Mantan pelatih tim usia muda Denzel Dumfries di Barendrecht, Lesley Esajas, menjelaskan resep melejitnya bintang baru Belanda itu dari level amatir hingga menembus persaingan di Euro 2020.
Menurut Esajas, salah satu faktor yang membuat Dumfries bisa berkembang pesat adalah gaya hidupnya sebagai pesepakbola, mengungkapkan sang pemain biasa menolak makan kentang goreng dan mayones di timnya ketika muda.
Dumfries kini dikaitkan dengan rumor transfer menuju beberapa klub top Eropa setelah tampil mengesankan bersama Skuad Oranje di Euro tahun ini.
Esajas tidak terkejut dengan hal tersebut, karena memang menilai sang bek kanan PSV memiliki tingkat kedisiplinan yang luar biasa dan memenuhi segala unsur untuk bisa mencapai level tertinggi saat masih bermain di Tweede Divisie, kasta ketiga sepakbola Belanda
Kata Esajas kepada Voetbalzone tentang kebiasaan diet Dumfries di klub: "Suatu hari, ia makan malam bersama kami. Jika Anda melihat apa yang dimakannya, Anda berpikir akan menyuruhnya untuk mengambil lebih banyak makanan."
"Tidak ada kentang goreng atau mayones. Sayuran, salad; hal-hal semacam itu yang diambilnya. Ini adalah hal-hal yang harus Anda lakukan untuk melangkah lebih jauh. Anda sebagai pemain bisa saja mengambil kentang goreng, tapi ia tidak."
"Sayang sekali para pemandu bakat dari Feyenoord, Excelsior, Sparta atau Dordrecht tidak memperhatikannya. Fokus mereka adalah pada teknik pemain. Ia tidak seperti itu."
Dumfries merambah dunia profesional ketika ia meninggalkan Barendrecht untuk bergabung dengan Sparta Rotterdam pada 2014, dan membuat 72 penampilan untuk klub tersebut selama tiga tahun sebelum pindah ke Heerenveen.
Rick Ketting bermain bersama sang bek bertalenta di Sparta, dan mengatakan bahwa meski pun mantan rekan setimnya itu secara teknis bukan pemain yang berbakat, ia memiliki kekuatan mental untuk bisa terus berkembang.
"Saya ingat kami rutin melakukan latihan passing," kata Ketting. "Terkadang ia memberi umpan yang membuat kami berpikir: 'umpan macam apa ini?'"
"Saat itu, sudah ada beberapa spekulasi tentang minat dari PSV. Jadi terkadang ada lelucon untuk Dumfries: 'Jika Anda melakukan ini [salah umpan] di PSV, mereka akan menertawakan Anda'."
"Tapi ternyata ia pun sukses. Dan orang-orang yang menjadikannya sebagai bahan lelucon tidak mampu bergabung dengan PSV."
Ketting menambahkan: "Pelatih fisik kami di Sparta mengenal Dumfries sebelumnya dan, setelah beberapa sesi latihan pertama, ia berkata: 'Pemain ini akan bermain di tim nasional dalam tiga atau empat tahun', karena fisik, potensi dan determinasinya."
"Kami tidak percaya dan berpikir: 'pff, mungkin saja, tapi butuh banyak hal untuk bisa mewujudkannya'. Ternyata kejadian."
