Keinginan eks striker Manchester United Dimitor Berbatov mendongkel mantan kiper Reading Borislav Mihaylov dari kursi presiden federasi sepakbola Bulgaria (BFU) menemui kegagalan setelah kalah dalam pemungutan suara di Sofia, Selasa (12/10).
Berbatov menjadi kandidat kuat untuk menggusur Mihaylov yang telah menduduki kursi presiden BFU selama 16 tahun, dan diharapkan bisa membawa perubahan radikal di tubuh BFU. Ia juga mendapat dukungan dari Stiliyan Petrov and Martin Petrov.
Namun dalam kongres di Sofia, Mihaylov berhasil mempertahankan jabatannya setelah mendapat lebih dari 50 persen suara, dan bakal memimpin BFU selama empat tahun ke depan. Mihaylov memperoleh dukungan 241 suara, sedangkan Berbatov mendapatkan 230. Delapan suara lainnya dikumpulkan Hristo Portochanov.
“Klub-klub sepakbola Bulgaria memilih kembali Borislav Mihaylov sebagai presiden untuk empat tahun ke depan,” demikian pernyataan federasi melalui laman resmi mereka.
“Di depan mata semua warga Bulgaria dan semua yang hadir di gedung, perwakilan klub memberikan dukungan mereka untuk Mihaylov melalui pemungutan suara yang berjalan secara terbuka, transparansi dan demokrasi.”
Berbatov merasa tidak puas dengan keputusan itu. Menurut pria berusia 40 tahun ini, pemilihan suara seharusnya berlangsung dua putaran, karena tidak ada satupun yang mampu meraih 50 persen suara.
“Klub saya, Blagoevgrad, tidak diizinkan [untuk hadir] tanpa alasan jelas. Tapi ada pelanggaran yang akan coba kami buktikan,” cetus Berbatov dikutip laman 24 Chasa.
“Sebelumnya disebutkan ada 483 delegasi yang hadir, dan dibutuhkan 242 suara untuk terpilih. Bahkan itu tertulis di transkrip. Mereka (kubu Mihaylov) hanya mendapatkan 241 suara, berarti kurang satu suara.”
“Aturan tentang kongres ada di statuta, tapi mereka tidak mengikutinya. Dalam hal ini, kami jadi dirugikan. Kami akan berusaha mendapatkan hak kami, kami tidak akan menyerah.”
“Kami tidak ingin terlihat seperti orang yang tidak bisa menerima kekalahan, tapi kekalahan ini tidak sesuai dengan aturan, karena ada pelanggaran statuta. Ini menjadi masalah utama transparansi.”
