Apakah Anda sudah berpikir Divock Origi finis di Liverpool? Anda tidak sendirian.
Sebenarnya, itu adalah pandangan yang sama yang dimiliki oleh sang pemain sendiri belum lama ini.
Tapi jika ada satu pesan moral yang kita pelajari menyoal pemain asal Belgia itu, melepasnya bisa menjadi bisnis yang berisiko.
Menjadi hal yang tidak lazim saat melihat Origi memimpin lini depan Liverpool di Liga Champions pekan lalu. Penyerang berusia 26 tahun itu tampil sejak menit pertama melawan Milan. Starter pertama selama hampir delapan bulan, dan di saat masa depannya bareng The Reds makin suram.
Origi bahkan tidak masuk skuat Liverpool dalam tiga pertandingan sebelumnya. Ia juga belum lagi melakoni penampilan kompetitif sejak cameo 19 menit melawan RB Leipzig pada Maret lalu. Gol terakhirnya dicetak setahun lalu, yang ketujuh dalam kemenangan 7-2 atas tim League Two, Lincoln.
Mantan pemain Lille itu bakal dilepas andai Liverpool menerima tawaran yang cocok pada jendela transfer musim panas lalu. Bahkan, Jurgen Klopp berharap dia pergi, dan terkejut ketika tidak ada meminati pemainnya itu.
“Dunia sepakbola memang gila. Orang-orang jelas lupa betapa bagusnya dia!,” ucap Klopp pasca-kemenangan atas Milan.
Seorang yang sinis bakal merasa bahwa Klopp termasuk dalam kategori yang sama, mengingat betapa jarangnya Origi dipercaya dalam 12 bulan terakhir. Lalu jika dia dianggap benar-benar penyerang sensasional, seperti yang dibilang bos The Reds itu, lalu mengapa klub ingin melepasnya? Apalagi di musim yang akan diganggu Piala Afrika.
“Sulit untuk masuk ke tim ini. Div [sapaan Origi] tidak punya kesalahan. Dia berlatih, dia memberikan segalanya, tapi terkadang Anda masih tidak berhasil masuk ke dalam skuat. Begitulah,” tutur Klopp.
Origi bertahan lebih dari satu jam dalam laga melawan Milan, menyumbangkan satu assist luar biasa untuk Mohamed Salah sebelum ditarik keluar karena kram.
Dalam kemenangan kontra Crysal Palace akhir pekan lalu, Origi memulai dari bangku cadangan. Ia bermain tiga menit terakhir plus waktu tambahan.
Terbaru, Origi kembali menghiasi 11 pertama Liverpool dalam kemenangan 3-0 atas Norwich pada ronde ketiga Piala Liga Inggris di Carrow Road, Rabu (22/9) dini hari WIB.
Origi mencetak assist untuk gol pertama yang diciptakan Takumi Minamino sebelum mencetak gol ke-36-nya selama enam tahun bareng Liverpool.
Laga tersebut menjadi penampilannya yang ke-160 untuk Liverpool, tapi hanya menjadi starter yang ke-65. Ia terhitung sudah memastikan statusnya sebagai legenda Anfield, tentu saja, mengingat pencapaian musim 2018/19. Origi mungkin bukan pemain terbaik atau paling konsisten yang pernah dilihat klub, tetapi kenangan yang akan dia tinggalkan sangat berharga.
Origi memang hanya pernah mencetak gol dalam dua pertandingan Liga Champions, tapi itu masing-masing terjadi pada partai semi-final dan final.
Satu-satunya gol di kompetisi Eropa lainnya untuk Liverpool adalah pada perempat-final Liga Europa yang epik melawan Borussia Dortmund pada 2016, sementara lima dari 36 golnya untuk The Reds dicetak dalam derbi Merseyside.
Origi adalah pilar penting Liverpool dalam laga-laga besar.
Apakah status itu masih layak atau apakah dia bakal menegaskannya lagi pada laga-laga besar mendatang, itu masih bisa diperdebatkan. Liverpool tahu mereka perlu menambah daya serang mereka musim panas mendatang. Mereka tidak melakukannya musim panas lalu dan Origi masih berjuang untuk kariernya bersama The Reds.
“Divock adalah pria hebat. Dalam 10 tahun ketika kita nanti melihat ke belakang, dia akan menjadi legenda Liverpool,” tutur Klopp.
"Tapi dia terlalu muda untuk dilihat sebagai legenda sekarang, jadi dia harus terus bermain,” pungkasnya.
Origi akan mendapatkan status itu. Ia dikenal di klub karena sifatnya yang santai, hal yang mungkin akan membantu menjelaskan kemampuannya untuk memberikan hasil di pertandingan terbesar.
Tapi dia tahu bahwa ini mungkin jadi kesempatan terakhirnya di Liverpool. Maklum, kontraknya kelar pada Juli 2022 alias akhir musim ini.


