Matthijs de Ligt angkat suara soal beberapa kejadian handball ketika menjalani awal kariernya bersama Juventus musim ini.
Bek muda Belanda tersebut didatangkan Bianconeri dari Ajax dengan banderol mewah sebesar €75 juta pada awal musim 2019/20, namun tidak langsung menjawab ekspektasi besar yang dibebankan kepadanya.
Dalam beberapa kesempatan, pemain 20 tahun tersebut justru menjadi titik lemah Juventus dengan menghadirkan penalti bagi lawan karena bola menyentuh tangannya.
Meski begitu, perlahan reputasinya sebagai bek yang gemar handball mulai pudar setelah seiring berjalannya waktu De Ligt mampu beradaptasi dengan sistem permainan arahan pelatih Maurizio Sarri.
"Satu-satunya hal yang yang sulit di awal adalah telah adanya banyak sorotan kepada saya. Dalam laga kedua, saya mencetak gol bunuh diri," katanya dalam sebuah wawancara di YouTube bersama kanal Foot Truck.
"Lalu ada tekanan yang lebih besar lagi, namun saya tahu dalam latihan saya merasa baik. Dalam pertandingan masih ada sedikit adaptasi. Pada awalnya itu sulit, tapi langkah demi langkah saya membaik."
"Pertama-tama saya terlambat bergabung karena ada masalah antara Ajax dan Juventus."
"Saya langsung pergi ke Asia dan bahkan tidak mengikuti latihan sekali pun. Saya harus bermain dua hari kemudian, melawan Tottenham [Hotspur], dan setelah 20 menit saya sulit bernapas," lanjutnya.
"Juga kami lebih banyak bermain menjaga zona dan saya awalnya terbiasa menjaga satu lawan satu. Saya harus membiasakan diri dengan itu, kapan harus menekan dan kapan harus bergerak mundur, jadi ada sedikit perbedaan. Saya adalah pemain yang ingin menang dan menjadi contoh bagi yang lain."
"Saya ingat saat pergi ke kamar mandi dan orang-orang berkata itu [handball] tidak bisa dipercaya. Seperti ada magnet di tangan saya!"
"Situasi terbaik untuk menjelaskan nasib sial saya adalah penalti yang saya hadirkan untuk Jerman. Bola jatuh, saya menengok ke atas dan tiba-tiba bola menyentuh tangan saya."
"Ketika saya tahu saya melakukan kesalahan atau handball, saya tidak gampang marah ketika orang mengatakan sesuatu tentang itu. Saya justru suka membuat lelucon tentang itu."


