Tragedi Kanjuruhan meninggalkan rasa trauma untuk ketua umum PSSI Mochamad Iriawan. Hal tersebut disampaikan sekjen federasi sepakbola Indonesia Yunus Nusi.
132 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mendapat perawatan di rumah sakit dalam tragedi Kanjuruhan yang terjadi, Sabtu (1/10). Insiden nahas tersebut menjadi sejarah kelam sepakbola Tanah Air.
Akibatnya, desakan Iriawan untuk mundur dari PSSI mengalir deras. Pria yang karib disapa Iwan Bule tersebut diminta melepaskan jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab di tragedi Kanjuruhan.
"Iya [trauma]. Beliau itu kan dalam keadaan yang seperti ini sebagai ketua umum federasi, lalu kemudian beliau di sana (Malang) selama delapan hari berhadapan dengan para korban, keluarga korban," kata Yunus.
Semenjak tragedi Kanjuruhan, sikap Iriawan tampak berubah. Sosok berusia 60 tahun tersebut lebih banyak bungkam dan seolah menghindar dari sorotan awak media.
Padahal, selama ini Iriawan selalu menyempatkan waktu untuk diwawancara awak media. Ia juga tidak lagi aktif dalam menggunakan media sosial miliknya.
"Anda lihat sendiri bagaimana kemudian beliau dirundung, dihabisi di media. Pastilah sebagai seorang manusia ada lah enggak enaknya sama beliau. Terkadang beliau juga berpikirnya ke sana," ucapnya.
Sejauh ini, Polri sudah menetapkan enam tersangka dalam tragedi Kanjuruhan. Satu di antaranya adalah direktur utama PT Liga Indonesia Baru (LIB) Akhmad Hadian Lukita.


