Petenis Jerman Alexander Zverev meraih gelar juara Amerika Terbuka setelah mengalahkan petenis Amerika Serikat Ben Shelton dengan skor 6-3, 7-6 (2), 5-7, dan 6-2, dalam pertandingan yang berlangsung selama 3 jam 33 menit.
Surat kabar Mundo Deportivo menyebutkan bahwa Zverev menjadi petenis Jerman kedua yang meraih gelar Amerika Terbuka, setelah sang legenda Boris Becker pada 1989.
Zverev bahkan tidak menyadari bahwa ia telah memenangi poin terakhir, karena butuh beberapa detik baginya sebelum mulai merayakan gelar juara.
Zverev menegaskan dominasinya sejak mematahkan servis pada gim pembuka, setelah petenis Amerika Serikat itu melakukan double fault, kemudian sang petenis Jerman menuntaskan set pertama lewat double fault lain dari Shelton.
Tanda-tanda ketegangan tampak lebih jelas pada petenis Amerika Serikat itu, berbanding terbalik dengan ketenangan dan pengalaman Zverev. Petenis Jerman tersebut tampil sempurna dalam gim tie-break, tetapi ketika sudah mendekati penyelesaian tugasnya, muncul kecenderungan bertahan yang mengakar dalam dirinya, saat ia mundur selangkah ke belakang dan membayarnya dengan harus menjalani satu set tambahan.
Ini merupakan kemenangan keenam Zverev atas Ben Shelton, dan dengan demikian Alexander Zverev meraih keunggulan penuh atas petenis Amerika Serikat itu, dengan catatan 13 set berbanding hanya dua set.
Alexander Zverev kini menjadi kandidat untuk mencapai puncak peringkat dunia. Secara kasat mata, petenis Jerman itu masih jauh dari Jannik Sinner dengan selisih 1.810 poin, tetapi tahun ini ia mengumpulkan 700 poin lebih banyak daripada petenis Italia tersebut.
Dengan demikian, Zverev memenangi gelar keduanya di turnamen empat besar (Grand Slam) di Amerika Terbuka, dalam final beruntun ketiganya di salah satu turnamen besar, dan yang keenam sepanjang kariernya.
Petenis Jerman itu pun mengubur kepahitan penampilan pertamanya di Amerika Terbuka pada 2020, ketika gelar sudah dalam genggamannya dan hanya berjarak dua poin, tetapi ia gagal memanfaatkan keunggulan dua set tanpa balas atas petenis Austria Dominic Thiem.
Zverev telah meraih 26 gelar sepanjang kariernya dalam 44 final, tetapi hal yang selalu kurang darinya adalah puncak kejayaan, yaitu gelar dari turnamen empat besar.
Pada musim ini, ia hanya meraih dua gelar, tetapi keduanya datang di Paris dan New York, setelah kekalahannya di final Wimbledon, di mana Jannik Sinner menghentikan langkahnya. Petenis Italia itu tidak mampu melakukan hal serupa pada kesempatan lain, seperti yang terjadi pada turnamen kali ini. Begitu pula Carlos Alcaraz tidak mampu mempertahankan gelarnya sebagaimana yang diharapkan, sehingga Zverev menggantikannya dalam daftar juara, persis seperti yang terjadi di Roland Garros, tanpa petenis Spanyol itu mampu bersaing memperebutkan gelar.
Anda dapat mendiskusikan topik dan berita secara lebih mendalam di forum Kooora

