Tanpa gembar-gembor di media, Como 1907 resmi diakuisisi oleh SENT Entertainment, perusahaan media dan hiburan yang berada di bawah kendali grup Djarum, salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia.
Pembelian klub Serie C Italia tersebut sebetulnya sudah terjadi pada April lalu. Calcio E Finanza mencatat, SENT secara resmi berbasis di London, tapi kontrol perusahaan ada di tangan Djarum, yang dimiliki oleh orang terkaya Indonesia, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono. Kekayaan kolektif keduanya ditaksir mencapai $35 miliar (sekitar Rp500 triliun).
Akuisisi Como tersebut lalu dikonfirmasi oleh sutradara Mirwan Suwarso di sela-sela perkenalan film dokumenter "The American: Como 1907". Film dokumenter yang mengisahkan perjalanan Como itu masih dalam proses syuting dan akan ditayangkan Mola TV, yang juga merupakan salah satu anak usaha milik Djarum.
"Kami beli enggak sampai Rp5 miliar. Istilahnya, kami menebus di pegadaian," kata Mirwan di Jakarta Selatan, Kamis (17/10).
Mirwan lalu menceritakan permasalahan yang terjadi di Como, mulai dari kondisi Stadion Giuseppe Sinigaglia yang tidak layak hingga sempat tidak punya pemain untuk mengarungi musim 2019/20. "Jadi, kami seperti mengambil aset tak terurus dan kami poles lagi," terangnya.
Nantinya, tempat latihan Como akan dimanfaatkan sebagai rumah bagi Garuda Select, program akselerasi pengembangan pemain muda Indonesia hasil kolaborasi PSSI dan Djarum. Program ini sudah mengirim dua angkatan ke Inggris selama beberapa bulan terakhir
Lebih lanjut, dalam wawancara dengan Football Italia pada April lalu, Michael Gandler dari SENT menjelaskan bahwa rencana pengembangan Como ini tidak akan jor-joran seperti Manchester City atau Paris Saint-Germain.
Menurutnya, Como akan dibangun untuk jangka panjang, berfokus pada pengembangan talenta lokal dan wadah ideal bagi klub-klub besar untuk meminjamkan pemainnya. "Como akan menjadi tempat di mana klub-klub bangga meminjamkan pemainnya," terang Gandler.


