi. Lalu kami mendatangkan Claudio Ranieri, yang dua kali mengantarkan kami ke podium Serie A, membawa kami ke Liga Champions, dan memberi kami kemenangan tandang bersejarah melawan Real Madrid," tuturnya.
www.juventus.comGigli yang kemudian lengser pada 2010 dan digantikan oleh Andrea Agnelli hingga kini, lantas menyebut bahwa pembangunan stadion milik sendiri jadi titik balik Juve kembali ke jalur kesuksesan.
"Pembangunan stadion baru sangatlah fundamental untuk bisnis, mendapatkan keuntungan lebih besar, tapi di atas segalanya adalah menciptakan rasa memiliki dengan para tifosi," lanjutnya.
"Sebuah stadion yang memiliki toko merchandise sendiri, museum, area medis, tribun yang benar-benar diperuntukkan untuk penggemar sepakbola sejati. Itu adalah sederet alasan untuk membuat sebuah klub menjadi lebih internasional. Juve kini sudah berada di puncak," pungkasnya.





